SPMB Jateng 2026 Resmi Dibuka, Daya Tampung Baru 40 Persen
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
Ma\'ruf Amin/ANTARA FOTO-Rivan Awal Lingga
Harianjogja.com, JAKARTA- Pernyataan Cawapres Ma\'ruf Amin soal buta dan budeg hingga kini menuai polemik.
Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Suhud Aliyudin menilai seharusnya Cawapres Nomor Urut 01, Ma\'ruf Amin memahami imbas dari pernyataannya terkait diksi buta dan budeg yang telah dilontarkannya.
Sebagai ulama besar, seharusnya Ma\'ruf Amin memahami bagaimana menyikapi pihak yang merasa tersinggung atas diksi tersebut.
Suhud mengatakan, dengan adanya tuntutan dari Forum Tunanetra Menggugat kepada Ma\'ruf Amin karena dinilai telah menyinggung kaum disabilitas, seharusnya hal tersebut bisa dijadikan pelajaran. Di mana Ma\'ruf Amin harus lebih berhati-hati dalam penggunaan diksi.
"Saya kira itu pelajaran bagi Cawapres KH Ma\'ruf Amin dan semua elit politik, untuk berhati-hati dalam menggunakan diksi agar tidak menyinggung pihak lain," kata Suhud kepada Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Selasa (13/11/2018).
Soal permintaan maaf, Suhud memastikan apabila Ma\'ruf Amin sudah paham terlebih ia adalah sosok ulama besar.
Selain itu, kata Suhud, sebaiknya kampanye Pemilu 2019 kali ini para kandidat capres-cawapres harus lebih fokus kepada isu-isu yang berkaitan dengan kondisi masyarakat yang sesungguhnya, seperti masalah ekonomi.
"Soal maaf memaafkan, saya kira KH Ma\'ruf Amin seorang ulama besar lebih paham soal itu. Beliau lebih paham soal itu. Sebaiknya kampanye fokus pada penyelesaian persoalan bangsa, seperti masalah ekonomi," pungkasnya.
Untuk diketahui, Forum Tunanetra Menggugat menuntut Ma\'ruf Amin meminta maaf kepada seluruh penyandang disabilitas netra se-Indonesia karena dinilai menyinggung perasaan dan terkesan mendiskreditkan mereka.
Sekretaris Forum Tunanetra Menggugat, Yudi Yusfar mengatakan, pernyataan Ma\'ruf itu sangat tendensius dan mendiskreditkan kaum tunanetra. Sebanyak 23 organisasi tunanetra se-Indonesia merasa terganggu dengan pernyataan itu.
Forum Tunanetra Menggugat tersebut menuntut Ma\'ruf Amin meminta maaf secara terbuka selambat-lambatnya dalam waktu 10 hari sejak Senin 12 November 2018. Jika tak juga meminta maaf, kalangan disabilitas netra akan melakukan langkah-langkah lebih lanjut.
Namun tuntutan tersebut sudah dijawab oleh Maruf Amin. Menurutnya ada kesalahan dalam pemahaman tentang apa yang disampaikannya.
Ma\'ruf Amin menyatakan, pernyataannya tak menyinggung fisik. Namun yang dimaksud Ma\'ruf yakni buta hati karena masih mempertanyakan kinerja Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
"Itu kan salah paham. Yang saya maksud buta itu bukan buta mata, bukan budeg telinga tapi buta hati. Matanya nggak buta, jadi nggak ada hubungannya dengan fisik ya," ujar Ma\'ruf Amin di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/11/2018).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.