Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto Jepang, Lebih dari 50 Orang Terluka

Newswire
Newswire Selasa, 28 Juli 2026 19:47 WIB
Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto Jepang, Lebih dari 50 Orang Terluka

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JAKARTA—Sedikitnya lebih dari 50 orang dilaporkan mengalami luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa (28/7/2026). Guncangan kuat tersebut juga memicu peringatan ancaman tsunami sebelum akhirnya diikuti gempa susulan bermagnitudo 6,1.

Laporan stasiun televisi NHK menyebutkan korban luka tersebar di sejumlah wilayah terdampak. Sekitar 10 orang di antaranya mengalami luka di sebuah panti jompo yang berada di Kota Hikawa, Prefektur Kumamoto.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengumumkan gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah Kumamoto dan sempat memicu peringatan tsunami bagi kawasan terdampak.

Selain menimbulkan korban luka, gempa juga memicu sejumlah kebakaran serta menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah dan infrastruktur jalan.

Meski demikian, otoritas memastikan tidak ada gangguan maupun kerusakan pada operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang berada di sekitar Prefektur Kumamoto.

Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Jepang segera mendirikan pusat koordinasi dan operasional pelayanan darurat (crisis center) di Kantor Perdana Menteri untuk mengoordinasikan penanganan pascagempa.

Gempa Susulan M 6,1 Terjadi Satu Jam Kemudian

Sekitar satu jam setelah gempa utama, JMA kembali mencatat gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,1 yang mengguncang wilayah yang sama.

Gempa susulan tersebut terjadi pada pukul 17.08 waktu setempat atau 15.08 WIB dengan pusat gempa berada pada kedalaman yang dangkal.

Mengapa Jepang Sering Dilanda Gempa?

Jepang merupakan salah satu negara dengan aktivitas gempa bumi tertinggi di dunia karena berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yaitu jalur vulkanik dan seismik paling aktif di dunia.

Secara geologis, wilayah Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama, yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Laut Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara. Pergerakan dan tumbukan antarlempeng tersebut menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi, termasuk gempa megathrust.

Mitigasi Gempa Jadi Prioritas

Menghadapi ancaman bencana yang terus berulang, Jepang mengembangkan sistem mitigasi gempa yang memadukan teknologi, regulasi, dan budaya kesiapsiagaan masyarakat.

Pemerintah menerapkan standar bangunan tahan gempa dengan teknologi seismic dampers dan base isolation untuk mengurangi dampak guncangan terhadap struktur bangunan.

Selain itu, Jepang mengoperasikan Earthquake Early Warning (EEW), sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi gelombang seismik awal dan secara otomatis mengirimkan peringatan ke telepon seluler, televisi, hingga menghentikan operasional kereta cepat Shinkansen beberapa detik sebelum guncangan utama terjadi.

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui edukasi kebencanaan sejak usia dini. Masyarakat secara rutin mengikuti simulasi evakuasi gempa, sementara setiap rumah tangga dianjurkan memiliki emergency kit berisi perlengkapan darurat. Di berbagai wilayah pesisir, pemerintah juga membangun jalur evakuasi dan tanggul laut (seawall) sebagai antisipasi terhadap ancaman tsunami.

Kombinasi teknologi modern, infrastruktur tahan gempa, serta tingginya kesadaran masyarakat menjadikan Jepang sebagai salah satu negara yang memiliki sistem kesiapsiagaan bencana paling maju di dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online