Atap Kelas MTs Muhammadiyah Ambruk di Sragen, 48 Siswa Diliburkan
Atap kelas MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan Sragen ambruk saat KBM. 48 siswa diliburkan, 6 siswa luka-luka.
Lokasi pembunuhan 1 keluarga di Bekasi/Okezone-Wijayakusuma
Harianjogja.com, JAKARTA - Pembunuhan sadis terhadap satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat diduga berlatar dendam.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan kasus dugaan pembunuhan satu keluarga di Bekasi kemungkinan sudah direncanakan. Menurutnya hal itu mungkin terjadi apabila apabila kasus tersebut murni pembunuhan.
"Tidak menutup kemungkinan. Bisa direncanakan, bisa juga spontan," kata Dedi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Selasa (13/11/2018).
Dedi mengatakan, dari berbagai kasus kasus yang telah dihadapi Polri biasanya peristiwa tersebut terjadi atas dasar dendam. Namun pihaknya tidak mau menduga-duga sebab setiap kasus memiliki perbedaan.
"Kalau pembunuhan yang sadis, dari pengalaman dan dari hasil yang ditangani kepolisian, kalau sadis dan yang dibunuh bukan satu orang, itu ada latar belakang dendam. Ini dari hasil pengalaman yang sudah dikerjakan kepolisian," tuturnya.
"Tapi polisi tidak boleh menduga seperti itu, kita melihat dari fakta hukum. Case per case itu tidak bisa dibandingkan apple to apple. Setiap case punya karakter sendiri, nggak bisa sama. Secara umum oke lah, kalo secara global ya itu bisa dibilang ‘diduga’. Tapi kasus pembunuhan sadis dan lebih dari 1 orang, mayoritas karena dendam," sambung Dedi.
Dedi mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah mendalami kasus tersebut dengan teliti. Pihaknya hingga saat ini pun masih memeriksa TKP untuk mengungkap peristiwa tersebut.
"Penyidik akan lihat fakta, apakah kasus pembunuhan atau hanya untuk mengelabui suatu peristiwa. Polisi harus matang, ada Labfor, ada Inafis itu kita libatkan. Seluruh alat bukti yang diketemukan di TKP itu semuanya di assesment semuanya diambil," terangnya.
Terkait berapa lama penyelidikan TKP, Dedi mengatakan hal itu tergantung kasus yang dihadapi sebab antara satu kasus dengan yang lainnya berbeda. Bahkan tak menutup kemungkinan penyelidikan dilakukan berulang-ulang untuk mengungkap kasus tersebut
"Sangat tergantung pada casenya, dan itu juga penyidik kalau merasa di olah TKP pertama kurang mendapat [informasi], diakan polanya kan spiral jadi dari TKP dia keluar nanti misal dia diluar menemukan dia kembali lagi ke TKP lagi dia, diolah lagi, dapet lagi dia keluar lagi, gitu terus sampai betul-betul menemukan alat bukti yang betul-betul membuat satu peristiwa itu semua terpenuhi dengan alat bukti," paparnya
"Sehingga polisi nanti akan meningkatkan status seseorang itu dari mulai saksi menjadi tersangka," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Atap kelas MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan Sragen ambruk saat KBM. 48 siswa diliburkan, 6 siswa luka-luka.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Super League 2025/2026 usai menang dramatis 2-1 atas PSM Makassar di Parepare.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
Cek jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Senin 18 Mei 2026 lengkap dari Palur sampai Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Fabio Di Giannantonio menangi MotoGP Catalunya 2026 yang dua kali dihentikan akibat kecelakaan beruntun di Barcelona.
BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah DIY hingga 20 Mei 2026 akibat pengaruh fenomena MJO.