Dirjen Kebudayaan: Pelajaran Sejarah Terlalu Terikat Kronologi Waktu

Diaroma manusia purba tinggal di gua, di Museum Sangiran (Mariyana Ricky/JIBI - Solopos)
20 Oktober 2016 17:20 WIB News Share :

DIrjen Kebudayaan menyebut menyatakan ada konsep yang salah dalam sajian pembelajaran sejarah bagi siswa

Harianjogja.com,JOGJA - Direktur Jenderal Kebudayaan  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menyatakan ada konsep yang salah dalam sajian pembelajaran sejarah bagi siswa di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Hilmar menyebut, kurikulum pendidikan sejarah di sekolah cenderung menyajikan peristiwa secara kronologis.
Imbasnya, siswa menjadi tidak tertarik untuk belajar sejarah.

"Misalnya, sejarah purba yang sebenarnya merupakan paling sulit justru sajiannya diberikan pada kelas terendah. Baru kemudian secara kronologis menyajikan periode sejarah yang lebih muda," ujar Hilmar dalam workshop Kajian Kurikulum Sejarah Perguruan Tinggi dengan Kurikulum Sejarah di Sekolah yang diselenggarakan FIS UNY, Rabu (19/10/2016).

Padahal menurut dia, mempelajari sejarah purba merupakan hal paling sulit dalam pendidikan sejarah. Sedianya, menurut dia, penyampaian materi sejarah harus menyesuaikan dengan tingkat kesadaran anak dalam menerima materi.

Langsung memberikan materi tersulit pada siswa di kelas terendah justru akan menyebabkan anak didik menjadi tidak menyukai pelajaran tersebut.

Efek lebih luasnya tentu saja siswa menjadi tidak suka di materi selanjutnya. Padahal menurut Hilmar, belajar sejarah itu penting dan sangat menarik diikuti.

"Dengan belajar sejarah maka anak didik ini bisa memahami beragam persoalan dunia dan tahu cara pemecahannya. Jika anak didik memiliki minat dan rasa ingin tahu sangat tinggi, maka belajar sejarah akan menjadi suatu yang menarik," jelas Hilmar.