Jemaah Palestina Diserang Militer Israel saat Rayakan Iduladha di Masjid Al Aqsa

Pasukan Israel menangkap seorang perempuan Palestina pengunjuk rasa dalam sebuah protes menuntut Israel membebaskan remaja Palestina bernama Ahed Tamimi, dekat Penjara Ofer Israel dekat kota Ramallah Tepi Barat, Kamis (28/12/2017). - REUTERS/Mohamad Torokman
12 Agustus 2019 13:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Jemaah warga palestina menjadi sasaran militer Israel saat merayakan Iduladha di Masjid Al Aqsa.

Polisi Israel menembakkan gas air mata, peluru karet, dan granat untuk membersihkan jemaah Palestina dari kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur.

Seperti dikutip SUARA.com dari laman situs Al Jazeera, ribuan warga Palestina saat itu berkumpul di masjid untuk hari pertama perayaan Idul Adha, Minggu (11/8/2019).

Hari itu bertepatan dengan hari libur Yahudi Tisha B'Av. Di hari itu, biasanya terjadi peningkatan pengunjung Yahudi ke situs suci.

Sejumlah besar warga Palestina telah berkumpul di gerbang kompleks setelah laporan bahwa polisi hanya mengizinkan pengunjung Yahudi untuk memasuki situs.

Menghadapi blokade polisi di kompleks situs tersebut, warga Palestina berteriak lantang: "Dengan jiwa dan darah kami, kami akan menebus Anda, Aqsa."

The Red Crescent melaporkan 61 orang Palestina terluka, 15 di antaranya dibawa ke rumah sakit.

Orang Yahudi dilarang berdoa di kompleks itu di bawah pengaturan lama antara Israel dan otoritas Muslim.

Dalam beberapa tahun terakhir, nasionalis agama Israel telah meningkatkan kunjungan ke situs tersebut untuk menentang pengaturan itu.

Sementara Palestina memandangnya sebagai sebuah provokasi dan takut Israel bermaksud mengambil alih situs tersebut.

Israel memandang semua Yerusalem sebagai ibu kota kesatuannya, sementara Palestina menginginkan Yerusalem Timur yang diduduki sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Dilansir dari East Jerusalem, Harry Fawcett dari Al Jazeera mengatakan ketegangan di situs itu meningkat untuk beberapa waktu.

"Gerbang itu dibuka, tetapi tidak ada non-Muslim yang diizinkan masuk. Ada kebuntuan besar ini dan kemudian kami melihat pasukan keamanan bergerak untuk membersihkan kebuntuan itu," kata Fawcett.

"Saat itulah kami melihat polisi menggunakan peluru karet, gas air mata dan granat suara."

Fawcett mengatakan, "ada gerakan politik besar dari sayap kanan dalam politik Israel untuk mendapatkan lebih banyak akses ke daerah itu, dan berpotensi untuk berdoa di sana di masa depan. Itulah yang ada di balik ketegangan," kata Fawcett.

Setelah relatif tenang kembali dan mengikuti kritik dari politisi sayap kanan Israel, polisi kemudian membuka situs untuk kunjungan Yahudi, memicu bentrokan lebih lanjut.

"Ini masjid kami, ini Idul Adha kami," kata Assisa Abu Sneineh, 32 tahun, menambahkan ia ada di sana ketika bentrokan meletus.

"Tiba-tiba [pasukan keamanan] tiba dan mulai memukul dan menembakkan granat suara."

Sekitar 1.300 orang Yahudi mengunjungi situs tersebut pada hari Minggu, menurut organisasi Wakaf Muslim, yang mengelola kompleks suci tersebut.

Ali Abunimah, salah satu pendiri Electronic Intifada, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ketegangan bisa dicegah oleh Israel dengan tidak mengizinkan, 'ekstremis agama yang terkait dengan apa yang disebut Gerakan Kuil' pergi ke Al-Aqsa pada hari ketika orang-orang Palestina merayakan Idul Adha.

Abunimah menambahkan bahwa pada hari libur Yahudi, Israel memberlakukan penutupan total pada Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza, melarang jutaan warga Palestina untuk pindah, memasuki Yerusalem atau mengunjungi situs suci mereka, "yang seharusnya untuk melindungi orang Yahudi selama liburan keagamaan".

"Tetapi pada Idul Adha, Israel telah melakukan yang sebaliknya yaitu membiarkan ekstrimis agama pergi ke Al-Aqsa dengan tujuan memprovokasi umat Islam dan saya pikir itu harus sangat jelas karena ini bukan hanya penyembah Yahudi yang saleh yang ingin pergi dan berdoa di situs suci," kata Abunimah.

"Ini adalah provokasi terorganisir dari Gerakan Kuil, yang didanai oleh pemerintah Israel, dan yang secara eksplisit menyatakan tujuannya adalah penghancuran masjid Al Aqsa dan penggantiannya dengan kuil Yahudi."

Tindakan Agresi

Jordan, penjaga situs itu dan satu dari hanya dua negara Arab dengan perjanjian damai dengan Israel, mengutuk "pelanggaran terus menerus" Israel di sana.

Hanan Ashrawi, seorang pejabat senior di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), menuduh Israel memprovokasi ketegangan agama dan politik.

"Penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh pasukan pendudukan Israel pagi ini adalah tindakan kecerobohan dan agresi," katanya dalam sebuah pernyataan.

Kompleks ini terletak di bagian dari Yerusalem Timur yang diduduki oleh Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dalam suatu langkah yang belum mendapat pengakuan internasional.

Sumber : Suara.com