FEATURE: Pembuat Es di Pantai Baru Dirindukan Nelayan

Sekretariat PLTH Pantai Baru, Pandansimo, Bantul, dikunjungi siswa SMP yang melakukan field trip, Selasa (23/10/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
29 Oktober 2018 12:25 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) Pantai Baru, Pandansimo, Srandakan, Bantul masih memasok listrik untuk 60 warung kuliner dan biogas yang dikelola warga sekitar. Namun, petir yang menyambar enam tahun lalu berdampak sangat besar. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Warung seafood milik Juwono, 38, terletak tepat di barat PLTH Pantai Baru. Melalui warung sederhana beratapkan seng itu, Juwono menjadi saksi hidup perkembangan PLTH Pantai Baru. Mata Juwono menyaksikan hilir mudik awak media massa, mulai dari nasional hingga internasional. Kuli tinta berbondong-bondong meliput PLTH Pantai Baru saat pembangkit itu sedang gencar-gencarnya dikampanyekan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 2010. Seluruh alat masih gres. Ratusan penduduk pantai yang sehari-hari mencari nafkah dengan bertani, mencari ikan, dan membuka warung makan terbantu oleh aliran listrik dari PLTH.

Mereka mengandalkan PLTH untuk menyalakan pompa irigasi dan mesin penghasil es (ice maker) untuk mendinginkan tangkapan nelayan.

Juwono yang bekerja sebagai nelayan juga sempat merasakan betapa mudahnya memesan es kristal dan es balok dari tiga ice maker yang ada di PLTH. Dia tinggal melambaikan tangan dari teras warungnya, kemudian berteriak menanyakan stok es kristal kepada petugas PLTH.

Jika produksi es masih ada, dia akan segera membawa ikan-ikannya yang dikemas dalam kotak styrofoam untuk diisi es balok. Ikan tangkapannya pun tetap segar. Harga es balok pun cukup murah yaitu Rp9.000 per buah. Adapun es kristal bisa didapatkan dengan harga Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram. Namun seingat Juwono, sudah sejak dua tahun yang lalu, tiga mesin es dan satu mesin es balok di PLTH rusak. Juwono pun harus membeli es balok di pabrik.

“Sekarang saya mendatangkan es balok dari pabrik di Pantai Karangwuni dan Depok. Satu balok harganya Rp20.000. Jelas lebih mahal karena baloknya dua meter, kalau yang dari ice maker cuma satu meter. Es dari pabrik setengah jam baru sampai, es dari PLTH datang lebih cepat,” kata Juwono sambil memilah-milah ikan di styrofoam untuk para pelanggan warungnya, Selasa (23/10/2018) lalu.

Untuk mengisi semua boks styrofoam-nya dengan es, Juwono membutuhkan 25 hingga 30 balok es. Itu jika hasil tangkapannya sedang melimpah. Kalau sedang sepi, dia hanya butuh 12 hingga 15 balok es.

Sementara, es kristal dia haluskan dari es balok pesanannya untuk membuat minuman dingin di warungnya. Dia harus memesan semua es balok itu dari pabrik, tepatnya dua hari sebelum stok es di mesin pendinginnya menipis. Jika sampai kehabisan es sehari saja, kesegaran ikan akan berkurang jauh.

Juwono harus cermat membuat perhitungan kala memesan es balok dari pabrik. Dia kudu bersaing dengan perusahaan besar yang memesan es balok berton-ton. Apabila ada perusahaan besar membeli es balok, nelayan kurang diprioritaskan dalam antrean. Akibatnya es pesanannya akan tiba lebih lama. Dia pun kalang kabut memesan di tempat lain. Di saat-saat seperti ini, nelayan mengharapkan ice maker di PLTH dapat berfungsi kembali. 

“Produksi es dari ice maker itu cepat sekali, hanya beberapa menit, langsung jadi esnya. Dekat juga. Memang sih esnya lebih mudah mencair daripada es pabrik, kapasitas produksi juga kecil jadi enggak semua nelayan dapat, tetapi setidaknya kalau berfungsi lagi, kami ada cadangan untuk menunggu es dari pabrik yang sering antre dan lama sampainya,” kata Juwono.

PLTH Multifungsi

Tak jauh dari warung seafood Juwono, kantor sekretariat PLTH ramai dikunjungi pelajar. Rombongan berseragam itu merubung Jefri Dwi Haryanto, petugas lapangan PLTH Pantai Baru, guna mempelajari cara mengubah angin dan sinar Matahari menjadi tenaga listrik. Setelah mengantarkan para mahasiswa berkeliling, Jefri menjelaskan bagaimana PLTH yang mengalirkan listrik ke ice maker idaman para nelayan itu bekerja layaknya organ milik manusia.

Bagi Jefri, kini PLTH adalah manusia yang menghidupi sekitar 60 pemilik warung kuliner di pesisir Pantai Baru. Angin dan surya diibaratkan sebagai lauk pauk sehari-hari PLTH Pantai Baru untuk tetap hidup. Makanan itu ditelan melalui 33 turbin angin berkapasitas satu hingga 10 Kilowatt dengan tinggi 10 hingga 15 meter dan 200 panel surya yang beroperasi dalam beberapa sistem.

