Xiaomi Siapkan Soft Light Glass, Cek HP yang Kebagian
Xiaomi menyiapkan Soft Light Glass di HyperOS 4 dengan tampilan transparan mirip iOS 26. Cek daftar HP dan tablet yang kebagian.
Kebakaran hutan - Harian Jogja/dok
Harianjogja.com, JOGJA— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki fase yang mendapat perhatian serius dari lembaga pemantau atmosfer dunia. Data satelit menunjukkan aktivitas kebakaran musiman mulai meningkat sejak akhir Juli 2026, terutama di Kalimantan, disertai kenaikan emisi dan penyebaran kabut asap ke sejumlah wilayah.
Pemantauan itu dilakukan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), layanan pemantauan atmosfer yang diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk program observasi Bumi Uni Eropa, Copernicus.
Dalam laporan terbarunya, CAMS mencatat aktivitas kebakaran di Indonesia pada musim kemarau tahun ini lebih kuat dibandingkan beberapa tahun terakhir. Pada tahap awal, konsentrasi kebakaran terutama terlihat di Pulau Borneo, khususnya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan data BMKG, pada Dasarian I Agustus 2026 sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Pada periode yang sama, curah hujan juga didominasi kategori rendah yang mencakup sekitar 90,79% wilayah Indonesia.
Emisi Karhutla dan Kabut Asap Mulai Meningkat
CAMS tidak sekadar menghitung titik panas dari aktivitas kebakaran. Lembaga tersebut menggunakan Global Fire Assimilation System (GFAS) untuk memantau aktivitas kebakaran sekaligus memperkirakan emisi yang dilepaskan ke atmosfer.
GFAS memanfaatkan pengamatan satelit terhadap Fire Radiative Power (FRP), yakni energi yang dilepaskan oleh kebakaran aktif. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan intensitas kebakaran dan emisi akibat pembakaran biomassa secara mendekati waktu nyata.
Hasil pemantauan CAMS menunjukkan emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional Indonesia mengalami peningkatan.
Senior Scientist ECMWF yang bekerja untuk CAMS, Mark Parrington, mengatakan perkembangan kebakaran di Indonesia memiliki pola yang serupa dengan musim kebakaran pada tahun-tahun El Niño sebelumnya.
"Untuk Indonesia, emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Niño sebelumnya," kata Parrington.
CAMS akan terus memantau perkembangan aktivitas kebakaran dan dampaknya terhadap kualitas udara dalam beberapa pekan mendatang.
Data emisi dari GFAS juga dimasukkan ke dalam sistem prakiraan komposisi atmosfer ECMWF. Sistem tersebut memungkinkan CAMS memperkirakan pergerakan asap dan polutan yang terbawa angin serta dampaknya terhadap kualitas udara selama beberapa hari berikutnya.
Asap Terdeteksi di Kalimantan hingga Sumatra
Temuan CAMS sejalan dengan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan pantauan satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan serta Sumatra bagian tengah dan selatan.
Sebagian asap kemudian terbawa pola angin dan meluas ke wilayah di sekitarnya. BMKG juga melaporkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
Kondisi cuaca yang relatif kering menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran tetap perlu diwaspadai.
7
Mengapa Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian CAMS adalah keberadaan lahan gambut di Kalimantan. Karakteristik kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan karena api dapat menjalar hingga lapisan organik di bawah tanah.
Gambut terbentuk dari material organik yang menumpuk dalam waktu sangat panjang. Ketika mengering, material tersebut menjadi lebih mudah terbakar.
Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat dan membara di lapisan organik bawah permukaan. Kondisi ini membuat kebakaran lebih sulit dikendalikan.
Bahkan ketika api di permukaan terlihat sudah padam, bara di bawah tanah masih dapat bertahan dan kembali muncul ke permukaan.
Pembakaran material organik dalam jumlah besar juga menghasilkan asap dan partikulat yang dapat menurunkan kualitas udara.
Karena itu, pemantauan CAMS tidak berhenti pada lokasi titik api. Melalui GFAS, aktivitas kebakaran dianalisis berdasarkan intensitasnya dan emisi yang dilepaskan ke atmosfer.
