IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Tertekan Sentimen Global
IHSG melemah ke 5.984 dipicu sentimen global, geopolitik, dan sikap hati-hati investor jelang keputusan The Fed.
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani. Istimewa.
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan cara masyarakat mengakses informasi di era digital menjadi tantangan besar bagi industri media lokal. Di tengah persaingan dengan berbagai platform digital dan media sosial, perusahaan pers dinilai tidak lagi cukup mengandalkan kecepatan menyajikan berita, tetapi harus memperkuat kepercayaan publik, kredibilitas, dan kualitas jurnalisme agar tetap relevan dan berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Workshop Membangun Media Lokal Berkelanjutan yang digelar di Isvara Riverside, Sleman, Rabu (8/7/2026). Forum ini mempertemukan praktisi media, akademisi, dan para pemangku kepentingan untuk membahas strategi menjaga eksistensi media lokal di tengah disrupsi digital.
Komdigi: Transformasi Digital Tak Bisa Dihindari
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, mengatakan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar, tidak hanya bagi industri media, tetapi juga hampir seluruh sektor kehidupan.
"Perubahan yang kita hadapi sangat signifikan. Teknologi bukan hanya mendisrupsi media, tetapi juga berbagai sektor lain," ujarnya.
Menurut Farida, kompetisi bisnis media kini semakin ketat. Jumlah platform penyedia informasi terus bertambah, sementara pertumbuhan pasar dan pendapatan industri media tidak berkembang secepat peningkatan jumlah pemain.
Kondisi tersebut membuat media konvensional maupun digital harus bersaing memperebutkan ceruk bisnis yang semakin terbatas.
Meski demikian, ia menegaskan ukuran keberhasilan media saat ini bukan lagi sekadar menjadi yang tercepat dalam mempublikasikan informasi.
"Media harus mampu menghadirkan informasi yang terpercaya di ruang publik, khususnya di ruang digital. Oleh karena itu, media harus terus bertransformasi menjadi media yang kredibel," katanya.
Krisis Kepercayaan Jadi Tantangan Industri Pers
Pandangan serupa disampaikan Ketua Komite Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Muhammad Jazuli. Ia menilai industri media saat ini menghadapi krisis kepercayaan akibat maraknya penyebaran hoaks, penggunaan judul yang bersifat clickbait, hingga praktik pemberitaan dengan framing negatif demi mengejar trafik.
Menurut Jazuli, kondisi tersebut turut mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. "Kalau dulu masyarakat lebih banyak membaca berita, sekarang mereka lebih banyak menonton konten di media sosial," ujarnya.
Ia menyoroti semakin banyaknya konten yang diproduksi oleh pengguna media sosial (user-generated content), sementara sebagian besar pembuat konten tidak memahami kode etik jurnalistik maupun regulasi pers.
Karena itu, media arus utama memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena seluruh proses jurnalistiknya terikat oleh berbagai aturan, mulai dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pedoman Dewan Pers, Undang-Undang Penyiaran, hingga berbagai regulasi lain yang mengatur produk jurnalistik berbasis teks, audio, maupun video.
"Kepercayaan masyarakat menjadi kebutuhan utama. Jika kepercayaan itu hilang, media juga akan kehilangan audiens sekaligus legitimasi," tegasnya.
Menurut Jazuli, modal utama perusahaan pers bukan hanya teknologi atau tingginya jumlah pembaca (pageviews), melainkan kepercayaan yang diberikan masyarakat.
Jurnalisme Positif Dinilai Mampu Mendorong Perubahan Sosial
Dalam workshop tersebut, para narasumber juga menekankan pentingnya media menjalankan fungsi sosial, tidak hanya sebagai penyampai informasi.
Media lokal dinilai memiliki peran strategis dalam membangun optimisme masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, serta menghadirkan narasi yang mendorong nilai kemanusiaan dan nasionalisme. Konsep jurnalisme positif menjadi salah satu pendekatan yang didorong dalam praktik jurnalistik.
Pendekatan tersebut bukan berarti menutupi persoalan yang terjadi di masyarakat, melainkan tetap menyajikan fakta secara utuh dengan orientasi pada solusi (solution-oriented journalism) sehingga mampu memberikan harapan dan perspektif konstruktif kepada publik.
Seluruh narasumber sepakat bahwa keberlanjutan media pada masa mendatang sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga akurasi data, transparansi, dan keberpihakan terhadap kepentingan publik.
Empat Prinsip Menjaga Kualitas Pemberitaan
Sebagai langkah menjaga kualitas karya jurnalistik sekaligus meminimalkan dampak psikologis negatif kepada masyarakat, peserta workshop didorong menerapkan empat prinsip utama sebelum mempublikasikan berita, yaitu:
Forum tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Dewan Pers, perusahaan media, akademisi, hingga jurnalis untuk membangun ekosistem media yang sehat.
Regulasi yang adaptif dinilai harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di industri pers sehingga media lokal mampu terus berkembang, menjaga profesionalisme, sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat di tengah perubahan lanskap digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IHSG melemah ke 5.984 dipicu sentimen global, geopolitik, dan sikap hati-hati investor jelang keputusan The Fed.
BRIN menargetkan Satelit NEO-1 meluncur Januari 2027. Satelit observasi bumi ini memiliki TKDN 65% dan mendukung pemetaan hingga mitigasi bencana.
BKKBN menyebut mayoritas generasi muda Indonesia tetap ingin menikah dan memiliki anak, meski terkendala faktor ekonomi dan perumahan.
Pertamina Patra Niaga memberhentikan awak mobil tangki BBM yang viral merokok saat bertugas karena melanggar prosedur keselamatan HSSE.
Bantuan air bersih mulai disalurkan kepada warga terdampak kekeringan di Gunungkidul oleh BPBD dan kapanewon di sejumlah kalurahan.
Prabowo menyebut relief Ramayana di Candi Prambanan menjadi saksi kedekatan peradaban Indonesia dan India selama lebih dari 1.000 tahun.