Apple Bayar Rp4,3 Triliun karena Siri AI Tak Kunjung Hadir
Apple membayar Rp4,3 triliun setelah digugat pengguna iPhone karena fitur Siri AI belum tersedia sesuai janji.
Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membantah klaim kemenangan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump. IRGC bahkan menuding militer Amerika di kawasan Teluk Persia sedang berada dalam kondisi terdesak karena kekurangan amunisi.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naeini, di tengah meningkatnya perang narasi antara kedua negara.
Menurut Naeini, pernyataan kemenangan yang disampaikan Gedung Putih tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kami tahu bahwa amunisi Anda akan segera habis dan Anda mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini,” tegas Naeini kepada kantor berita Tasnim News Agency, Selasa (10/3/2026).
Klaim Berlawanan dari Washington dan Teheran
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar. Dalam wawancara dengan CBS News, Senin (9/3/2026), ia mengeklaim bahwa fasilitas militer Iran—mulai dari Angkatan Laut, Angkatan Udara hingga fasilitas produksi drone—telah lumpuh.
Trump bahkan menyebut konflik tersebut hampir mencapai titik akhir. Namun, IRGC menuding pernyataan tersebut sebagai upaya menutupi situasi sebenarnya di kawasan.
“Mengapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika? Trump tidak ingin orang Amerika tahu bahwa semua infrastruktur militer AS di wilayah Teluk Persia telah dihancurkan,” kata Naeini.
Di sisi lain, muncul pula pernyataan yang dinilai kontradiktif dari pemerintah Amerika. United States Department of Defense melalui akun resminya di platform X menuliskan pesan bernada keras: “Kita Baru Saja Memulai Perang.”
Pernyataan tersebut dinilai bertolak belakang dengan klaim Trump yang menyebut konflik hampir berakhir.
Korban Militer dan Ketegangan di Timur Tengah
Di tengah saling klaim tersebut, militer AS mengonfirmasi bahwa tujuh prajurit Amerika gugur dalam konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026.
Salah satu korban adalah Benjamin Pennington, yang tewas dalam serangan di Prince Sultan Air Base. Upacara penghormatan jenazahnya dihadiri oleh Wakil Presiden AS JD Vance.
Dampak pada Pasokan Energi Global
Selain korban militer, konflik Iran-AS juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sejak 28 Februari 2026, aktivitas di jalur tersebut dilaporkan terganggu akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Situasi ini memicu volatilitas di pasar energi global. Harga minyak mentah AS sempat mengalami koreksi sekitar 10% setelah pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang.
Pernyataan Trump Picu Kebingungan
Ketika ditanya mengenai kepastian akhir konflik, Trump justru memberikan pernyataan yang memicu perdebatan baru.
Menurutnya, optimisme terkait berakhirnya perang merupakan pandangan pribadinya.
“Berakhirnya perang itu hanya ada dalam pikiran saya, bukan orang lain,” ujar Trump.
Seiring konflik yang telah memasuki minggu kedua, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah, terutama terkait perlindungan infrastruktur energi yang berperan penting dalam stabilitas pasokan global.
.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Apple membayar Rp4,3 triliun setelah digugat pengguna iPhone karena fitur Siri AI belum tersedia sesuai janji.
Cuaca Makkah hari ini diprediksi hujan dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius. Jemaah haji diminta waspada dehidrasi dan panas ekstrem.
Barcelona hanya butuh satu poin saat menjamu Real Madrid di El Clasico untuk memastikan gelar juara Liga Spanyol 2025-2026.
Marc Marquez dipastikan absen di MotoGP Prancis dan Catalunya setelah mengalami retak tulang kaki kanan saat sprint race di Le Mans.
Bupati Gununungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menyatakan hewan kurban di Bumi Handayani mengalami surplus sehingga siap memenuhi kebutuhan di luar daerah.
Studi terbaru mengungkap cuaca ekstrem akibat perubahan iklim mengancam keselamatan jemaah haji dengan risiko panas mematikan di Tanah Suci.