Pemdes Tegalmulyo Klaten Dibantu Paranormal untuk Atasi Kekeringan

Embung Tirta Mulya menjadi tempat penampungan air di Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, Minggu (1/9/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
03 September 2019 07:17 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN -- Pemerintah Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, terus berusaha mencari sumber air tanah untuk mengatasi krisis air bersih yang selalu melanda setiap kemarau.

Seperti yang dilakukan sekitar enam bulan lalu. Dari hasil penelusuran, ditemukan potensi sumber air tanah di Dukuh Brajan. 

“Ada potensi di kedalaman 150 meter. Namun, belum diketahui berapa besar debit airnya. Untuk mengangkat airnya itu butuh biaya hingga Rp125 juta. Penyambungannya melalui program Pamsimas,” kata Kepala Desa (Kades) Tegalmulyo, Sutarno, saat berbincang dengan JIBI/Solopos, Senin (2/9/2019). 

Pencarian potensi sumber air tanah itu melalui survei geolistrik. Pemdes menggandeng pihak ketiga untuk mencari sumber air tanah itu. Selain itu, pencarian sumber air tanah dibantu seorang paranormal. 

“Ada seorang paranormal dari Jawa Timur yang membantu. Dia datang sendiri. Kebetulan dia memiliki teman dari wilayah Brajan kemudian secara sukarela menawarkan diri membantu mencari sumber air tanah,” ungkap Sutarno.

Saat proses pencarian sumber air bersih, paranormal tersebut menggunakan peralatan seperti ember, alang-alang, serta air. 

“Alang-alang itu diletakkan di permukaan air kemudian berputar-putar sendiri. Saat berhenti, alang-alang menunjuk arah tertentu. Arahnya sama dengan lokasi ditemukan potensi sumber air tanah dengan geolistrik,” kata dia.

Sutarno tak tahu persis kebenaran metode yang digunakan paranormal itu. Dia juga tak mempersoalkan ada paranormal yang ikut membantu. Paranormal itu secara sukarela membantu warga untuk mencari solusi permanen atas krisis air bersih yang melanda saban kemarau tiba.

Sutarno menjelaskan perburuan sumber air tanah sudah dilakukan sejak 2008 silam. Dari hasil perburuan itu sudah didapatkan empat sumber air tanah masing-masing berada di wilayah Sapuangin, Kali Jero Omah, Kali Gantol, dan Kali Krasak. 

Keempat sumber air tanah itu sudah diangkat dan disalurkan ke rumah warga melalui program Pamsimas. “Namun, debit dari sumber-sumber itu kecil sehingga tidak bisa menjangkau seluruh warga,” jelas dia.

Dari sekitar 753 keluarga, Sutarno mengatakan masih ada sekitar 500 keluarga di Tegalmulyo mengalami krisis air bersih saat kemarau tiba. Warga pun harus membeli air bersih saat kemarau tiba. 

“Memang ada embung. Tetapi airnya digunakan untuk kebutuhan seperti pakan ternak atau menyiram tanaman. Sementara untuk konsumsi warga harus membeli. Rata-rata Rp250.000/tangki dan itu biasanya habis dalam dua pekan. Kondisi itu sudah terjadi empat bulan terakhir,” urai dia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD Klaten,  Tegalmulyo menjadi salah satu daerah yang mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Klaten. Selain Tegalmulyo, desa lainnya di Kemalang yang mendapatkan bantuan air bersih yakni Kendalsari, Balerante, Tlogowatu, dan Sidorejo.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan saban hari Senin-Jumat petugas BPBD mengirim bantuan air ke daerah-daerah krisis air bersih. 

Tak hanya Kemalang, penyaluran bantuan itu menyasar desa di kecamatan lainnya seperti wilayah Jatinom atau Bayat yang sebagian mengalami krisis air bersih. 

Haris mengatakan selain menyalurkan bantuan yang dibiayai dari APBD, petugas juga bisa membantu penyaluran air bersih dari kalangan swasta. 

“Yang perlu digarisbawahi BPBD tidak jualan air. Jadi ketika ada donatur yang ingin menyalurkan bantuan air bersih meminta tolong personel BPBD. Selain itu, pelayanan menyalurkan air bersih dari swasta itu hanya bisa dilakukan pada Sabtu atau Minggu,” kata dia. 

Sumber : JIBI/Solopos