KAMPUS JOGJA : Berkat Alat Ini, Faisal Raih Penghargaan Kemenristek Dikti

Teuku Faisal Fathani (JIBI/Harian Jogja/dok - Humas UGM)
08 Mei 2015 21:40 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Kampus Jogja, UGM yang diwakili Teuku Faisal Fathani mendapat penghargaan tingkat nasional.

Harianjogja.com, SLEMAN-Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Teuku Faisal Fathani mendapat penghargaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek) karena mengembangkan alat deteksi longsor.

Penghargaan diberikan secara langsung oleh Menristekdikti, Mohammad Nasir dalam peringatan Hari pendidikan Nasional 2 Mei 2015 kemarin di Jakarta. Selain Faisal, penghargaan juga diberikan kepada dua peneliti UGM lainnya yakni Gde Bayu Suparta yang mengembangkan perangkat radiography digital dan Eny Harmayani yang memproduksi glukomanan untuk produk pangan.

Sejak tahun 2007 silam, Pria kelahiran Banda Aceh, 39 tahun silam ini bersama dengan Rektor UGM, Dwikorita Karnawati mengembangkan sistem peringatan dini sederhana berupa alat manual ekstensometer dan penakar hujan dalam upaya mengurangi risiko bencana longsor.

Alat pertama yang dikembangkan sudah diaplikasikan di Banjarnegara, Situbondo, dan Karanganyar serta diberbagai provinsi di China. Berkat alat deteksi dini longsor ini, warga masyarakat di Kecamatan Pagentan, Banjarnegara dapat terselamatkan dari bencana longsor yang terjadi pada November 2007 lalu.

“Alat ekstensometer yang dipasang berbunyi empat jam sebelum longsor yang menimbun 10 rumah. Bersyukur tidak ada korban jiwa karena warga telah mengungsi sebelum terjadi bencana,” jelas dosen Jurusan Teknik Sipil ini, Rabu (6/5/2015) di Kampus UGM.

Berbagai peristiwa bencana longsor yang kerap melanda sejumlah daerah di Indonesia semakin memacu Faisal bersama tim UGM untuk terus berkarya dengan membangun sistem peringatan dini generasi kedua yaitu alat ekstensometer, tiltmeter, inclinometer dan penakar hujan dengan pencatatan digital (data logger). Selanjutnya bekerjasama dengan BNPB membangun sistem peringatan dini generasi ketiga berbasis telemetri. Kini, lebih dari 100 unit alat peringatan dini telah diaplikasikan di 14 provinsi Indonesia dan sejumlah perusahaan tambang di luar negeri.

”Tahun ini juga akan mengekspor ke Vietnam dan Kroasia,”tambahnya.

Faisal menyampaikan pengembangan alat deteksi dini longsor ini selain untuk meminimalisir risiko bencana juga untuk mengurangi ketergantungan terhadap alat-alat produksi asing yang berbiaya mahal. Dengan demikian dengan pembuatan dalam negeri dapat menekan biaya produksi karena sebagian besar menggunakan bahan lokal.

“Alat impor sekitar 10 kali lipat lebih mahal dari harga alat buatan sendiri. Untuk alat ini menggunakan lebih dari 95 persen bahan lokal,” katanya sembari menambahkan dalam pembuatan melibatkan 4 bengkel industri kecil di sekitar DIY dan Jawa Tengah.