SABDA RAJA : Sultan Sebut nama Ki Ageng Giring dalam Dawuh, Siapakah Beliau?

GBPH Yudhaningrat bersalaman dengan GKR Pembanyun saat bersama-sama berkunjung di Makam Ki Ageng Giring, di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan. Senin (4/5/2015). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
07 Mei 2015 16:20 WIB News Share :

Sabda Raja yang dikeluarkan HB X sempat menyebut nama Ki Ageng Giring.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Polemik yang terjadi di Kraton Ngayogyakarta ikut pula menyeret
nama Ki Ageng Giring. Nama Ki Ageng Giring disebut dalam Sabda Raja yang dikeluarkan Sri Sultan HB X. Banyak kerabat yang melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Giring III. Siapakah Ki Ageng Giring?

Terik matahari menyinari kompleks permakaman Ki Ageng Giring III di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, Rabu (6/5/2015). Di dalam makam, rimbun pepohonan menghalau panas yang sangat menyengat. Permakaman dibagi menjadi dua, yakni kompleks utama untuk Ki Ageng Giring dan kerabat. Sementara, di sisi luar digunakan untuk permakaman umum.

Makam Ki Ageng Giring III berdiri megah karena dibuat ruangan khusus. Batu nisannya pun ditutupi dengan lembaran kain kafan. Di bagian kanan makam Ki Ageng Giring, terdapat pusara Roro Lembayung Niken Purwosari, anak Ki Ageng Giring sekaligus istri Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Sementara itu, di sisi kiri terdapat sejumlah makam kerabat dan juru kunci makam.

Ki Ageng Giring merupakan salah satu tokoh yang ikut mendirikan Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Juru Kunci Makam Penewu Surakso Suhartoyo mengatakan keberadaan petilasan Ki Ageng Giring III tak ada kaitannya dengan berdirinya Kerajaan Mataram. Sebab, laki-laki yang memiliki nama asli Kertonadi ini hanya merupakan cucu dari Ki Ageng Giring I, saudara seperguruan Ki Ageng Pamanahan, orang yang ikut mendirikan Kerajaan Mataram Islam.

Tidak ada yang tahu keberadaan makam Ki Ageng Giring I. Sebab, ada kabar ia meninggal di Gunung Lawu, dan dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Namun ada juga legenda yang mengatakan dia moksa di gunung itu.

“Tidak ada yang tahu di mana pemakaman Ki Ageng Giring I. Sebagai bentuk perhatian kepada leluhur, Sultan HB IX pada 1957 lalu memutuskan memugar makam Ki Ageng Giring III di Desa Sodo,” kata pria berusia 70 tahun itu.

Dia menjelaskan pembangunan ini tidak lepas dari peran dari kakek Ki Ageng Giring III yang ikut membantu dalam pendirian Kerajaan Mataram. Malah, saat akan mendirikan kerajaan, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring I membuat perjanjian mengenai calon raja di kerajaan tersebut.

Perjanjian itu dibuat karena Ki Ageng Pamanahan minum degan atau kelapa muda Gagak Emprit milik Ki Ageng Giring. Padahal kelapa muda pemberian Sunan Kalijaga itu dipercaya memiliki wahyu. Bagi siapa saja yang meminumnya bisa menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa.

Dia bercerita, awalnya Ki Ageng Giring sangat marah. Namun, karena Ki Ageng Pamanahan merupakan saudara seperguruan dan masih satu keturunan dari Prabu Brawijaya IV, emosinya dapat diredam.

Sebagai gantinya, Ki Ageng Giring meminta jatah sebagai raja untuk kerajaan yang akan didirikan. Namun, permintaan tersebut ditolak Ki Ageng Pamanahan. Ki Ageng Pamanahan baru mau menyerahkan jatah raja pada saat turunan ketujuh.

“Entah itu sudah takdir atau kebetulan, saat keturunan keenam dari saudara seperguruan tersebut, mereka dapat bersatu. Hasil perkawinannya melahirkan Pangeran Puger, yang menjadi Raja Mataram berikutnya dan keturunannya bertahkta hingga sekarang,” kata Hartoyo.

Menurut dia, peziarah yang datang ke petilasan Ki Ageng Giring bukan hanya kerabat Kraton. Masyarakat umum banyak yang berkunjung.

“Hampir tiap hari ada, namun kunjungan akan meningkat saat malam Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Jumat Legi. Saat Bulan Sura dan Ruwah, jumlah peziarah juga tambah banyak banyak,” ujarnya.

Mengenai masalah suksesi di Kraton, keturunan dari abdi dalem Ki Giring III itu berpendapat apa yang dilakukan Sultan HB X telah keluar dari paugeran. Kondisi saat ini berbeda dengan zaman Sultan HB IX, karena saat itu raja sangat jarang mengeluarkan Sabda Raja.

“Saya pun memohon kepada Gusti Allah agar [HB X] kembali dan menjalankan adat istiadat yang berlaku selama puluhan tahun,” ujarnya.