Cara kerja dari dua energi itu saling mencukupi, tak ada pembagian penggunaan antara energi bayu maupun surya.

“Penggabungan energi itu akan tersimpan di baterai atau aki, di sana akan disimpan dan energinya distabilkan. Supaya kalau malam enggak ada angin enggak ada sinar Matahari, PLTH punya stok daya. Jadi baterai ini ibarat perut si PLTH,” kata Jefri sambil menunjukkan berbalok-balok baterai seukuran kardus helm yang disimpan di sebuah ruangan seukuran kos-kosan sederhana.

Jefri melanjutkan analoginya. Arus listrik di dalam baterai itu merupakan direct current (DC) atau arus searah, sedangkan arus listrik dalam rumah tangga warga sekitar memiliki arus alternating current (AC) atau arus bolak-balik. Alat bernama inventer digunakan untuk mengubah arus searah menjadi arus bolak-balik sebelum arus listrik dialirkan ke 60 warung kuliner di pesisir pantai dan dulunya juga memasok listrik ice maker.

“Jadi inventer ini ibarat jantung PLTH, fungsinya sama seperti jantung, oh iya, aliran listrik dari sini untuk warga gratis,” kata pria berusia 23 tahun itu.

Arus listrik yang dimiliki tiga ice maker di PLTH adalah arus bolak-balik. Setelah melalui proses di inventer, arus listrik bekerja untuk memompa air masuk ke tabung hidro. Dari tabung itu air akan dialirkan ke sirkulasi ice maker. Air akan terus diputar di dalam sirkulasi hingga menjadi dingin dan akhirnya membeku dalam cetakan es di dalam ice maker. Setelah beku, es akan jatuh dengan sendirinya ke dalam wadah berkapasitas 71 kilogram yang terletak di bawah ice maker.

“Tiga mesin ice maker ini membutuhkan energi 1.240 watt. Satu kali proses 20 menit, menghasilkan dua hingga tiga kilogram es kristal. Terus beroperasi sampai penuh 71 kilogram per mesinnya. Tetapi enggak dioperasikan 24 jam, mengingat kapasitas baterai juga,” kata Jefri.

Selain ice maker, PLTH juga menopang keberadaan biogas yang dikelola warga. Para pekerja lapangan memberi arahan ilmu pengolahan biogas dari kotoran sapi. Jefri menegaskan biogas itu tidak ada kaitannya dengan PLTH. Letak biogas di seberang utara sekretariat PLTH. Warga menampung kotoran ternak di digester atau bak fermentasi berukuran 7x5 meter  yang ada di sana lalu diproses menjadi biogas untuk bahan bakar memasak di warung kuliner mereka. Listrik yang mengaliri pompa irigasi petani masih berfungsi, namun sudah tidak ada petani yang menggunakannya lagi. “Mereka para petani kan pada beralih ke sektor wisata,” kata Jefri.

Menunggu Perbaikan

Kini keadaan sudah jauh berbeda. Sejak sambaran geledek pada 2012 silam, sebagian fungsi PLTH rontok. Total seluruh baterai yang ada di PLTH pun sebenarnya dapat menghasilkan 4.250 Amh. Namun sekarang sudah berkurang jauh. Ini karena satu baterai memiliki lifetime atau masa kelayakan performa selama lima hingga delapan tahun. Sementara, sejak PLTH didirikan pada 2010, belum ada baterai yang diganti dengan baterai baru. Akhirnya banyak baterai yang mati sehingga mengurangi daya listrik.

Kepala PLTH Pantai Baru Iwan Fahmiharja mengatakan dahulu selain ada tiga ice maker, ada juga pembuat es balok. Nama mesinnya adalah mesin es balok. Es balok selebar 20x30 sentimeter itu dijual dengan harga Rp9.000 per buah. “Mesin balok itu cuma ada sampai tahun 2012. Kenapa cuma sampai 2012? Karena pembangkit tersambar petir waktu itu. Jadi alatnya rusak.  Diganti dengan tiga mesin ice maker yang sekarang masih rusak,” kata Iwan.

Kini ice maker itu masih tersimpan rapi di ruangan kecil berpintu satu bertuliskan Ruang Produksi Es. Letaknya tepat di sebelah kolam ikan nila yang dikelola pengurus PLTH. Iwan mengatakan dulunya PLTH juga memasok listrik untuk pompa irigasi kolam-kolam ikan milik warga. Namun sektor pariwisata yang kian menunjukkan geliatnya membuat banyak warga yang dahulu mengolah lahan hijrah ke sektor pariwisata. Pengguna irigasi pun semakin berkurang dan saat ini tidak ada. “Sekarang masih mengaliri listrik sekitar 60 warung kuliner di pinggir Pantai Baru dan penerangan jalan di sekitar Pantai Baru. Ada juga warung yang campuran, menggunakan aliran listrik sini dan PLN,” kata Iwan.

Mengenai beberapa mesin yang rusak, Iwan mengatakan dia mendengar rencana perbaikan dalam waktu dekat. Lebih jauh, dia berharap mesin yang rusak segera mendapat dana perbaikan dari pemerintah setempat. “Kalau bisa dibenahi segera dibenahi karena ini luar biasa manfaatnya untuk warga sekitar,” kata Iwan.