CAMS kemudian memantau pergerakan smoke plume atau kepulan asap setelah dilepaskan dari sumber kebakaran. Informasi tersebut membantu menggambarkan potensi penyebaran polutan ke wilayah lain.
El Niño Berpotensi Memperburuk Musim Karhutla
CAMS memperingatkan musim kebakaran Indonesia pada 2026 berpotensi menjadi periode yang sulit karena kondisi El Niño yang kuat di kawasan Pasifik ekuator.
Fenomena El Niño kerap berkaitan dengan kondisi yang lebih kering di Indonesia. Situasi tersebut dapat semakin kuat apabila berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Dalam catatan CAMS, kebakaran hebat pernah terjadi di Indonesia pada sejumlah periode El Niño, termasuk 1997, 2005/2006, 2015, 2019, dan 2023.
CAMS menilai kondisi 2026 berpotensi mengikuti pola tersebut.
Aktivitas kebakaran juga tidak hanya ditemukan di Kalimantan. Kebakaran parah terdeteksi di Papua Selatan, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Wasur yang memiliki ekosistem lahan basah dan sabana.
Kebakaran turut terpantau di sejumlah wilayah Sumatra.
Kabut Asap Mulai Berdampak Lintas Wilayah
Dampak karhutla Indonesia tidak berhenti di lokasi kebakaran. Asap yang terbawa angin telah menyebar secara regional dan memengaruhi sejumlah wilayah di dalam maupun luar Indonesia.
Di Kalimantan Barat, kabut asap bahkan menyebabkan puluhan sekolah di Pontianak ditutup. Dampaknya juga terpantau hingga Singapura dan Malaysia.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan aktivitas karhutla bukan hanya persoalan titik api di peta. Ketika kebakaran menghasilkan emisi dalam jumlah besar, asap dan polutan dapat bergerak mengikuti pola angin menuju wilayah yang jauh dari sumber kebakaran.
Bagi masyarakat, perkembangan tersebut berarti kualitas udara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan selama musim kemarau. Risiko terutama meningkat ketika aktivitas kebakaran terus berlangsung dan kondisi atmosfer mendukung penyebaran asap.
Pemantauan Satelit Jadi Peringatan Dini
Copernicus merupakan program observasi Bumi Uni Eropa, sedangkan ECMWF merupakan lembaga riset sekaligus pusat operasional prakiraan cuaca global yang menjalankan CAMS.
Melalui pemantauan satelit, data kebakaran tidak hanya digunakan untuk mengetahui lokasi titik panas. Informasi mengenai intensitas api, emisi, pergerakan asap, hingga potensi dampaknya terhadap kualitas udara dapat dianalisis secara terintegrasi.
Meningkatnya aktivitas karhutla di Kalimantan pada Agustus 2026 dengan demikian menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Kondisi kemarau, potensi pengaruh El Niño, keberadaan lahan gambut, serta pergerakan asap lintas wilayah membuat pengendalian kebakaran menjadi semakin penting.
Data CAMS menunjukkan bahwa banyaknya titik api yang terlihat belakangan bukan sekadar fenomena visual di peta. Aktivitas kebakaran, emisi, dan kabut asap Indonesia memang tengah mengalami peningkatan sehingga perkembangan dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi perhatian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Xiaomi menyiapkan Soft Light Glass di HyperOS 4 dengan tampilan transparan mirip iOS 26. Cek daftar HP dan tablet yang kebagian.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menghadirkan berbagai pilihan transportasi bagi masyarakat yang ingin mengunjungi BNI wondrX 2026 di ICE BSD
Thai Honda meluncurkan New Honda Monkey EX Custom Edition bergaya balap BAJA di Thailand dengan harga 121.900 baht atau sekitar Rp66 juta.
Wisata jip Gumuk Pasir Parangtritis menawarkan tiga paket mulai Rp400.000, lengkap dengan rute pantai, offroad dan dokumentasi gratis.
Lionel Messi didenda MLS setelah menampar bagian belakang leher Quinn Sullivan dalam laga Inter Miami vs Philadelphia Union.
Tiga HP rugged untuk pemadam kebakaran dengan sertifikasi IP68, IP69K dan MIL-STD-810H, serta pilihan baterai hingga 25.500 mAh.