Yang Terjadi di Ruang Kelas Saat Siswa SMKN3 Jogja Mendorong Guru karena Ponselnya Disita

Siswa mendorong guru karena ponselnya disita. - Facebook Putri Rizky
25 Februari 2019 17:15 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus kekerasan di lingkungan sekolah yang melibatkan guru, murid bahkan kepala sekolah ibarat bola salju. Makin menggelinding kian besar. Ada yang salah dengan hubungan guru dan murid serta sistem pendidikan yang menaungi mereka.

Sebuah video yang berisi adegan seorang siswa SMKN 3 Jogja mendorong gurunya ingin merebut ponsel sambil mengepalkan tinju menjadi viral di media sosial (medsos). Adegan ini dipandang sebagai sikap tidak hormat dan cenderung mengarah ke tindakan menuju kekerasan.

Salah seorang siswa Kelas X SMKN 3 Jogja, H mengaku saat temannya berebut ponsel sitaan dengan guru, dia ikut tertawa dan bertepuk tangan. Menurut dia, semua perilaku temannya hanya dilakukan atas dasar bercanda. Terlebih lagi guru yang terlibat merupakan sosok guru humoris dan ceria.

“Iya kan itu cuma bercanda sebenarnya, gurunya juga biasanya lucu kok, biasa lah,” kata H kepada Harian Jogja saat mengikuti pembinaan pendidikan karakter di SMKN 3 Joga, Jumat (22/2/2019).

Pagi itu seluruh siswa Kelas X yang terlibat dalam kejadian video viral dikumpulkan di aula oleh sekolah untuk menerima bimbingan pendidikan karakter dan edukasi penggunaan medsos yang baik dan benar. H masih terkantuk-kantuk, berusaha tetap membuka matanya untuk mendengarkan ceramah kepala sekolah di podium. Menurutnya sosialisasi yang dilakukan sekolah sah-sah saja, namun ada harapan terselip dalam hati H agar kejadian yang mencoreng nama baik sekolahnya tak terulang lagi.

“Harapan saya guru bisa lebih tegas menertibkan kami, tetap berwibawa lah, supaya yang bercanda juga tidak kelewat batas. Bisa membedakan mana bercanda, mana sudah bukan bercanda,” kata H.

Senada dengan H, salah seorang siswa lainnya, X, mengakui saat kejadian kelasnya gaduh oleh tawa. Guru pun tak berbuat banyak karena semuanya dianggap bahan bercanda. X sama sekali tidak menyangka bahwa ada seorang teman yang membagikan kejadian itu di Instagram story dan dalam sekejap video kejadian di kelasnya itu viral karena dibagikan berantai.

Kepala SMKN 3 Jogja, Bujang Sabri mengatakan kejadian tersebut dilakukan siswa dan guru karena bercanda dan adanya unsur kedekatan. Ia menampik kejadian itu merupakan tindak kekerasan. Namun dirinya mengakui masalah pendidikan karakter dan edukasi penggunaan medsos akan menjadi konsentrasi sekolah sebagai tindak lanjut agar kejadian serupa tak terulang lagi.

Bujang menduga siswa yang terlibat di kejadian maupun merekam terinspirasi dari berita-berita di internet tentang seorang siswa yang berlaku tidak sopan kepada gurunya.

Bukan Hal Kecil

Candaan yang tidak sopan itu bukan hal kecil yang pantas untuk diremehkan. Kejadian ini serupa dengan yang terjadi di Gresik dua pekan lalu. Sebuah video viral di medsos berisi adegan  AA, 15, siswa Kelas IX salah satu SMP di Gresik Jawa Timur mengancam dan menantang berkelahi Nur Kalim, 30, guru mata pelajaran IPS yang berstatus honorer. Dalam video berdurasi 25 detik itu siswa yang mengenakan topi berwarna hitam tersebut tidak terima kepada sang guru lantaran telah ditegur tidak boleh merokok di dalam kelas.

Dalam video tersebut, siswa SMP yang mengenakan seragam pramuka menantang sang guru dengan menarik kerah baju bagian depan gurunya. Guru yang mengenakan kemeja lengan pendek tersebut tampak hanya diam saja sambil mengamati tingkah tak terpuji muridnya tersebut.

Tidak itu saja, ketika si siswa duduk di atas meja sambil merokok, guru tersebut mendatangi dengan maksud melarangnya. Namun, si siswa justru tidak terima dan kembali menantang sang guru. Si siswa makin melunjak kelakuannya memegang leher sang guru sambil mendorongnya dengan mengayun-ayunkan tangan seraya akan memukul. Kasus di Jogja dan di Gresik memang berakhir damai, tetapi bukan berarti hubungan guru dan murid yang tidak saling menghormati telah pula rampung.

