10 Ribu Lebih Meninggal, Rekor Suhu Pecah di Prancis dan Spanyol

Jumali
Jumali Senin, 13 Juli 2026 10:17 WIB
10 Ribu Lebih Meninggal, Rekor Suhu Pecah di Prancis dan Spanyol

Ilustrasi cuaca panas./ Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Negara-negara di Eropa melaporkan lebih dari 10.000 kematian selama periode gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor dan menghantam kawasan barat benua tersebut pada akhir Juni 2026.

Berdasarkan data resmi yang dirilis EuroMOMO, jaringan pemantauan kematian yang didukung oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 10.650 kematian tercatat pada periode 22 hingga 28 Juni 2026, mengutip The Korea Times, Senin (13/7/2026).

Data EuroMOMO dihimpun dari statistik kematian nasional di 27 negara Eropa dan mencakup seluruh penyebab kematian, bukan hanya yang berkaitan langsung dengan cuaca panas. Periode pelaporan bertepatan dengan puncak gelombang panas yang melanda Prancis, Spanyol, Inggris, serta sejumlah negara Eropa lainnya.

"Terjadinya angka kematian berlebih seperti ini pada waktu seperti ini di tahun ini sungguh tidak biasa. Angkanya sangat tinggi," kata Lasse Vestergaard, kepala dokter di Statens Serum Institut Denmark yang mengelola EuroMOMO, kepada Reuters.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 9.000 kematian terjadi pada kelompok usia 65 tahun ke atas atau lansia yang menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak suhu ekstrem, karena panas dapat memicu serangan panas alias heatstroke hingga memperburuk penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.

"Sulit untuk menjelaskan tingginya angka kematian berlebih ini selain karena panas ekstrem," tambah Vestergaard.

EuroMOMO tidak memerinci jumlah kematian berlebih di masing-masing negara. Namun, lembaga tersebut mencatat Prancis dan Belgia menjadi dua negara dengan tingkat kematian ekstrem masuk dalam kategori sangat tinggi pada pekan terakhir Juni. Data ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan di kedua negara tersebut menghadapi tekanan luar biasa akibat lonjakan pasien yang terkena dampak panas.

Para ilmuwan menilai gelombang panas yang melanda negara-negara Eropa pada akhir Juni tersebut hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Perubahan iklim dinilai mengakibatkan gelombang panas terjadi lebih sering, dengan intensitas yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama.

Selain korban jiwa, gelombang panas di Eropa juga menyebabkan gangguan pasokan listrik, penutupan sekolah, serta memecahkan berbagai rekor suhu di Prancis, Spanyol, dan Inggris.

Di Prancis, suhu di beberapa kota mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, memaksa otoritas setempat menutup sementara sejumlah tempat wisata dan membatasi aktivitas di luar ruangan.

Spanyol juga mencatat rekor suhu tertinggi di wilayah Andalusia, sementara Inggris mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius yang memicu peringatan kesehatan nasional. Para ahli memperingatkan bahwa gelombang panas semacam ini akan semakin sering terjadi jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikurangi.

Masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan pada siang hari, memperbanyak minum air putih, dan memeriksa kondisi lansia serta kelompok rentan di sekitar mereka. Pemerintah negara-negara Eropa pun mulai menyusun rencana aksi jangka panjang untuk menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Kematian 10.650 jiwa dalam sepekan menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sudah menjadi kenyataan pahit yang memakan korban nyata saat ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online