Kebakaran TPA Jatibarang Semarang, 22 Warga Batuk dan Sesak Napas
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang memasuki hari kelima. Sebanyak 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat terdampak asap.
Mark Zuckerberg, CEO Facebook/mashable
Harianjogja.com, JOGJA- Facebook semakin agresif menindaklanjuti laporan penyalahgunaan sosial media dengan menghapus ratusan akun dari Rusia yang diduga menjadi pabrik penyebar berita palsu alias hoaks.
Facebok mengatakan sebagian besar akun dan postingan yang dihapus tersebut berasal dari Federal News Agency (FAN) yang berkedudukan di Rusia. Menurut perusahaan itu, FAN secara teknologis dan struktural terhubung dengan badan Internet Research Agency yang berkantor di St. Petersburg.
Facebook mengatakan akun-akun dalam jaringan FAN punya pengikut sekitar satu juta orang di Facebook dan 500.000 di Instagram.
CEO Facebook, Mark Elliot Zuckerberg, mengatakan, “FAN sudah berulangkali menipu dan memanipulasi banyak orang dari berbagai belahan dunia, dan kami tidak akan membiarkan mereka hadir di Facebook.”
Perusahaan sosial media terbesar di dunia itu kini tengah mendapat tekanan besar untuk memperbaiki perlindungan privasi terhadap pengguna setelah munculnya kabar sekitar 50 juta informasi pengguna jatuh ke tangan badan konsultansi politik Cambridge Analytica, yang pernah bekerja untuk tim kampanye Donald Trump.
Zuckerberg mengatakan kini mereka akan menghapus postingan yang bukan hoaks namun disebar oleh akun palsu yang punya sejarah menyebar berita palsu. "Dari bukti yang kami kumpulkan, jelas bahwa organisasi-organisasi itu dikuasai dan dioperasikan oleh Internet Reasearch Agency (IRA)," kata dia.
Pada Februari lalu, IRA adalah salah satu dari tiga perusahaan Rusia yang didakwa oleh kejaksaan khusus Amerika Serikat dengan tudingan turut campur dalam pemilu presiden dan mendukung Trump dengan menyebar berita negatif tentang kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Sebuah media di Rusia pada tahun lalu juga melaporkan FAN dan IRA pernah mempunyai alamat yang sama.
Sementara itu pada September lalu, Facebook mengatakan Rusia menggunakan Facebook untuk mencampuri politik dalam negeri Amerika Serikat, dengan mengunggah postingan di sosial media melalui akun palsu selama beberapa bulan menjelang pemungutan suara 2016 yang dimenangi Trump.
Zuckerberg pada Selasa mengatakan mesin berkecerdasan artifisial yang dikembangkannya telah membantu melacak hubungan postingan-postingan itu dengan IRA. Dia menegaskan Facebook akan segera melakukan hal yang sama jika ada postingan bukan "hoax" namun disebar oleh kelompok manipulator seperti IRA.
"Kami akan beroperasi sesuai dengan prinsip kami. Kami tidak akan membiarkan orang-orang untuk membuat akun palsu, dan jika Anda berulangkali membuat akun palsu untuk menyebar kebohongan, maka kami akan menghapus semua akun Anda," kata Zuckerberg.
Facebook tengah berupaya melacak semua akun dalam jaringan IRA, yang terlibat dalam pendanaan akun-akun pro-Trump, pro-pengetatan perbatasan, dan sejumlah topik-topik lainnya. Kebijakan terbaru Facebook ini diperkirakan akan mendapat balasan keras dari otoritas internet Rusia.
Pada Oktober lalu, Google sempat menghapus berita-berita FAN dari indeks pencarian mereka. Langkah itu kemudian direspons oleh otoritas media Roskomnadzor yang meminta penjelasan dari Google. Tidak lama setelahnya, Google kembali menampilkan FAN dalam indeks pencarian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang memasuki hari kelima. Sebanyak 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat terdampak asap.
DPRD Kota Jogja mendorong pariwisata diperluas ke wilayah selatan melalui penguatan kampung wisata berbasis budaya dan ekonomi warga.
Distribusi MBG sistem prasmanan membuat istirahat kedua siswa SDN Soprayan dipangkas dari 30 menit menjadi sekitar 10 menit.
WJNC 2026 berlangsung di Malioboro hingga Titik Nol Jogja. Wisatawan memadati sepanjang rute untuk menyaksikan parade budaya.
Pesanggrahan Ambarketawang di Gamping, Sleman, menjadi pusat pemerintahan pertama Kasultanan Jogja sekaligus cikal bakal Kraton Jogja.
Penumpang WNA KAI Daop 6 mencapai 264.335 orang hingga September 2026, naik 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.