Advertisement
Boeing Terkena Dampak Perang Dagang AS-China
Ilustrasi - Petugas Kepolisian Ethiopia berjalan melewati puing-puing pesawat Ethiopian Airlines Nomor ET 302, Kota Bishoftu, dekat Addis Ababa, Ethiopia, (12/3/2019). - Bisnis/REUTERS/Baz Ratner
Advertisement
Hariajogja.com, JAKARTA—Pabrik pesawat terbang AS, Boeing Co menyatakan bahwa pesanan pesawat dari China bergantung pada kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang dagang selama setahun terakhir antara dua ekonomi terbesar dunia.
Berbicara kepada Reuters di pabrik pesawat berbadan lebar pembuat pesawat terbang di Everett, CEO Boeing, Dennis Muilenburg memperingatkan bahwa "sulit untuk memprediksi" kapan kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan Cina tercapai.
Advertisement
"Ini sangat menantang," kata Muilenburg seperti dikutip Reuters, Rabu (28/8).
Akan tetapi dia mengatakan pada akhirnya kedua pihak akan menemukan solusi karena kepentingan bersama, dan Boeing akan menjadi bagian dari solusi akhir itu.
BACA JUGA
"Kami berharap bahwa jika ada solusi perdagangan, maka hal itu akan bermanfaat bagi pesanan pesawat," katanya. Dia menambahkan bahwa industri kedirgantaraan yang sehat menguntungkan kedua negara.
Boeing yang berbasis di Chicago menyebut dirinya eksportir terbaik AS dan telah mengirimkan lebih dari satu dari setiap empat pesawat yang dibuat tahun lalu kepada pelanggan di China. Dia memperkirakan ada permintaan untuk 7.700 pesawat baru selama 20 tahun ke depan senilai US$1,2 triliun.
Akan tetapi akibat perang dagang AS dengan China, yang akan menyalip Amerika Serikat sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia dalam dekade berikutnya, telah memperlambat ekonomi global dan memaksa Boeing untuk menjalani tatanan geopolitik selama lebih dari satu tahun.
Di satu sisi, Boeing telah meningkatkan jejak industrinya di China karena berupaya untuk meningkatkan penjualannya di atas Airbus SE Eropa di Asia. Di sisi lain, eksekutif bersusah payah untuk menghindari bentrok dengan Presiden Donald Trump yang telah berulang kali mengatakan Amerika Serikat harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi pekerjaan dan teknologi Amerika Serikat.
Para analis mengatakan China memperlambat pemesanan pesawat baik dari Boeing dan Airbus SE Eropa karena ekonominya goyah dan menunda keputusan pengadaan pesawat dalam jumlah besar karena menunggu hasil perselisihan dengan Amerika Serikat.
"Sulit untuk memprediksi apakah kesepakatan dagang akan tercapai," kata Muilenburg. China tidak memesan pesawat selama setahun terakhir, katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kecelakaan KA Bekasi Timur, Pemprov Jabar Tanggung Biaya Korban
- Seskab: Taksi Green SM Dievaluasi, Flyover Disiapkan
- Kereta Tak Bisa Berhenti Mendadak Pelajaran Mahal dari Tragedi Bekas
- RS Polri Buka Posko, Proses Identifikasi 14 Jenazah Tabrakan Kereta
- Simak Prosedur dan Batas Waktu Klaim Santunan Kecelakaan Kereta
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- UGM Gelar CITIEA 2026, Sinergi Vokasi RI-Tiongkok
- DPRD DIY Ajak Warga Ponjong Disiplin Kelola Sampah dari Rumah
- GoSend Perkuat Standar Keamanan dengan Hadirkan Kode Terima Paket
- Update Daftar 15 Nama Korban MD Kecelakaan KA di Bekasi Timur
- Prediksi Arema vs Persebaya: Agresif vs Pragmatis
- Bedah Buku Parenting di Bantul, Dorong Literasi dan Pola Asuh Anak
- Ini Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Selasa 28 April 2026
Advertisement
Advertisement









