Advertisement
Debat Capres Cuma Tontonan, Khalayak Sebaiknya Tidak Baper
Jokowi dan Prabowo tertawa bersama saat deklarasi kampanye damai, September 2018. - Reuters/Darren Whiteside
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Khalayak sebaiknya tidak perlu terbawa perasaan alias baper, apalagi sampai emosi berlebihan saat menonton debat Pilpres yang disiarkan stasiun telvisi pada Kamis (17/1/2018) ini.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin menyarankan agar debat tersebut hendaknya dinikmati sebagai tontotan semata. Dia mengatakan masyarakat harus memahami debat itu bagian dari proses yang harus dilakui karena aturan KPU. Pemirsa lebih baik menikmati untuk menilai sejauh mana kualitas kandidat. Semua kandidat punya kelebihan dan kekurangan.
Advertisement
“Kualitas kandidat juga tidak hanya semata-mata bisa diukur dari debat. Jadi itu hanya salah satu tolok ukur saja,” katanya di Malang, Kamis (17/1/2019).
Kisi-kisi yang diberikan sebelum debat, kata dia, memang bisa membantu kandidat untuk menyiapkan jawaban. Ini tentu menguntungkan.
Namun, debat adanya bocoran pertanyaan, masyarakat tidak bisa melihat kualitas kandidat secara spontan. Padahal, persoalan kebijakan kenegaraan presiden dan wakil presiden bisa diukur dari pertanyaan spontan.
“Di sini akan dilihat dari kualitas pejabat itu,” ucapnya.
Debat dengan spontan bisa menjadi salah satu cara mengukur kualitas kandidat pula. Debat dengan kisi-kisi, apalagi dengan pertanyaan yang sudah disiapkan, maka debat sering hanya menjadi seremonial semata dan tidak begitu menarik.
Nurudin yang kolumnis dan trainer penulisan ini juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang diterimanya di era sekarang. Semua informasi simpang siur silih berganti.
Informasi yang muncul, apalagi lewat medsos, sering bukan kejadian sebenarna tetapi memang disebar untuk tujuan tertentu. Tentu saja untuk memenangkan pertarungan.
Masyarakat sering merasa berita yang diterimanya harus terburu-buru disebarkan. Mereka menyebar bukan berdasar apakah informasi itu benar tetapi hanya berdasar kecenderungan dirinya.
Jika info yang diterima itu sesuai kecenderungan dirinya, maka akan disebar, sebaliknya, jika tidak sesuai dengan kecenderungan politiknya, maka tidak akan disebar.
“Jempol kita sering lebih cepat bergerak dari otak kita,” kata penulis 18 judul buku tentang komunikasi dan penulisan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendaftaran Calon Pimpinan OJK Dibuka, Begini Tahapan dan Syaratnya
- DKPP Pecat Tiga Anggota KPU karena Pelanggaran Kode Etik
- KPK Ungkap Alasan Negara Bisa Menyuap Negara di Kasus PN Depok
- Atraksi Naik Gajah Dilarang, Warga Diminta Melapor
- Kemensos Benahi PBI BPJS Kesehatan, 54 Juta Warga Belum Terdaftar
Advertisement
Advertisement
Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
Advertisement
Berita Populer
- Kadin Dorong Magang Nasional untuk Lulusan SMK
- Khofifah Dijadwalkan Ulang Bersaksi di Kasus Dana Hibah Jatim
- Sekolah di Jogja Wajib Resik-Resik Kolektif Kelola Sampah Mandiri
- Lolos Seleknas, 3 Atlet Anggar DIY Bela Indonesia di Ajang Asia
- Pemerintah Siapkan Aturan E-Commerce Lindungi UMKM
- KAI Cek Jalur Utara Jelang Angkutan Lebaran 2026
- Fasilitas Publik Termasuk Sekolah di Bantul Pulih Seusai Gempa Pacitan
Advertisement
Advertisement




