KNKT Soroti Latihan Darurat Kapal Roro yang Masih Formalitas

Newswire
Newswire Sabtu, 19 September 2026 07:17 WIB
KNKT Soroti Latihan Darurat Kapal Roro yang Masih Formalitas

KNKT menilai latihan kedaruratan di kapal roro masih formalitas. Simulasi menemukan kendala hidran, pakaian antiapi, dan life jacket. /Marine Traffic.

Harianjogja.com, JAKARTA— Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai penanganan kedaruratan di kapal roro masih belum maksimal. Kondisi tersebut dinilai dapat memperburuk dampak ketika terjadi kecelakaan dan menyebabkan banyak korban.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan latihan penanganan kedaruratan di kapal masih sebatas formalitas. Menurut dia, latihan tersebut seharusnya menjadi keharusan bagi awak kapal.

"Latihan (penanganan kedaruratan) di kapal itu masih sebatas formalitas belum menjadi satu keharusan," kata Soerjanto dalam webinar yang diselenggarakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan dipantau di Jakarta, Jumat (18/9) malam.

KNKT temukan sejumlah kendala

Soerjanto mengatakan kesimpulan tersebut berdasarkan hasil investigasi KNKT serta praktik yang dilakukan di lapangan. Penanganan keadaan darurat di kapal masih ditemukan belum maksimal ketika kecelakaan terjadi.

Karena itu, dia menilai pelatihan tanggap darurat harus menjadi kebutuhan untuk membiasakan awak kapal menghadapi kondisi darurat. Latihan tersebut juga diperlukan agar awak mampu menjalankan prosedur tanggap darurat dengan baik.

"Jadi latihan tanggap darurat bukan ditunjukkan untuk keberhasilan tapi untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan agar dapat dilakukan penyempurnaan," ujarnya.

KNKT, lanjut Soerjanto, pernah melakukan simulasi tanggap darurat di kapal. Dari simulasi tersebut ditemukan sejumlah kendala, mulai dari penanganan kebakaran, penggunaan jaket pelampung, hingga minimnya kapal penolong.

Dalam simulasi kebakaran, petugas mengalami kesulitan ketika hendak menggunakan selang hidran. Peralatan tersebut tidak dapat digunakan dengan baik karena terdapat sejumlah hambatan, terutama ketika kapal dalam kondisi penuh muatan.

"Kenapa banyak gagal ketika kebakaran, hidrannya tidak berfungsi dengan baik karena memang ternyata setelah kita praktekkan banyak hambatan," katanya.

Pakai pakaian antiapi hingga 8 menit

Kendala lain ditemukan saat petugas menggunakan pakaian anti api. Menurut Soerjanto, proses pemakaiannya membutuhkan waktu sekitar lima sampai delapan menit dan harus dilakukan oleh dua orang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam latihan tanggap darurat. Simulasi diperlukan untuk mengetahui berapa lama awak dapat menggunakan perlengkapan keselamatan sekaligus menemukan hambatan yang muncul saat kondisi darurat.

Selain perlengkapan pemadam kebakaran, KNKT juga mengamati penggunaan life jacket atau jaket pelampung. Perlengkapan keselamatan tersebut ternyata juga membutuhkan waktu beberapa menit untuk dikenakan.

Soerjanto mengatakan hasil pengamatan menunjukkan awak kapal maupun orang yang bukan kru kapal membutuhkan waktu rata-rata tiga sampai enam menit untuk menggunakan life jacket.

"Kita amati setelah kita lakukan briefing terus kita minta teman-teman baik kru kapal maupun yang bukan kru kapal ternyata rata-rata mereka menggunakan life jacket antara tiga menit sampai enam menit," katanya menambahkan.

Temuan tersebut, menurut KNKT, menunjukkan pentingnya latihan tanggap darurat dilakukan secara nyata dan berulang. Dengan demikian, kelemahan dalam prosedur maupun penggunaan peralatan keselamatan dapat diketahui untuk kemudian dilakukan penyempurnaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online