Trump Tolak Rusia-China Kelola Uranium Iran

Newswire
Newswire Kamis, 28 Mei 2026 10:47 WIB
Trump Tolak Rusia-China Kelola Uranium Iran

Donald Trump - Instagram @realdonaldtrump

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan geopolitik terkait program nuklir Iran kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap rencana pemindahan uranium yang diperkaya ke negara lain, termasuk Rusia dan China.

Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Rabu (27/5/2026), Trump secara tegas menyebut tidak akan merasa nyaman jika cadangan uranium Iran—terutama yang telah diperkaya pada tingkat tinggi—dikelola atau disimpan oleh negara lain. “Tidak, saya tidak akan merasa nyaman. Itu tidak akan membuat saya nyaman,” ujarnya.

Isu ini menjadi salah satu poin krusial dalam negosiasi panjang antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, pada 11 Mei, Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran menilai hanya AS dan China yang memiliki kemampuan teknis untuk memindahkan material nuklir tersebut secara aman.

Namun, dinamika berubah ketika perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, pada 18 April menyatakan kesiapannya membantu proses pemindahan uranium dari Iran. Bahkan, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menegaskan bahwa Moskow siap menyimpan material nuklir tersebut jika diminta oleh Teheran sebagai bagian dari kesepakatan internasional.

Persoalan uranium Iran memang menjadi isu paling sensitif dalam hubungan Washington–Teheran. Tingkat pengayaan uranium yang tinggi dikhawatirkan membuka peluang pengembangan senjata nuklir, meski Iran berulang kali menyatakan programnya bertujuan damai.

Ketegangan meningkat tajam setelah pada 28 Februari lalu, AS bersama Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa dan memicu kecaman luas dari komunitas internasional.

Situasi sempat mereda ketika pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun, upaya diplomasi lanjutan yang digelar di Islamabad tidak menghasilkan terobosan berarti, sehingga ketegangan tetap berada di level tinggi.

Hingga kini, meski tidak ada laporan konflik bersenjata lanjutan, AS masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan perairan Iran sebagai bentuk tekanan ekonomi dan politik. Langkah ini dinilai memperumit proses negosiasi sekaligus memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Analis menilai, perbedaan sikap terkait pengelolaan uranium menjadi hambatan utama tercapainya kesepakatan baru. Penolakan Trump terhadap opsi pemindahan ke Rusia atau China mempersempit ruang kompromi, sementara Iran tetap bersikeras mempertahankan kedaulatan atas program nuklirnya.

Jika tidak ada solusi diplomatik dalam waktu dekat, ketegangan ini berpotensi berdampak lebih luas, tidak hanya bagi stabilitas kawasan, tetapi juga terhadap keamanan global dan pasar energi dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online