Rezza Kalah dari Pemanah Korea Selatan, Indonesia Gagal Raih Medali Asian Games
Rezza Octavia tersingkir di 16 besar Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia kembali tanpa medali recurve individu putri.
Ilustrasi Pancasila/JIBI
Harianjogja.com, JOGJA -Pengertian Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia dijelaskan secara sederhana agar mudah dipahami dan diamalkan masyarakat pada umumnya. Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono di Jogja.
"Bahwa untuk kepentingan praktis dan masyarakat pada umumnya itu seyogyanya memang Pancasila perlu disampaikan secara sederhana," kata Hariyono ditemui disela Konggres Pancasila XI di Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (15/8/2019).
Hariyono sendiri menjadi salah satu dari beberapa pembicara dalam diskusi panel dengan tema \'Dinamika Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa Dalam Mempertahankan Identitas Nasional\' pada Konggres Pancasila XI yang diselenggarakan UGM pada 15 dan 16 Agustus 2019.
"Kami pun di BPIP juga sudah sedang membuat konsep-konsep itu dan bahkan mempraktikkan yang salah satu diantaranya untuk pengembangan Pancasila itu langsung praktik riil tidak usah ngomong teori," katanya.
Meski demikian, kata dia, pada saat yang bersamaan ketika berbicara mengenai aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa di kampus-kampus maupun perguruan tinggi di negara ini tetap tidak melupakan teori.
"Dua-duanya (teori dan praktik) penting, karena tidak ada peradaban yang bisa maju kalau tidak berbasis pada teori itu. Dan kelemahan kita selama ini orang Pancasila dalam menjelaskan kepada publik itu terlalu filosofis, sehingga masyarakat umum justru nggak ngerti Pancasila," katanya.
Tetapi, lanjut dia, kalau menjelaskan tentang Pancasila di kampus memang butuh teori, sehingga yang ditekankan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembukaan Kongres tersebut bahwa untuk masyarakat umum supaya Pancasila dijelaskan dengan cara-cara yang mudah dimengerti rakyat.
"Dan apa yang dikatakan oleh Pak Jusuf Kalla itu pernah disampaikan oleh Bung Karno ketika Bung Karno membaca tulisannya Profesor Doktor Notonegoro yang banyak isitilah filsafat yang susah dimengerti oleh rakyat, cuma kalau di kampus perlu landasan filsafat, sehingga dua-duanya penting," katanya.
Hariyono juga mengatakan, dan apa yang disampaikan Prof Amin Abdulah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang saintifikasi atau pembelajaran dengan pendekatan itu penting untuk membangun etos dan logos, akan tetapi menurutnya mitos juga diperlukan.
"Karena untuk masyarakat umum atau awam itu perlu mitos bahwa negara jaya seperti apa, ini yang kita ingin mencoba bagaimana Pancasila itu bisa dikaji dan dikembangkan sesuai dengan konteks komunikasi masing-masing," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : antara
Rezza Octavia tersingkir di 16 besar Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia kembali tanpa medali recurve individu putri.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.
SPP-TDLN mulai memungut PPN transaksi digital luar negeri sejak 25 September 2026 dengan melibatkan perbankan dan fintech.
El Nino diperkirakan berdampak hingga 2027. Pemerintah diminta memperkuat mitigasi untuk menjaga produksi dan harga pangan.
Pemerintah masih menunggu usulan DPR soal presidential threshold dalam revisi UU Pemilu sebelum menentukan sikap terkait aturan pencalonan presiden.