Harga BBM 24 Oktober 2026, Pertamax Turbo Rp19.600 Seliter
Harga BBM 24 Oktober 2026 masih mengacu pada tarif September. Cek harga Pertalite, Pertamax, Dexlite, Shell, Vivo, dan BP-AKR.
Suasana duka di Rumah Lilik Suswanto yang berlokasi di Sagan CT 5, Sleman, Yogyakarta pada Selasa (23/4/2019)./ Harian Jogja/Kiki Luqmanul Haki
Harianjogja.com, JAKARTA- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut faktor utama yang memicu kematian hampir 500 petugas KPPS lantaran mengurus Pemilu 2019.
Ikatan Dokter Indonesia menilai kelelahan bukan menjadi faktor utama meninggalnya ratusan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019.
Ketua Umum PB IDI Daeng M. Faqih mengatakan faktor utama petugas KPPS yang gugur adalah sakit yang dialami korban. Hal itu disampaikan Faqih dalam diskusi publik dengan tajuk \'Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan\'.
"(Kelelahan) hanya salah satu faktor. Baik itu men-trigger maupun memperberat penyakit tertentu. Penyakit itu yang menyebabkan kematian. Bukan kelelahan," ujar Daeng di Sekretariat IDI Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/5/2019).
"Misalkan dia kelelahan dicampur faktor lain, terjadi gangguan jantung, gangguan jantung itu yang menyebabkan (kematian)," Daeng menambahkan.
Menurut Daeng, ratusan petugas KPPS yang meninggal tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia menyarankan untuk melakukan investigasi lebih lanjut.
Terkait itu, Daeng memastikan IDI siap untuk membantu prosesnya agar hasilnya maksimal.
"IDI sebagai organisasi profesi siap membantu semua pihak yang berwenang dan bertanggung jawab untuk melakukan penelitian mendalam dan atau investigasi yang objektif dan berbasis keilmuan," kata Daeng.
Autopsi verbal yang dilakukan Kementerian Kesehatan, kata Daeng, tidak bisa mendapat hasil maksimal. Ia menyarankan untuk membuka rekam medis korban untuk ditelusuri lebih lanjut.
"Autopsi verbal tingkat kevalidannya belum terlalu tinggi, karena yang ditanya orang lain bukan pasien yang bersangkutan. Rekam medis itu ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan korbannya. Jadi memang lebih tinggi (kevalidan) rekam medis," pungkas Daeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Harga BBM 24 Oktober 2026 masih mengacu pada tarif September. Cek harga Pertalite, Pertamax, Dexlite, Shell, Vivo, dan BP-AKR.
Bulog menargetkan pengadaan 1 juta ton jagung pada 2026 dengan mengoptimalkan gudang, fasilitas pengeringan, dan jaringan petani.
Ketum PBNU Gus Kikin mengimbau warga Sukoharjo menjaga kerukunan dan tidak terprovokasi kasus pembakaran warung mi babi serta penggeledahan ponpes.
Dinas Pariwisata DIY meluncurkan Calendar of Events 2027 dengan 203 agenda wisata untuk meningkatkan kunjungan dan lama tinggal wisatawan
Kemlu memverifikasi kabar WNI berinisial MT yang diduga tewas setelah direkrut militer Rusia dan diterjunkan berperang di Ukraina.
Veda Ega Pratama naik ke peringkat ketujuh klasemen Moto3 2026 setelah finis kedua di GP Malaysia dengan koleksi 131 poin.