LONG-FORM: Akibat Korupsi & Kutukan Harga Minyak, 6 Orang Jatuh Miskin Setiap Menit

Perdagangan di sebuah pasar di Nigeria - Reuters/Luc Gnago
22 Februari 2019 17:40 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Nigeria pernah menikmati kekayaan dari melambungnya harga minya mentah dunia, tetapi terperosok ke dalam jurang kemiskinan karena korupsi. Penduduk di negara Afrika ini menerima imbas buruk yang sangat nyata.

“Saya makan apa pun yang saya lihat. Saya mengemis kepada siapa saja, apa pun yang dikasih, saya makan,” ungkap Abdul Edosa, 30.

Sehari-hari, Edosa tinggal di bawah jembatan kota metropolitan Lagos di Nigeria. Ia adalah salah satu dari banyak rintihan yang memenuhi negara dengan jumlah orang miskin terbesar di dunia tersebut.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebanyakan warga miskin di negeri itu hidup dengan pendapatan kurang dari US$1,90 per hari. Kalau boleh dibandingkan, dengan asumsi kurs rupiah sekitar Rp14.000 per dolar AS, angka itu setara Rp26.600 atau mungkin hanya cukup untuk membeli dua bungkus nasi rames di DIY.

Diperkirakan ada 87 juta warga miskin atau hampir separuh dari populasi di negara penghasil minyak terbesar di Afrika tersebut. Kecuali ada langkah dramatis yang dilakukan, jumlah itu akan meningkat lebih besar.

Ketika kemiskinan di India, yang memiliki populasi lima kali lipatnya, menurun, jumlah orang miskin di Nigeria diyakini bertambah sebanyak enam orang setiap menitnya. Angka ini berdasarkan sebuah makalah yang baru-baru ini oleh kelompok riset The Brookings Institution.

PBB memperkirakan populasi di Nigeria akan berlipat-lipat ganda menjadi 410 juta pada tahun 2050. Jumlah orang miskin di dalamnya pun berpotensi bertambah jauh lebih besar.

Jurang kemiskinan mulai mendalam di Nigeria seiring dengan booming harga minyak pada tahun 1970-an yang mendorongnya masuk ke jajaran negara terkaya di Afrika.

Namun ketika kaum elite semakin kaya melalui jaringan patronase dalam industri perminyakan, pemerintah militer dan sipil bergantian mengabaikan pertanian, manufaktur, dan pendidikan negara itu.

Sebuah studi untuk Departemen Pembangunan Internasional Inggris menunjukkan pendapatan per kapita tahunan riil di Nigeria turun dari US$264 menjadi US$250 antara tahun 1970 dan 1999. Fakta ini berbanding terbalik dengan pendapatan dari minyak yang mencapai US$230 miliar.

Negara yang dikepalai seorang pensiunan militer Muhammadu Buhari ini bercokol di peringkat 144 dari 180 negara dalam indeks persepsi korupsi 2018 yang dirilis Transparency International (TI), sebuah organisasi internasional berbasis di Berlin, Jerman, yang bertujuan memerangi korupsi politik.

“Segera setelah Nigeria menemukan minyak, masyarakat dan struktur pemerintahannya tidak pernah dioptimalkan untuk menghasilkan kepemimpinan yang baik,” ujar Michael Famoroti, seorang ekonom dan mitra di Stears, sebuah perusahaan riset dan analisis yang berbasis di Lagos.

“Penemuan minyak pada dasarnya membuat kepemimpinan Nigeria malas. Dan kami masih menderita karena warisan itu,” kata dia, sebagaimana diberitakan Bloomberg.

Nigeria kini berada di peringkat 157 dari 189 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) PBB, yang mengukur indikator-indikator seperti kesehatan dan ketidaksetaraan. Usia harapan hidup di negara itu hanya 54 tahun, meskipun meningkat dari 46 tahun pada 1999.

Sejak memenangi kursi kepresidenan dalam langkah yang menandai transisi kekuasaan demokratis pertama pada 2015, Buhari telah melakukan upaya untuk meningkatkan standar hidup di negaranya.

Pemerintahannya menciptakan program yang memberikan bantuan sebesar 5.000 naira (US$14) per bulan kepada warga miskin. Pada saat yang sama, ia dikritik karena kebijakan nilai tukar yang mengurangi nilai mata uang Nigeria dan mendorong harga makanan naik secara nasional.

“Buhari datang dengan niat baik, tetapi kebijakan ekonominya di awal memperburuk masalah yang dia temukan di lapangan,” ekonom Nigeria Zuhumnan Dapel berpendapat.

Hal itu beserta jumlah relatif kecil warga yang mendapat manfaat dari program ini, kurang dari 1 juta, menunjukkan bahwa bantuan itu belum bisa menjangkau banyak orang.

Alkassim Ibrahim, seorang pria tunawisma berusia 45 tahun di utara kota Kano, salah satu yang tidak mendapat manfaat program ini. Dia bekerja sebagai tukang ojek sampai kakinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan 10 tahun yang lalu.

Barang yang dimilikinya saat ini hanyalah tongkat, selimut tipis, dan tas pakaian yang kerap ia gunakan sebagai bantal. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan kasar sejak kecil, tetapi kini ia harus bertahan hidup dengan mengemis.

Menurut Dapel, sekitar 72% hingga 91% orang miskin di Nigeria berisiko tidak akan pernah dapat meningkatkan standar hidup mereka secara signifikan.

Itulah situasi yang dialami Fatima Ali, 23 tahun. Dia terjebak di daerah kumuh yang sebagian dihancurkan di luar Perkebunan Aboki di Lagos. Ia menghasilkan US$1,40 sehari dengan menjual kacang panggang di depan gubuk besi yang ia sebut ‘rumah’.

“Saya merasa sedih karena beberapa negara, bahkan jika mereka tidak punya uang, mereka menggunakannya untuk membantu warga miskin mereka. Di sini, kenyataannya berbeda. Itulah kehidupan di Nigeria,” keluh Ali.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia