Begini Amuk Para Pendekar Silat saat Menggeruduk Boyolali

Kondisi bangunan di sisi selatan jalan Solo-Semarang pertigaan Bangak, Boyolali dirusak massa, Selasa (3/4 - 2018) malam. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
05 April 2018 15:50 WIB Akhmad Ludiyanto News Share :

Harianjogja.com, BOYOLALI - Ribuan massa dari wilayah Soloraya menggeruduk Boyolali pada Selasa (3/4/2018) malam hingga Rabu (4/4/2018) dini hari, sebagai buntut bentrok para pendekar dari dua perguruan silat yakni ormas Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Sardulo Seto (SS) beberapa waktu sebelumnya.

Massa yang menyerbu Boyolali diketahui merupakan perguruan silat ormas Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) . Di Boyolali mereka berbuat anarksi merusak warung warga. Masyarakat pun diselimuti ketakutan yang mencekam. Deretan warung menjadi sasaran aksi anarkistis massa, Selasa (3/4/2018) malam hingga Rabu (4/4/2018) dini hari. Sejumlah pemilik warung yang menjadi sasaran amuk massa mengisahkan cerita mencekam saat tiga jam mereka terjebak di warung. Dewi, 57, duduk di dalam warung yang berada di sisi selatan pabrik buku Kiky di kawasan pertigaan Bangak, Banyudono, Boyolali, Selasa malam.

Bibirnya terus memanjatkan doa agar dilindungi Tuhan. Diselimuti rasa takut yang begitu menggetarkan hatinya, Dewi dan suaminya, JP Simatupang, 61 tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan waspada.

Dia bisa merasakan suasana di luar warungnya, malam itu begitu mencekam. Dia mendengar suara banyak orang yang berteriak-teriak yang berpadu dengan suara keras dari knalpot sepeda motor yang meraung.

Malam itu ribuan pengikut satu kelompok massa dari sejumlah daerah di Soloraya datang ke kawasan pertigaan Bangak. Kedatangan mereka dengan berjalan kaki dan sebagian menaiki sepeda motor dari arah timur di jalan Solo-Semarang ini merupakan buntut peristiwa bentrok dengan kelompok massa lainnya yang terjadi malam sebelumnya. Kehadiran mereka diadang aparat Polres Boyolali dan TNI hingga suasana menjadi sangat ramai.

Masih dari dalam warung, Dewi mendengar suasana ramai itu diwarnai suara kaca pecah dan suara seng yang dipukul-pukul dengan benda keras. Di sela-sela kegduhan itu, suara letusan juga terdengar beberapa kali dan kian membuat pemilik warung makan “Bu Dewi” ini kian gemetar.

“Saya mendengar ada letusan tapi tidak tahu itu petasan atau suara tembakan. Saya hanya bisa pasrah dan terus berdoa. Saya takut sekali,” ujarnya saat ditemui Solopos.com, Rabu di warungnya.

Sempat terbersit untuk berlari keluar menyelamatkan diri menghidari massa yang dikhawatirkannya semakin anarkistis. Namun Dewi sadar tidak ada pintu keluar dari warung selain pintu depan yang berhadapan langsung dengan kerumunan massa.

“Selama tiga jam sejak pukul 22.00 WIB [Selasa] sampai pukul  01.30 WIB [Rabu] kami dalam ketakutan. Apalagi suami saya sedang sakit. Kami terjebak dan benar-benar hanya bisa pasrah. Akhirnya ada polisi yang masuk ke warung dan membawa kami keluar. Kami langsung pulang,” kata warga Desa Peni, Kecamatan Banyudono ini.

Keesokan harinya dia mendapati gerobak jusnya rusak. Kaca-kaca gerobak juga pecah dan berserakan di tanah. Sementara itu, meski peristiwa malam itu sudah berlalu, Dewi belum merasa tenang. Dia belum berencana akan tidur di warung sampai situasi benar-benar aman.

Melarikan Diri

Pemilik warung makan lain di deretan yang sama, Sunar, 50 juga mengalami ketakutan seperti Dewi. Namun dia beruntung bisa “melarikan diri” bersama suaminya sebelum massa mendekat.

“Waktu itu warung saya sudah tutup dan saya memang setiap hari tidur di sini [warung]. Saya melihat banyak orang mulai datang dari arah timur dan saya pikir malam ini ada lagi kejadian seperti kemarin [Senin] malam. Saya buru-buru pulang dengan suami saya. Saya takut ada apa-apa,” ujar warga Desa Peni, Banyudono ini.

Meski warungnya luput dari sasaran amuk massa, namun dia tetap tidak ingin peristiwa Senin malam dan Selasa malam itu terjadi lagi. Sambil mendekatkan diri kepada Solopos.com, dia berbisik, “Tolong, sampaikan kepada orang-orang itu agar kejadian seperti ini tidak ada lagi. Saya benar-benar takut,” ujarnnya sambil menenteng gelas di warungnya yang sedang dibersihkannya.

Perlengkapan warung masakan daging anjing di sebelah tambal ban itu juga dirusak. “Kayu alas tempat duduk dan karpet ikut dibakar,” ujar pemilik warung, Robi, 27, warga Sawit ini.

Robi terpaksa tidak buka warung meski sudah terlanjur memasak dua ekor anjing untuk dijual Rabu. “Terpaksa hari ini [Rabu] batal jualan. Barang-barang saya bawa pulang dulu. Kalau sudah benar-benar aman baru saya akan jualan lagi,” kata Robi yang mengaku merugi hingga Rp2 juta akibat kerusakan warungnya itu.

Sumber : Solopos