Status Gunung Soputan Masih Waspada, Pendaki Dilarang Dekat Kawah

Newswire
Newswire Sabtu, 13 Juni 2026 09:27 WIB
Status Gunung Soputan Masih Waspada, Pendaki Dilarang Dekat Kawah

Foto ilustrasi mendaki gunung, dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, MANADO—Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Soputan di Sulawesi Utara. Hingga akhir Mei 2026, gunung api tersebut masih berstatus Level II atau Waspada dengan sejumlah rekomendasi yang harus dipatuhi guna menghindari potensi bahaya erupsi.

Salah satu imbauan utama yang disampaikan adalah larangan beraktivitas di area dekat kawah. Masyarakat diminta tidak memasuki maupun melakukan kegiatan dalam radius 1,5 kilometer dari puncak Gunung Soputan karena masih terdapat potensi ancaman vulkanik.

Pelaksana Tugas Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 31 Mei 2026 menunjukkan tingkat aktivitas Gunung Soputan tetap berada pada Level II (Waspada).

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 31 Mei 2026, tingkat aktivitas Gunung Soputan tetap pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini," kata Lana Saria dalam evaluasi Gunung Soputan yang diterima di Manado, Sabtu.

Selain menjauhi kawasan puncak, Badan Geologi juga meminta warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar Gunung Soputan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu terjadi hujan abu vulkanik akibat erupsi.

Aktivitas Gempa Masih Didominasi Gempa Tektonik

Berdasarkan hasil pemantauan kegempaan pada periode 16-31 Mei 2026, aktivitas Gunung Soputan didominasi gempa tektonik jauh. Seismograf mencatat 11 kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta 104 kali gempa tektonik jauh selama periode pengamatan tersebut.

Sementara dari hasil pengamatan visual, petugas tidak mencatat adanya guguran material dari puncak gunung. Asap kawah teramati dengan ketinggian maksimum sekitar 30 meter dari puncak.

Secara instrumental, aktivitas seismik Gunung Soputan masih menunjukkan dominasi gempa tektonik. Tingginya aktivitas kegempaan tersebut belum diikuti dengan indikasi migrasi magma menuju permukaan.

Badan Geologi juga menyebutkan bahwa hasil pemantauan deformasi tidak menunjukkan perubahan signifikan pada tekanan di bawah tubuh Gunung Soputan. Kondisi ini mengindikasikan belum adanya peningkatan aktivitas magmatik yang mengarah pada erupsi dalam waktu dekat.

Potensi Lontaran Lava hingga Lahar Tetap Diwaspadai

Meski belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas magma ke permukaan, potensi bahaya Gunung Soputan masih perlu diwaspadai. Ancaman yang dapat terjadi meliputi lontaran material pijar, aliran lava, guguran lava, maupun awan panas piroklastik apabila aktivitas vulkanik meningkat.

Potensi bahaya tersebut dinilai masih relevan mengingat aktivitas gempa tektonik di sekitar Gunung Soputan relatif tinggi selama periode pengamatan terakhir.

Selain bahaya primer akibat erupsi, Badan Geologi juga mengingatkan adanya potensi bahaya sekunder berupa banjir lahar. Material vulkanik yang terbawa aliran air hujan dapat mengalir melalui sungai dan lembah yang berhulu di Gunung Soputan sehingga masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya lahar apabila erupsi terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online