Gunung Sinabung Erupsi, 21 Penerbangan Kualanamu Dibatalkan
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.
Poster anti rasisme warga Papua./dok
Harianjogja.com, JAKARTA- Kasus ungkapan rasis terhadap warga Papua di Jawa Timur berujung protes besar-besaran.
Sebuah foto warga Papua memegang poster bertuliskan "Kalau kami monyet jangan paksa monyet kibarkan Merah Putih" viral di media-media sosial.
Foto tersebut adalah dokumentasi Komite Nasional Papua Barat, saat warga Papua menggelar aksi damai memprotes persekusi berupa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (16/8/2019) pekan lalu yang disertai umpatan rasialisme.
Tindakan rasisme yang dilakukan sekelompok oknum berbuntut dengan aksi pengecaman dari warga Papua dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Aksi tesebut kini ramai dibicarakan di media sosial. Warga Papua mengutuk serangan dan tindakan represif yang dilakukan ormas serta aparat TNI/Polri di Malang, Surabaya dan Semarang.
Bagi mereka persekusi dan tindakan tersebut merupakan sebuah bentuk pelecehan yang harus dilawan. Sebagai tindak lanjut, mereka akan menggelar aksi kecam di berbagai daerah.
"Kita tidak bisa diam. Bila kasus ini dibiarkan, mereka kasih peluru dan kita akan lawan kolonial itu. Besok akan ada aksi di Jayapura, Timika dan beberapa tempat lainnya," ungkap Agus Kossay, Ketua Umum KNPB kepada Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Senin (19/8/2019).
Kosay menilai, aksi kekerasan dan yel-yel rasisme adalah tindakan kolonialisme yang merendahkan martabat warga Papua.
“Kolonialisme yang mereka lakukan telah melecehkan martabat manusia Papua. Karena mereka stigmakan kami orang Papua monyet berarti mereka merendahkan, melecehkan dan menjatuhkan martabat Papua itu sendiri,” ujarnya.
Mereka menganggap tudingan pembuangan bendera yang tidak terbukti adalah sebuah bentuk pengusiran bagi warga Papua di berbagai kota. Untuk itu mereka akan melakukan balasan setimpal.
"Mereka tidak memastikan warga Papua yang melakukan atau tidak. Kita akan kasih tahu sikap kepada Pemerintah Surabaya, Semarang dan Malang bahwa mereka ingin memulangkan mahasiwa Papua yang disebut monyet. Maka rakyat Papua akan memulangkan rakyat Indonesia di Papua," kata Kossay.
Di lain pihak persekusi dan tindakan represif dinilai bukan hal baru Aliansi Mahasiswa Papua. Pihaknya menyebut serangan tersebut adalah bentuk penjahahan.
"Serangkaian tindakan rasisme, pelemparan batu, gas air mata dan penangkapan itu sudah sejak lama. Begitu pula sebutan monyet. Itu adalah kolonialisme sebagai kedok penjajah untuk mempertahankan daerah kekuasaannya," kata Doli wakil dari Aliansi Mahasiswa Papua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.
Dua pria asal Bandung ditangkap setelah diduga membobol rumah di Bantul. Uang asing hasil curian diakui ludes untuk judi online.
Agenda KHFF 2026 diperkenalkan kepada publik melalui Taklimat Media KHFF 2026 yang digelar pada 10 September 2026 di The Prajan Hotel & Villas, Yogyakarta.
Gus Kikin menyoroti integritas setelah ratusan santri di Sidoarjo diduga keracunan MBG dan mendorong evaluasi tata kelola program.
Jenazah Wili Mbuik, ASN korban penembakan di Muliama, Jayawijaya, dievakuasi ke Jayapura sebelum diterbangkan ke Kupang.
Perbaikan jalan rusak di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Candirejo, Semin mulai dikerjakan, meski belum menyasar ke seluruh ruas yang mengalami kerusakan.