Bawa Sajam saat Geruduk Perumahan, 5 Pemuda di Kudus Ditangkap
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
Ilustrasi Pilkada - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Partai Gerindra menghormati perubahan sikap Partai Demokrat yang kini mendukung wacana pemilihan kepala daerah atau pilkada melalui DPRD, usulan yang sebelumnya disuarakan Gerindra.
Perubahan sikap tersebut merupakan hasil pertimbangan internal masing-masing partai politik. Menurutnya, setiap partai memiliki kajian dan perhitungan sendiri dalam menentukan arah politik.
Meski demikian, Gerindra menampik adanya komunikasi khusus dari Gerindra untuk memengaruhi Demokrat. Pemerintah, kata dia, tetap akan menyerap aspirasi publik terkait wacana pilkada lewat DPRD, termasuk hasil survei yang menunjukkan mayoritas masyarakat masih menolak skema tersebut.
"Kalau kita pasti menghormati pandangan setiap partai masing-masing kan. Pasti tidak mungkin juga memutuskan tanpa melakukan perhitungan atau melakukan kajian-kajian," kata Ketua DPP Partai Gerindra Prasetyo Hadi saat memberikan keterangan usai penyerahan bonus atlet SEA Games di Istana Negara, Jakarta, Kamis.
Pras menampik Gerindra melakukan komunikasi agar Partai Demokrat mengubah sikap mereka dan mendukung pilkada dilakukan melalui DPRD.
Sebelumnya, Demokrat dengan tegas menolak usulan pilkada lewat DPRD. Hal itu karena Ketua Majelis Tinggi Partai Susilo Bambang Yudhoyono pernah menolak usul tersebut saat menjabat sebagai Presiden Ke-6 RI.
"[Perubahan] Itu sikap masing-masing partai," kata Pras.
Pras yang juga menjabat Menteri Sekretaris Negara menegaskan bahwa pemerintah akan menyerap aspirasi publik jika usulan tersebut resmi diberlakukan. Berdasarkan hasil salah satu survei, mayoritas warga sebanyak 66,1 persen menolak usulan pilkada dilakukan lewat DPRD.
"Kita kan menghormati semua pendapat begitu. Pasti kan semua pandangan kan ada yang pro, ada yang kontra, ada yang mendukung, sementara belum, kan gitu. Tidak ada masalah juga," kata Pras.
Dalam kesempatan sebelumnya, Pras berpendapat bahwa ongkos politik yang mahal menjadi kendala bagi calon kepala daerah, baik bupati, walikota, hingga gubernur untuk bertarung dalam pesta demokrasi itu.
Selain itu, pengeluaran negara untuk menyelenggarakan Pilkada di tingkat kota/kabupaten, hingga provinsi juga terhitung cukup besar.
Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Partai Gerindra sudah cukup lama membahas usulan pemilihan kepala daerah dari DPRD.
"Kalau kajian di kami internal partai Gerindra, kami memang terus terang salah satu yang mengusulkan atau berpendapat bahwa kita berkehendak untuk mengembalikan sistem pemilihan kepala daerah itu melalui mekanisme di DPRD," kata Pras.
Perdebatan pilkada melalui DPRD pun diperkirakan masih akan terus bergulir seiring pemerintah dan partai politik menimbang aspirasi publik dan efisiensi demokrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.
Indomobil eMotor hadirkan 4 motor listrik di Jogja. Adora, Tyranno, Sprinto tawarkan fitur modern mulai Rp25 jutaan.
Arema FC hajar PSBS Biak 5-2 di Bantul. Joel Vinicius dan Dalberto cetak brace, trio Brasil jadi kunci kemenangan.
Kasus daycare Jogja, 32 anak mulai divisum. Dugaan kekerasan fisik dan psikis, korban diperkirakan capai 130 anak.
Dua ASN Kementerian PU dipanggil dari luar negeri karena dugaan suap dan pelanggaran etik. Menteri PU tegaskan disiplin.