Banyaknya Massa Kampanye Akbar Bukan Jaminan Memilih, Sebaiknya Kandidat Perhatikan Ini Saja

Foto udara Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan orasi politik saat kampanye terbuka di GOR Satria, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (4/4/2019). - ANTARA/Idhad Zakaria
08 April 2019 11:57 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Pengamat politik menilai besarnya massa kampanye terbuka tidak menjadi ukuran menang atau kalahnya seorang calon presiden. Bahkan berbangga diri dengan jumlah massa besar yang berkumpul di lapangan terbuka akan mengakibatkan rasa berpuas diri yang bisa mengakibatkan kerugian sang kandidat sendiri.

Ada baiknya kandidat capres lebih memperhatikan apakah mereka datang ke TPS atau tidak. 

Demikian disimpulkan oleh pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menanggapi  sejumlah  kampanye terbuka oleh pasangan capres Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. 

Suasana Kampanye Akbar Prabowo-Sandi di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4/2019). Kampanye dimulai dengan shalat subuh berjamaah dilanjutkan dengan dzikir dan doa munajat bersama lalu dilanjut dengan pidato Sandiaga dan Prabowo./JIBI/Bisnis/Nurul Hidayat

“Apakah kampanye terbuka signifikan terhadap tingkat elektabilitas kandidat? Kampanye gaya usang ‘lama’ ini sepertinya tidak akan efektif,” ujarnya Senin (8/4/2019).

Menurut Pangi, ada beberapa alasan untuk hal itu. Dalam hasil survei Voxpol Center Research and Consulting ditemuan bahwa bentuk kegiatan kampanye yang disukai atau diinginkan pemilih paling dominan adalah dialog tatap muka atau interaktif dengan kandidat dengan angka 51,6%. Sedangkan model kampanye seperti rapat akbar atau kampanye terbuka dengan pengerahan massa hanya sebesar 10,8%.

“Karena kampanye terbuka tidak terlalu disukai pemilih, cenderung di mobilisasi maka pengaruhnya tidak terlalu signifikan, selain memang kampanye terbuka sebagai pertunjukan hiburan rakyat,” ujarnya.

Dia menilai kampanye terbuka seringkali digunakan sebagai ajang gagah-gagahan dan unjuk kekuatan. Sedangkan anggaran yang sangat besar bisa saja tidak punya korelasi positif dengan semakin luasnya dukungan politik yang diperoleh masing-masing kandidat.

Alasan berikutnya, ujar Pangi, cara tersebut tidak memperluas basis segmen pemilih. Hadirnya massa dalam jumlah besar tidak menjadi jaminan bahwa kemenangan menjadi milik kandidat tertentu. 

“Mereka yang hadir sebagian besar sudah dipastikan akan mendukung kandidat yang bersangkutan, sisanya mereka hanya ikut-ikutan dan yang pasti model kampanye semacam ini tidak akan menambah asupan elektoral yang signifikan terhadap kandidat,” ujar Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut.

Pangi kemudian menggarisbawahi Efek psikologis bahwa hadirnya massa yang besar di sisi lain juga punya sisi negatif baik terhadap kandidat maupun pendukungnya. Mereka merasa dapat dukungan yag besar dan luas dari masyarakat sehingga “perasaan” rasa-rasa akan memenangkan kompetisi semakin memuncak, katanya. 

Padahal, massa yang hadir jika kita bandingkan dengan jumlah persantase pemilih sangat lah sedikit dan belum seberapa dibandingkan yang hadir kampanye terbuka. 

“Belum lagi, massa yang hadir dalam kampanye terbuka, orangnya “itu itu aja”, kampanye terbuka paslon 01 mereka hadir, begitu kampanye 02 mereka juga hadir, dari massa yang sama, yang penting mereka happy bisa menikmati hiburan dan syukur syukur dapat uang transportasi,” ujarnya.

Oleh karena itu, massa yang hadir dalam kampanye akbar bukan-lah jaminan, bukan- lah ukuran soal menang dan kalah namun memastikan mereka datang ke TPS jauh lebih penting dari pada sekedar berbangga diri dengan jumlah massa besar yang berkumpul di lapangan terbuka.

Sumber : bisnis.com