Kisah Hidup Pelaku Bom Sri Lanka: Lulusan Inggris yang Berubah Jadi Radikal

Kaca gereja yang dibom di Colombo, Sri Lanka. - Reuters/Thomas Peter
26 April 2019 21:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KOLOMBO - Keluarga salah satu pelaku teror bom di Sri Lanka berkisah perjalanan hidup pelaku menjadi radikal hingga berujung aksi kekerasan.

Saudara perempuan dari salah satu pengebom bunuh diri Sri Lanka yang mengeyam pendidikan di Inggris dan Australia mengungkapkan bagaimana abangnya menjadi radikal, bahkan memberi ceramah panjang soal agama kepada saudara laki-lakinya karena mereka memotong janggut.

Menyitir Daily Mail, Jumat (26/4/2019) Samsul Hidaya mengatakan bahwa abangnya, Abdul Lathief Jameel Mohamed mendapat pendidikan hingga ke universitas.

"Saudaraku menjadi sangat religius ketika dia berada di Australia," katanya. “Dia baik-baik saja ketika dia pergi belajar ke Inggris, begitu juga waktu pulang.”

Namun saudaranya berubah ketika pergi ke Australia untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana.

“Dia memiliki janggut panjang dan kehilangan selera humor. Dia menjadi orang yang serius dan pendiam, bahkan tidak tersenyum pada siapa pun yang tidak dikenalnya, apalagi tertawa,” kata Hidaya.

Mohamed berusaha meledakkan diri di hotel Taj Samudra yang mewah di ibukota Sri Lanka, Kolombo pada Minggu Paskah, tetapi bom yang dibawanya gagal meledak.

Diduga frustasi, Mohamed meledakkan diri di sebuah penginapan di pinggiran kota yang menewaskan dua orang.

Investigasi Badan Anti-Terorisme Inggris percaya bahwa Mohamed masuk ke Universitas Kingston di London pada 2006-2007.

Hidaya menunjukkan album foto keluarga untuk memperlihatkan foto-foto masa kecil adiknya.

"Dia adalah pencinta musik dan anak laki-laki yang lucu," katanya.

Mohamed, kata Hidaya adalah anak yang saleh tapi tidak ekstrem. Namun sekembalinya dari Australia, ia sangat emosional bahkan kerap bersitegang dengan anggota keluarga lainnya. Ia beberapa kali juga menceramahi saudaranya soal agama.

“Awalnya dia mulai mengutip ayat suci Al quran dan saya akan berkata ‘OK, Anda benar’.”

“Tapi pembicaraan itu semakin dalam dan semakin dalam soal agama dan saya tidak bisa mengikuti apa yang dia katakan lagi,” lanjut Hidaya.

Mohamed masih tinggal dengan sejumlah saudara kandung lainnya, namun kerabatnya mencoba untuk menghindari dia.

"Kami melewati jalan yang berbeda untuk pergi dari rumah kami," ujar Hidaya.

Namun terlepas dari fanatisme abangnya soal agama, Hidaya tidak menduga saudaranya akan bertindak menjadi pelaku bom bunh diri.

"Ketika polisi datang untuk memberi tahu kami bahwa itu dia, saya hampir pingsan," kata dia.

Istri Mohamed, yang ia nikahi dalam resepsi yang mewah sebelum pindah ke Australia adalah karakter yang diam dan tak dikenal, kata Hidaya.

Dia dibawa polisi bersama empat anak mereka yang berusia enam, empat, dua dan enam bulan.

Identitas Mohamed terungkap setelah menteri pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, mengatakan bahwa salah satu pelaku bom bunuh diri pernah telah belajar di Inggris dan melakukan studi pascasarjana di Australia sebelum kembali untuk menetap di Sri Lanka.

Hidaya mengatakan bahwa saudara lelakinya, yang lahir pada 1982 itu tinggal bersama enam saudara kandung.

Kelurganya adalah pengusaha teh sukses yang tinggal di dekat pusat kota Kandy.

Mohamed dididik di Sekolah Internasional terdekat sebelum melanjutkan belajar di Royal Institute, sebuah sekolah internasional terkenal di Kolombo.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah ayahnya, Abdul Latif, meninggal, ibunya, Samsun Nissa, memindahkan keluarganya ke Kolombo.

Setelah kembali dari belajar di Inggris, Mohamed tinggal sendiri hingga bertemu dengan istrinya, Shifana. Anak pengusaha yang kaya.

Sedangkan Hidaya menikah dengan pria Selandia Baru-Sri Lanka dan tinggal di Auckland bersama ibu mereka.

Abangnya, yang memiliki anak pertama di Australia, kembali ke Sri Lanka untuk tinggal di rumah mewah yang sebelumnya disewa keluarganya.

Kakeknya telah mewariskan rumah yang besar ketika dia meninggal, termasuk rumah keluarga di Kandy. Oleh karena itu, Mohamed tidak tidak perlu bekerja.

"Sebelum dia meninggal, dia menjual rumah keluarga itu," kata Hidaya. “Dia jelas membutuhkan sejumlah uang.

"Tapi dia tidak pernah menginginkan apa pun dalam hidupnya. Dari waktu ke waktu ia menjual atau membeli properti. Dia tidak pernah khawatir soal uang seperti orang biasa,” tutur Hidaya.

Sumber : Okezone.com