Gempa Susulan Sangihe Belum Mereda, Tahuna Diguncang 15 Kali

Newswire
Newswire Selasa, 09 Juni 2026 06:07 WIB
Gempa Susulan Sangihe Belum Mereda, Tahuna Diguncang 15 Kali

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, SANGIHE—Aktivitas gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, setelah rangkaian gempa kuat yang mengguncang kawasan tersebut dalam dua hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 15 gempa susulan terjadi sejak Senin malam hingga Selasa dini hari.

Data yang dipublikasikan melalui akun resmi BMKG menunjukkan rentetan gempa susulan tersebut memiliki magnitudo bervariasi, mulai dari 3,8 hingga 4,9. Seluruh aktivitas kegempaan itu terpantau terjadi di sekitar wilayah Tahuna yang sebelumnya juga merasakan dampak gempa utama.

Gempa susulan terbaru tercatat berkekuatan magnitudo 4,1. Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 5,45 Lintang Utara dan 125,40 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.

BMKG memastikan gempa yang terjadi tidak berpotensi memicu tsunami. Meski demikian, masyarakat tetap diminta memantau informasi resmi terkait perkembangan aktivitas seismik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.

Lembaga tersebut juga menjelaskan bahwa informasi yang disampaikan pada tahap awal mengutamakan kecepatan penyebaran data. Oleh karena itu, hasil pengolahan parameter gempa masih dapat mengalami perubahan seiring masuknya data tambahan dari jaringan pemantauan yang lebih lengkap.

Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Senin malam sekitar pukul 21.53 WIB atau 22.53 Wita. Gempa tersebut turut dirasakan di Kecamatan Tahuna dan dipastikan tidak menimbulkan potensi tsunami.

BMKG mencatat episentrum gempa magnitudo 5,3 berada pada koordinat 5,65 Lintang Utara dan 124,80 Bujur Timur. Pusat gempa berlokasi sekitar 239 kilometer dari Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan kedalaman 10 kilometer.

Hingga kini pemantauan aktivitas kegempaan masih terus dilakukan BMKG untuk memastikan perkembangan kondisi di wilayah Kepulauan Sangihe. Masyarakat diimbau tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan BMKG terkait gempa susulan Sangihe yang masih terjadi secara berkala.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Sulawesi pada Senin (8/6/2026) tidak berasal dari zona megathrust. Berdasarkan hasil analisis terbaru, gempa tersebut dipicu aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina yang kemudian memunculkan tsunami berskala mikro di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online