KPU Tegaskan Petugas Pemilu Meninggal karena Diracun adalah Hoaks

Ilustrasi petugas Pemilu membantu mencelupkan jari seorang pemilih di Alor Setar, Malaysia, Rabu (9/5/2019). - Reuters/Lai Seng Sin
11 Mei 2019 05:27 WIB Lalu Rahadian News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - KPU secara tegas menepis rumor petugas penyelenggara Pemilu 2019 meninggal dunia karena diracun. Komisioner KPU Evi Novida Ginting menyebut kabar itu sebagai hoaks.

Jumlah petugas Pemilu 2019 yang meninggal saat bertugas tercatat sebanyak 469 orang. Data itu merupakan update terkini Komisi Pemilihan Umum RI per 10 Mei 2019 pukul 08.00 WIB. Petugas yang jatuh sakit mencapai 4.602 orang. Jika ditotal, petugas yang menjadi meninggal dunia maupun sakit karena menyelenggarakan pemilu mencapai 5.071 orang.

Evi mengatakan hoaks yang tersebar di media sosial sejak beberapa hari terakhir mengenai penyebab meninggalnya petugas penyelenggara Pemilu 2019 karena diracun sangat tidak pantas.

"Apakah ini [hoaks petugas pemilu meninggal] nanti kemudian mau diproses atau tidak, nanti kami bahas. Tentu kami lihat dampaknya dulu secara luas seperti apa. Saya mau minta ampunan saja kepada Allah supaya mereka diampuni yang menyebarkan berita itu," kata Evi di kantornya, Jumat (10/5/2019).

KPU RI juga berpesan pada masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah kabar terkait penyebab meninggalnya petugas pemilu. Menurut Evi, masyarakat harus melakukan konfirmasi sebelum mengambil sikap percaya atau tidak atas sebuah informasi.

Evi juga menyebut telah berkomunikasi dengan keluarga petugas yang jadi korban pemilu. Dia mengatakan, petugas yang meninggal memang umumnya karena kelelahan sebab telah bekerja sebagai petugas KPU pada 17 April 2019, dan harus kembali bekerja di kantornya keesokan hari.

"Itulah yang diceritakan oleh keluarga dari KPPS yang telah mendahului kita," tutur Evi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia