Dari Panggung, Shaggydog Bebaskan Penghuni Lapas Wirogunan dari Kebosanan

Konser Shaggydog di Lapas Wirogunan, Kota Jogja, Senin (3/6/2019). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
03 Juni 2019 23:02 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tak seperti perayaan Ramadan tahun lalu, kini penghuni terungku di Lapas Wirogunan dapat merasakan perenungan dan pesta dalam satu waktu berkat penampilan Shaggydog dan ceramah Gus Mustafid, Senin (3/6/2019). Acara ini dijadikan ajang melepas beban hati para warga binaan sekaligus menjadi penghiburan di tengah hari-hari monoton mereka. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Salsabila Annisa Azmi.

Ronny K, 35, bergabung bersama ratusan kawan-kawannya sesama warga binaan Lapas Wirogunan II A untuk berjoget di depan panggung tempat Shaggydog melantunkan Pesta. Sesaat kemudian, Ronny memisahkan diri dan menari solo dengan gesit, meski masih mengenakan sarung dan memegangi peci di kepalanya agar tidak jatuh ke tanah.

Ronny kemudian menarik kawan-kawannya yang masih duduk bersila di gelaran tikar untuk ikut berjoget bersamanya. Beberapa dari mereka mengangkat sarung tinggi-tinggi, memperlihatkan celana senam kemudian menggerak-gerakkan tungkai dan kepala mengikuti irama lagu. Tato-tato di tangan terlihat saat baju koko dilipat.

Di sela-sela dentum drum yang digebung Yoyo Shaggydog, Ronny yang sore hari itu mengenakan baju koko putih dan peci cokelat menyapa Harian Jogja dengan antusias.

“Senang banget kami seperti ini, beneran, bayangin aja dikurung setahun, selama ini bosan sih,” kata Ronny setengah berteriak mencoba mengalahkan riuhnya suara berbagai alat musik di panggung.

Ronny masuk sebagai tahanan Lapas Wirogunan kelas II A dua tahun yang lalu karena tertangkap nyolong. Dia tak menjelaskan barang apa yang dicurinya. Namun dia menyesal. Sebab barang yang dia ambil dianggap tak sebanding dengan rasa bosan selama ada di dalam lapas.

Ronny sempat depresi pada bulan-bulan awal dia ditahan karena belum terbiasa dengan jadwal dan aturan yang ketat di dalam lapas. Seiring dengan berjalannya waktu, Ronny terbiasa. Namun rasa jenus kerap menyelimuti hingga dia menjadi sedih tanpa sebab.

Nyesel nyolong, di sini belum betah, pengin pulang tapi enggak bisa langsung bebas. Mau enggak mau harus menyesuaikan diri. Setiap hari, meski banyak teman senasib, beginilah kami, harus menjalani aturan ketat dan monoton. Kadang kami stres saking bosannya. Acara semacam ini jadi penyegaran buat kami,” kata Ronny sambil tertawa kecil.

Ronny cukup dibuat girang dengan hiburan yang diadakan petugas lapas pada pengujung Ramadan kali ini. Berbeda dari tahun sebelumnya ketika Ronny hanya merasakan perenungan melalui pengajian, kali ini dia juga dapat merenung sekaligus berpesta bersama Shaggydog untuk melepas penatnya.

“Ini kayak perenungan dan pesta dalam satu hari. Penceramahnya juga Gus Miftah, cocok dengan selera kami, saya aja ngakak terus dan nerima maksudnya, tidak merasa dihakimi gitu,” kata Ronny.

Sebelumnya berjoget bersama, ratusan warga binaan yang mengenakan baju koko terbaik mereka duduk bersila dengan tertib mendengarkan ceramah Gus Miftah yang sore itu tampil keren dengan celana jogger dan kacamata hitamnya. Gus Miftah membawa pesan agar pengendalian diri saat Ramadan kali ini diimplementasikan dalam kehidupan warga binaan.

“Manusia adalah makhluk yang memiliki semua sifat dari makhluk Allah. Bisa baik seperti malaikat, bisa buruk seperti setan, bisa nafsu seperti hewan. Semuanya harus seimbang. Saudara sekalian harus punya gas dan rem, soalnya kalau nafsu terus nanti kayak asu, buruk terus kayak setan,” kelakar Gus Miftah.

Orang-orang menyambut kalimat itu dengan gelak tawa.

Perenungan sekaligus pesta ini telah direncanakan Kepala Lapas Wirogunan Jogja, Satriyo Waluyo, sejak satu bulan lalu. Satriyo sangat gembira dan langsung menyanggupi niat Shaggydog yang ingin merayakan hari ulang tahun (HUT) Ke-22 mereka dengan berbagi bersama warga binaan. Agar seimbang antara perenungan dan pesta, acara pengajian dimulai terlebih dahulu sebelum Shaggydog manggung.

“Jujur saja mereka setiap hari sudah menjalani jadwal yang monoton, mereka bosan dan stres. Acara ini juga sekaligus untuk menurunkan tensi ketegangan. Ini pertama kalinya buat mereka, jadi pasti menyenangkan sekali,” kata Satriyo.

Basis Shaggydog, Bandizt, menyadari betul keterbatasan warga binaan untuk mengakses hiburan.

“Kami ingin berpesta sambil berbagi kebahagiaan di ulang tahun kami. Selain manggung, kami juga memberikan bantuan alat mandi dan alat musik untuk hiburan,” kata Bandizt.