BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Layani Siswa secara Prasmanan

Newswire
Newswire Selasa, 13 Oktober 2026 21:37 WIB
BGN Targetkan 5.000 Dapur MBG Layani Siswa secara Prasmanan

Siswa SDN Soprayan sedang antre untuk menerima program Makan Bergizi Gratis di SDN Soprayan, Kalurahan Girikerto, Turi, Sleman, Rabu (7/10/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan sebanyak 5.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melaksanakan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan pada akhir 2026. Sebelum diterapkan lebih luas, pemerintah masih mengevaluasi uji coba yang berlangsung di 62 SPPG di seluruh Indonesia.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan uji coba tersebut telah berlangsung selama dua minggu terakhir. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas pelayanan MBG secara prasmanan sekaligus mengidentifikasi dampak positif dan negatif penerapannya.

"Saat ini, kami sedang melihat bagaimana efektivitas pelaksanaan Program MBG secara prasmanan, apa dampak positif dan negatifnya. Ada 62 SPPG sedang melaksanakan Program MBG secara prasmanan sejak dua minggu terakhir," katanya saat berada di Banda Aceh, Selasa (13/10/2026).

Menurut Sudaryono, hasil evaluasi akan menjadi pertimbangan untuk memperluas penerapan sistem tersebut. Jika uji coba menunjukkan hasil positif, BGN menargetkan sebanyak 1.000 hingga 5.000 SPPG atau dapur MBG dapat melayani siswa dengan sistem prasmanan.

Bangun Kemandirian Siswa

Sudaryono menilai penerapan sistem prasmanan tidak hanya berkaitan dengan cara menyajikan makanan kepada siswa. Metode tersebut juga dinilai dapat menjadi sarana edukasi untuk membangun kemandirian pelajar.

Ia mengatakan Aceh memiliki potensi untuk menerapkan sistem pelayanan MBG tersebut. Menurut dia, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya pelaksanaan teknisnya, tetapi juga nilai pendidikan yang bisa diperoleh siswa selama menerima makanan.

"Untuk Aceh sendiri sangat memungkinkan pelaksanaan Program MBG secara prasmanan. Kita jangan melihat pelaksanaannya, tetapi ada edukasi yang membangun kemandirian pelajar dalam penyaluran MBG secara prasmanan," katanya.

Melalui pelayanan prasmanan, siswa juga berkesempatan mengambil makanan tambahan apabila masih menginginkannya. Sudaryono menyebut kondisi tersebut membuat tingkat kehabisan makanan relatif tinggi.

Selain itu, makanan yang disajikan dengan sistem prasmanan dinilai lebih hangat dan segar saat dikonsumsi. Dengan demikian, metode penyajian ini memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pelayanan makanan yang telah dibagikan sebelumnya.

Budaya Antre

BGN juga melihat sistem prasmanan sebagai kesempatan untuk membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Menurut Sudaryono, proses pengambilan makanan dapat melatih siswa untuk mengantre, bersabar, dan saling membantu.

Kesempatan mengambil makanan tambahan menjadi salah satu hal yang ditawarkan dalam sistem tersebut. Siswa yang masih menginginkan makanan dapat mengambilnya melalui mekanisme prasmanan.

Meski demikian, penerapan sistem ini tidak akan dilakukan tanpa mempertimbangkan kesiapan pihak yang terlibat. BGN akan melihat kemampuan SPPG dan sekolah serta tingkat partisipasi siswa sebelum pelayanan MBG prasmanan diterapkan.

"Penerapan sistem prasmanan ini juga dilihat dari kemampuan SPPG dan sekolah, serta partisipasi siswa. Kalau semuanya siap, tentu pelayanan MBG secara prasmanan siap dilaksanakan," kata Sudaryono.

Dengan masih berlangsungnya uji coba di 62 SPPG, BGN akan menggunakan hasil evaluasi sebagai dasar untuk menentukan perluasan program. Targetnya, hingga akhir 2026, sebanyak 5.000 dapur MBG dapat menjalankan pelayanan prasmanan apabila hasil uji coba mendukung penerapan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online