Advertisement
Dana Desa Terus Mengucur, Tapi Pengangguran di Pedesaan Meningkat
Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Sandjojo meninjau pelebaran jalan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa (26/6/2018). - Kemendes
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pengangguran di desa tercatat meningkat kendati anggaran untuk desa terus digelontorkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) desa per Agustus 2018, yang menunjukkan peningkatan menjadi 4,04% atau naik 0,03% dari tahun sebelumnya. Pemerintah menilai hal ini turut disebabkan menyusutnya luas lahan pertanian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui ada kaitan antara penurunan jumlah pekerja dengan menyusutnya luas lahan pertanian.
Advertisement
"Ya tentu saja ada [kaitannya], tapi secara keseluruhan tentu lebih dari itu," ungkapnya, di Jakarta, Selasa (6/11/2018).
Pemerintah bersama BPS sudah merevisi jumlah luas baku lahan pertanian di Indonesia menjadi 7,1 juta hektare (ha) pada 2018, atau lebih rendah dibandingkan dengan data sensus 2013 yang seluas 7,75 juta ha.
BACA JUGA
Lebih lanjut, menurut Darmin, dana desa mampu membantu memperbaiki banyak hal dan memberikan pekerjaan bagi warga desa. Meskipun, memang dampak pekerjaan di sektor infrastruktur tidak instan.
"Dampaknya itu perlu waktu, ya tergantung juga nanti infrastruktur apalagi yang dikembangkan," tuturnya.
Di sektor lapangan pekerjaan utama yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terjadi penurunan 0,89% dari total angkatan kerja atau 220.000 orang dari Agustus 2017 ke Agustus 2018. Total terdapat 35,7 juta orang yang bekerja pada sektor tersebut.
Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa naiknya angka pengangguran di desa lebih dipengaruhi jumlah pekerja di sektor pertanian yang menyusut. Menurutnya, banyak pekerja di sektor pertanian yang hengkang dari pekerjaannya dengan harapan bisa memperoleh pekerjaan baru.
Suhariyanto menampik penurunan ini disebabkan tidak efektifnya program padat karya tunai yang digenjot pemerintah. Dia menerangkan program pemerintah tersebut diarahkan ke sektor yang berbeda, yakni konstruksi, sedangkan fenomena yang tertangkap BPS adalah jumlah pekerja di sektor pertanian yang menyusut.
“Kalau dilacak, di sana ada penurunan untuk jumlah petani palawija dan karet sebesar 1,3 juta orang pada tahun ini. Sehingga, terkait dengan program padat karya tunai itu tidak terkait pada pertanian,” ucap Suhariyanto.
BPS mencatat terjadi kenaikan pekerja pada sektor konstruksi sebesar 160.000 orang menjadi 8,3 juta orang pada Agustus 2018, dari sebelumnya 8,14 juta orang pada Agustus 2017.
Indikator awal dampak dari dana desa dan program padat karya disebut dapat terlihat dari penambahan jumlah pekerja sektor konstruksi, walaupun data itu mencakup pekerja sektor konstruksi desa maupun kota.
Seperti diketahui, pemerintah telah menggelontorkan dana desa hingga Rp180 triliun dalam empat tahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Imsak dan Buka Puasa Wilayah Jogja Hari Ini, Selasa 17 Maret
- Jelang Lebaran, Okupansi Hotel Bantul Anjlok
- Libur Lebaran, Dispar Kulonprogo Ingatkan Larangan Tarif Nuthuk
- Daftar Soundtrack Film Tunggu Aku Sukses Nanti Viral di Media Sosial
- PKB DIY Safari ke Sejumlah Ulama, Perkuat Wasilah Keselamatan Bangsa
- Tips Kelola Keuangan, Strategi Jitu Hindari Boncos Jelang Lebaran
- DS Modest Jogja Tumbuh Kuat di Industri Modest Fashion
Advertisement
Advertisement









