Promosikan Wisata Budaya, Disbud Bantul Gelar Lawatan Sejarah

27 Juli 2019 00:17 WIB Ujang Hasanudin News Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Kebudayaan Bantul kembali melanjutkan program lawatan sejarah sebagai bagian dari promosi destinasi wisata budaya dan sejarah di Bantul. Kegiatan yang dibiayai dana keistimewaan itu menyasar pelajar, guru sejarah, dan sejumlah komunitas yang ada di Bantul. Harapannya semua destinasi wisata budaya di Bantul dapat dikenal oleh masyarakat luas dan banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Kepala Bidang Sejarah, Sastra, Dan Bahasa Disbud Bantul, Dahroni lawatan sejarah yang digelar selama Juli ini diikuti sebanyak 300 peserta yang sudah berlangsung sejak Selasa (23/7/2019) hingga Kamis (25/7/2019). Mereka diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti Makam Syeh Maulana Magribi dan Cepuri Parangkusumo di Parangtritis. Dua lokasi tersebut menjadi salah satu objek para peziarah dari berbagai daerah pada hari-hari tertentu seperti Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.

Selain itu mengunjungi musem Pleret, Kampung Batik Imogiri, Komplek Makam Raja-raja Mataram Kotagede dan kampung kerajinan keris di Semurup, Imogiri. Dahroni mengatakan sejarah lokal Bantul penting dikenalkan karena jarang sekali dipelajari di sekolah-sekolah, “Banyak juga guru sejarah yang baru tahu sejarah sebenarnya dari tempat-tempat yang dikunjungi,” kata Dahroni, saat pelepasan peserta lawatan sejarah gelombang ketiga di Dinas Kebudayaan Bantul, Kamis (25/7/2019).

Dahroni mengatakan lawatan sejarah sudah pernah digelar tahun lalu dengan menaysar pelajar dan guru di bawah naungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), namun mendapat tanggapan positif dari sejumlah pihak sehingga tahun ini kembali digelar. Bahkan tahun ini rencananya akan ditambah sasarannya ke pelajar dan guru madrasah di bawah Kementerian Agama. 

Ia berharap sejumlah komunitas yang ikut lawatan sejarah dapat menginformasikan kembali hasil kunjungannya kepada masyarakat luas. Sebab selama ini diakuinya banyak siswa yang studi banding ke berbagai daerah, namun tempat-tempat bersejarah di daerahnya sendiri tidak mengenalnya. “Sebelum belajar sejarah di luar, sejarah di daerah sendiri harus tahu dulu,” ujar Dahroni.

Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Nugroho Eko Setyanto mengatakan lawatan sejarah tahun ini merupakan kelanjutan lawatan sejarah tahun lalu sebagai bagian dari upaya mengenalkan tempat-tempat wisata budaya dan sejarah agar diketahui banyak orang. Selain dengan lawatan ,untuk mengenlkan tempat bersejaah juga dilakukan melalui penyusunan buku yang mengulas tiap lokasi berjejarah di Bantul.

Dalam catatan Dinas Kebudayaan Bantul total cagar budaya di Bantul sebanyak sekitar 51 titik, dan 32 titik di antaranya berupa bangunan. Sementara sisanya adalah dalam bentuk arca dan Lingga Yoni.