Guru Pendendam

Bibit-bibit rasa tidak hormat siswa kepada guru bukan sekonyong-konyong muncul. C, siswa SMA Gama Jogja mengaku pernah membantah gurunya karena merasa gurunya tidak menghargai upayanya mengerjakan tugas. Saat itu dirinya sudah mengerjakan tugas, tetapi gurunya menyuruhnya memperbaikinya hingga rangkap tiga.

Kekesalannya memuncak karena saat itu bertepatan dengan ujian praktik bahasa Jawa dan mempersiapkan properti untuk pengambilan foto buku tahunan sekolah. Meski kesal, C dapat meredam emosinya hingga tidak menggunakan kekerasan. Saat itu, C langsung sadar bahwa dirinya sudah bersikap tidak sopan terhadap gurunya. “Langsung minta maaf habis itu,” kata dia malu-malu.

Meski sempat menentang, sebenarnya C menganggap guru-guru di sekolahnya tergolong baik pada dirinya. “Di sini jarang [guru marah-marah]. Baik-baik,” ujarnya.

Bagi C, sikap seorang guru sebaiknya tidak menggunakan nada-nada yang tinggi ketika berbicara pada murid. “Kalau ada marah ya enggak apa-apa sih, soalnya kami kan ada salah juga. Tapi, jangan sering marah-marah,” tuturnya.

Di sisi lain, C juga merasa hal itu sebaiknya dilakukan oleh dirinya dan kawan-kawan sekolahnya. “Seorang siswa kan seorang anak, jadi memang harus hormat pada yang lebih tua,” katanya.

Cerita serupa dipaparkan N, siswa SMAN 8 Jogja.

“Aku pernah sih membantah guru, soalnya guru itu menurutku pendendam. Dia membawa-bawa masalah di kelas ke dalam penilaian beberapa siswa. Jadi ngasih nilainya enggak objektif. Aku ajak saja bicara empat mata saja guru itu, aku debat bahwa seharusnya dalam memberi penilaian, guru tidak boleh melibatkan personal feeling,” kata N.

Tren Meningkat

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menyebut kasus kekerasan yang melibatkan guru tidak terdeteksi. Kebanyakan data yang masuk ke meja Disdikpora DIY adalah kekerasan antarsiswa.

Menurut Aji, untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah, baik itu dari guru terhadap siswa maupun sebaliknya, harus ada pendidikan pembentukan karakter yang disisipkan guru di setiap mata pelajaran yang mereka ampu. Selain itu, guru juga harus menyesuaikan gaya ajar dengan metode masa kini. Oleh karena itu, kreativitas merupakan aspek yang harus dimiliki seorang guru masa kini.

Tak hanya guru di sekolah negeri, pendidikan karakter yang digaungkan Disdikpora DIY juga telah ditekankan di sekolah-sekolah yayasan yang menurut Aji rentan terjadi kekerasan.

“Kami sudah menyentuh sekolah yayasan juga untuk memberi pendidikan karakter. Yang terpenting itu. Akan tetapi guru juga harus kreatif dan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan berbudaya,” kata Aji.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat tren kekerasan terhadap anak dalam pendidikan di tahun ini meningkat. Pada 2018 ada 445 kasus bidang pendidikan. Sebanyak 51,20% atau 228 kasus terdiri dari kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang kerap dilakukan oleh pendidik, kepala sekolah dan juga peserta didik.

KPAI menekankan kerja sama dengan berbagai lembaga dan juga masyarakat untuk mengatasi atau bahkan mencegah sebelum kekerasan itu terjadi pada anak-anak. KPA menyebut pemerintah perlu mengadakan pelatihan-pelatihan guru, sehingga tidak ada lagi guru yang dipukul oleh siswa, atau guru yang menghukum siswanya dengan memukul dan lain-lain.

Dosen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sujarwo menyebut kekerasan antara siswa dan guru dapat timbul karena ketiadaan rasa menghargai antara kedua belah pihak. “Jika guru dalam mengajar memberi nilai positif pada siswa, memberi teladan pada siswa, maka akan timbul respek sati sama lain,” ujar lelaki yang juga Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan UNY ini.

Ia menambahkan, antara keduanya juga jangan sampai timbul kecurigaan. Suwarjo berharap selanjutnya perlu ada sinergi antara orang tua dan sekolah untuk meminimalisasi kekerasan di sekolah. “Orang tua kan cenderung melindungi anaknya di sekolah. Namun, ke depan antara guru, sekolah, dan orang tua perlu ada dalam satu barisan yang sama untuk menekan angka kekerasan ini.”