GEMPA NTB: Kekurangan Tenda, Sebagian Pengungsi Tidur di Ruang Terbuka

Newswire
Newswire Rabu, 01 Agustus 2018 16:17 WIB
GEMPA NTB: Kekurangan Tenda, Sebagian Pengungsi Tidur di Ruang Terbuka

Dampak gempa Lombok, NTB/Antara

Harianjogja.com, LOMBOK UTARA-Pengungsi akibat gempa Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di Lombok Utara masih membutuhkan tenda dan selimut. Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara Suardi mengaku tenda dan selimut tersebut akan dibagikan kepada warga korban yang masih tidur di tempat terbuka pascagempa bumi 6,4 SR di Lombok, NTB, Minggu (29/7/2018) pagi.

"Warga yang terdampak gempa sangat membutuhkan tenda atau terpal serta selimut karena mereka masih tidur di ruang terbuka," katanya di Kecamatan Bayan, Rabu (1/8/2018).

Ia mengakui, meski kebutuhan mendesak tersebut sudah didistribusikan di sejumlah titik lokasi di sekitar wilayah Lombok Utara, terutama di Kecamatan Bayan yang secara geografis cukup dekat dengan pusat gempa. Namun, jumlahnya masih sangat terbatas.

Sebab, menurut dia, di Kabupaten Lombok Utara korban terdampak gempa mencapai 8.919 kepala keluarga atau lebih dari 23.000 jiwa.

"Di daerah ini, lokasi pengungsian utama berada di tiga titik yaitu di Desa Sambik Elen, Batu Gerantung dan Karang Bajo. Jumlah pengungsi di tiga lokasi ini sebanyak 2.478 orang. Selain tiga lokasi pengungsian utama ini, banyak warga yang mendirikan tenda-tenda sendiri sebagai tempat menginap yang tak jauh dari tempat tinggal mereka," jelas Suardi.

Selain Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, juga menjadi lokasi terparah akibat gempa bumi 6,4 Skala Richter yang mengguncang Pulau Lombok, NTB pada Minggu (29/7/2018) pagi.

Sekda mengatakan, yang paling utama ditangani saat ini adalah keselamatan jiwa. Korban luka-luka diberikan perawatan intensif, sementara warga yang selamat disediakan penampungan. Pendistribusian logistik juga sudah mulai berlangsung sejak Minggu siang baik berupa sembako, makanan jadi maupun obat-obatan.

"Yang tak kalah penting yaitu adanya aparat kepolisian yang melakukan patroli di sejumlah kampung dan desa untuk menghindari aksi kriminalitas. Karena rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya berpotensi menjadi sasaran aksi pencurian," ucapnya.

Hingga saat ini, kata Sekda, pihaknya masih melakukan pendataan lebih lanjut terkait dengan rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa, serta jumlah korban luka-luka yang membutuhkan pertolongan.

Data sementara menunjukkan, rumah dan tempat ibadah yang rusak khusus di Lombok Utara sebanyak 1.146 unit. Adapun jumlah warga di KLU yang meninggal dunia akibat gempa ini sebanyak 5 orang dan yang luka-luka sebanyak 78 orang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online