TEKNOLOGI INFORMASI: Jumlah Ancaman Kejahatan Siber Meningkat

Ilustrasi Hacker - Sputniknews
08 Maret 2019 11:10 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Jumlah ancaman siber di Tanah Air meningkat pada 2018. Menurut laporan Symantec berjudul Internet Security Threat Report Volume 24 yang dirilis pada Februari 2019 lalu, pada 2018, sebanyak 2,23% serangan siber di ranah global terjadi di Indonesia, meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 1,67%.

Angka tersebut juga menempatkan Indonesia di posisi kelima sebagai negara yang paling banyak mendapatkan ancaman siber pada 2018 untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang.

Sebelumnya, Indonesia juga tidak terhindar dari masifnya serangan ransomware Wannacry yang terjadi pada 2017 silam. WannaCry adalah sebuah ransomware yang diciptakan oleh para hacker, yang menyerang sistem komputer melalui celah keamanan. Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan jumlah serangan terbesar.

Pada 2019 ini, ada kemungkinan serangan serupa akan kembali terjadi. Menurut laporan resmi Symantec, tren menunjukkan serangan siber model baru, formjacking, bakal marak tahun ini.

Laporan tersebut menyebutkan sejak Januari 2018 sampai dengan Desember 2018, skema serangan formjacking meningkat tajam. Pada Januari 2018, terjadi sekitar 200.000 serangan formjacking. Menurut laporan ancaman keamanan Internet tahunan perusahaan Symantec, formjacking adalah salah satu cara favorit terbaru bagi peretas untuk mencuri data pribadi. Jumlah serangan kemudian bertambah menjadi sekitar 500.000 serangan pada akhir bulan Desember di tahun yang sama. Indonesia tampaknya belum menyiapkan strategi untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

Praktisi sekaligus pendiri Indonesia Cyber Security Summit (ICSS) Ardi Sutedja mengatakan sejauh ini belum ada strategi yanh disiapkan baik oleh pemerintah maupun kalangan bisnis. “Tidak ada strategi karena pemerintah dan kalangan bisnis tidak paham konstelasi ancamannya,” jelas Ardi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Kamis (7/3/2019).

Menurut Ardi, hal tersebut terjadi karena Indonesia masih berada di tahap baru ‘melek’ terhadap serangan siber, sedangkan perang siber sudah berlangsung lama. “Sekarang sudah memasuki perang dimensi keenam, sedangkan kita [Indonesia] masih ribut soal hoaks,” lanjutnya.

Head of IT – Cyber Security and Insurance Enterprise Architect, IBS Group Faisal Yahya mengatakan meningkatnya esensi serangan siber terjadi akibat perubahan appetite serangan, di mana sekarang pelaku kejahatan siber fokus kepada pola penipuan yang disebut dengan istilah Fraud as a Service.

Sebagai strategi untuk menghadapi pola baru serangan tersebut, Faisal menjelaskan perlu dibuat semacam model yang bisa menciptakan keseimbangan antara pengawasan terhadap ancaman dan aset. Namun demikian, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menciptakan model tersebut. “Kalau tidak seimbang, jumlah serangan akan terus meningkat,” ujar Faisal.

Model serangan baru formjacking mulai marak setelah keuntungan dari ransomware dan cryptojacking berkurang selama 2018.

Director, System Engineering, ASEAN, Symantec Halim Santoso mengatakan aktivitas cryptojacking menurun sebesar 52% di sepanjang 2018. Bahkan, nilai profitabilitas cryptojacking berkurang sangat drastis hingga 90%.
“Symantec juga sudah memblokir 3,5 juta serangan cryptojacking di end point pada Desember 2018,” ujar Halim Santoso dalam konferensi pers yang dilangsungkan di Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Lebih spesifik, Halim menjelaskan penurunan nilai cryptocurrency serta meningkatnya adopsi komputasi awan (cloud) membuat serangan-serangan yang dilancarkan menjadi kurang efektif. Tahun lalu, untuk pertama kalinya infeksi ransomware menurun hingga 20%.

Hal itu dikarenakan komputasi awan memiliki mekanisme proteksi pribadi yang sangat baik dalam menghadapi serangan, baik itu ransomware maupun cryptojacking, di mana komputasi awan mencampuradukkan data di dalam sistem yang terinfeksi untuk kemudian dilakukan penguncian terhadap sistem yang terafeksi malware.

Namun demikian, komputasi awan bukannya tanpa kekurangan. Kesalahan keamanan seperti yang terjadi di PC juga bisa terjadi di komputasi awan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia