Curah Hujan Kalsel Rendah, Menhut Ingatkan Risiko Karhutla hingga November

Newswire
Newswire Senin, 12 Oktober 2026 20:27 WIB
Curah Hujan Kalsel Rendah, Menhut Ingatkan Risiko Karhutla hingga November

Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di salah satu wilayah Kalimantan./Istimewa-Badan Komunikasi Pemerintah\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kondisi kering di Kalimantan Selatan menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta seluruh unsur terkait menjaga kesiapsiagaan karena hujan alami di wilayah tersebut diperkirakan baru turun pada pertengahan November 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan mencatat curah hujan di seluruh wilayah provinsi itu berada dalam kategori rendah pada periode 1–10 Oktober 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.

Di tengah situasi itu, Raja Juli meminta pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, serta relawan memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran kembali meluas.

“Karena seperti yang disampaikan oleh BMKG, hujan alami itu baru akan hadir di Kalimantan Selatan ini pada pertengahan November atau dasarian kedua November,” ujar Raja Juli saat meninjau penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, seluruh pihak masih perlu menjaga kewaspadaan selama menunggu hujan. Upaya pengendalian harus dilakukan secara terkoordinasi agar kebakaran tidak kembali membesar.

Raja Juli secara khusus mengingatkan risiko kebakaran di kawasan gambut. Jika penanganan lengah, kebakaran berpotensi kembali terjadi dan berkembang.

“Karena apabila kita lengah, Anda tahu di basisnya gambut, maka kebakaran ini satu waktu akan bisa meledak kembali,” katanya.

Karena itu, dia berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan, petugas pemadam, dan relawan terus menjaga kesiapan di lapangan hingga hujan alami diperkirakan tiba.

Raja Juli menyatakan optimistis koordinasi lintas instansi dapat membantu menjaga kondisi karhutla di Kalimantan Selatan tetap terkendali.

“Insyaallah saya percaya ya dengan koordinasi yang sangat baik,” ujarnya.

Sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu 1.673 penerbangan berjadwal dalam negeri di Indonesia selama periode 9 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Citilink Indonesia menjadi maskapai dengan jumlah penerbangan terdampak terbanyak, yakni 478 penerbangan.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat gangguan tersebut meliputi keterlambatan, pembatalan atau penundaan, pengalihan ke bandara lain, hingga pesawat yang kembali ke bandara keberangkatan. Asap karhutla yang mengurangi jarak pandang di sejumlah bandar udara menjadi salah satu faktor utama gangguan operasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online