SABDATAMA : Jogja Bersih dalam Kebersamaan

HARIAN JOGJA - DESI SURYANTO Sri Sultan Hamengku Buwono X
17 Februari 2014 07:51 WIB News Share :

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Letusan Gunung Kelud telah menjadikan DIY dan sejumlah daerah lain diselimuti debu vulkanik yang cukup tebal. Tidak hanya mengganggu kesehatan, debu tersebut pun telah mengganggu roda ekonomi masyarakat.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan tanggap darurat selama tujuh hari terhitung sejak Sabtu 14 Februari. Berbagai pihak telah bekerja keras guna meminimalisasi akibat buruk dari debu vulkanik Kelud.

Status tanggap darurat dikeluarkan tentu tidak bermaksud untuk membuat suasana menakutkan tetapi agar semua jajaran di DIY segera menyikapi dan menangani hujan abu secara darurat. Karena bagaimanapun debu vulkanik ini sangat berbahaya. Apalagi abu yang dikeluarkan oleh Gunung Kelud berbeda dengan erupsi Merapi 2010 lalu. Abu vulkanis Gunung Kelud lebih pekat, sehingga jika terhirup manusia akan menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dan silicosis. Selain itu, abu vulanis Kelud juga bepotensi menyebabkan kecelakaan karena mengganggu jarak pandang. Kondisi tersebut harus segera ditangani secara darurat.

Apa yang terjadi memang tidak bisa dihindari. Gunung meletus adalah sebuah kewajaran demikian juga dengan dampak yang ditimbulkan. Namun sebagai manusia kita tidak bisa tinggal diam dan menyerah dengan keadaan.

Kita bisa merasakan hari-hari setelah letusan Gunung Kelud aktivitas masyarakat begitu terganggu, pasar tradisional tidak beraktivitas, banyak toko yang memilih tutup, sekolah diliburkan dan sebagainya. Lingkungan penuh dengan abu dan terlihat kusam. Debu berterbangan ke mana-mana yang tentu saja sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat.

Untuk itu kita tidak boleh diam saja. Kita harus bersama-sama, kita harus bangkit agar gerak masyarakat kembali normal.

Untuk itu Pemda DIY telah memutuskan Senin 17 Februari 2014 seluruh elemen masyarakat di DIY untuk turun ke jalan. Bersama-sama membersihkan lingkungan masing-masing. Kita berharap Selasa atau paling lambat Rabu, situasi sudah bisa membaik sehingga roda ekonomi bisa kembali bergerak.

Semua harus bahu membahu untuk gerakan bersih-bersih ini. Saya pun akan turun langsung ke lapangan. Pemilik toko jangan hanya di rumah. Tetapi juga ikut bersama karyawannya membersihkan lingkungannya supaya ekonomi cepat pulih.

Bersihkan lingkungan sendiri-sendiri. Namun warga tetap harus berhat-hati. Jika ingin membersihkan debu di genting pakailah sapu. Kalau memakai air jangan dari atas dan jangan menginjak genting karena licin sehingga berisiko. Dan jangan lupa untuk tetap menggunakan masker.

Debu vulkanik yang dibersihkan jangan sampai dibuang di sembarang tempat, terutama got karena justru akan mengganggu drainase. Kumpulkan di satu tempat dan masukkan ke dalam karung. Pemerintah daerah telah menyiapkan karung-karung untuk didrop guna menampung debu untuk kemudian bisa digunakan sebagai pupuk pertanian.

Untuk sekolah saya mengimbau bagi Pendidikan Anak Usia Dini dan SD untuk tetap libur pada Senin ini. Sementara SMP dan SMA masuk guna membersihkan lingkungan sekolah. Nanti mereka akan dibantu oleh relawan yang ada. Pakaian pun tidak perlu seragam karena dalam rangka kerja bakti. Guru dan karyawan juga harus ikut bersama-sama kerja. Kita ingin Jogja bersih dalam kebersamaan.

Marilah kita bekerja bersama-sama untuk mengembalikan daerah kita bersih. Dan semoga Tuhan yang Maha Esa melindungi kita semua.

*) disarikan dari wawancara dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X Minggu (16/2) di Kompleks Kepatihan.