Sudah 2 Kali Zukhas Bertemu Jokowi, Ingin Minta Jatah Strategis untuk Kadernya?

Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Wapres Jusuf Kalla (tengah) dan Ketua MPR Zulkifli Hasan ketika menghadiri buka puasa bersama pimpinan lembaga tinggi negara di Rumah Dinas Ketua MPR di kawasan Widya Chandra Jakarta, Jumat (10/5/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
11 Mei 2019 08:07 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) menggelar buka bersama  dengan Presiden Joko Widodo di rumah dinas MPR, kompleks Widya Chandra, Jakarta, Jumat (10/5/2019). Tercatat telah ada dua pertemuan resmi antara Jokowi dan  Zulhas.

Bisik-bisik terkait masa depan partai berlambang matahari yang dipimpin Zulhas ini pun menjadi menarik untuk disimak lagi.

Sebelumnya, PAN disebut-sebut akan loncat dari koalisi Prabowo-Sandi ke kubu Jokowi-Ma'ruf yang kemungkinan besar memenangi Pilpres 2019. Gosip itu muncul selepas pertemuan Zulhas dan Jokowi di Istana Merdeka.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Abdul Kadir Karding mengungkap bahwa bisik-bisik di antara mereka berisi tentang posisi PAN untuk mempertahankan posisi pimpinan MPR RI.

"Itu kan sebenarnya politik di parlemen saja, sih. Jadi nanti tergantung kebijakan politik Pak Jokowi dan parpol koalisi hari ini seperti apa," ujar Karding ketika ditemui di Rumah Aspirasi Jokowi-Ma'ruf, Jumat (10/5/2019). 

Menurut Karding, lobi-lobi politik ini wajar bagi PAN yang sedang mencoba segala kemungkinan menempati posisi strategis menempatkan kadernya sebagai petinggi negara.

Sebab, posisi pimpinan di DPR berpotensi tak terkejar lagi. Regulasi UU no 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3) mewajibkan lima pimpinan DPR diisi parpol sesuai perolehan suara mereka. Kemungkinan kursi tersebut akan direbut PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, dan NasDem.

Jika PAN mengincar kursi MPR, lantas apa untungnya?

Peneliti Politik LIPI Aisah Putri Budiarti menjelaskan PAN termasuk parpol yang masih bergantung pada sosok personal, yaitu masih kuatnya ketokohan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais.

Sebab itulah, membranding tokoh berpengaruh baru, ataupun mencoba mandiri keluar dari pengaruh Amien Rais begitu penfing buat PAN. Dengan begitu PAN sanggup bersaing di Pemilu Legislatif (Pileg) berikutnya.

Seperti diketahui, pada Pemilu 2019 PAN diprediksi mengalami penurunan suara dibandingkan dengan capaian pada Pileg 2014. Jika sebelumnya PAN meraih 7, 59 persen suara, kini diprediksi hanya sekitar 6, 7 persen suara di Pileg 2019.

"Ketika pimpinan partai atau politisi partai menjadi pemimpin MPR, maka akan meningkatkan posisi strategis partai dalam politik, meningkatkan daya tawar politik, prestise partai, dan menjadi modal elektoral mereka untuk pemilu selanjutnya," ujar Putri.

Sumber : bisnis.com