Demi Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Bakal Datangkan Bibit Sapi Perah dari Brasil

Dwi Rachmawati
Dwi Rachmawati Sabtu, 17 Agustus 2024 10:27 WIB
Demi Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Bakal Datangkan Bibit Sapi Perah dari Brasil

Ilustrasi ternak sapi perah di Sleman./Harian Jogja

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bakal mendatangkan bibit sapi perah dari Brasil untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menuturkan bahwa Indonesia masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan susu dari dalam negeri seiring dengan produksi yang minim.

Menurutnya, alih-alih mengandalkan impor susu sepenuhnya untuk program tersebut, impor bibit sapi perah bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Akan tetapi, masih diperlukan biaya besar dan waktu yang tidak singkat untuk mengembangkan populasi dan budidaya sapi perah. "Ada orang mengatakan atas nama efisiensi kami impor bubuk [susu] saja lebih efisien, tetapi membangun negara bukan masalah efisien. Membangun negara itu ada pertumbuhan, lapangan kerja, mutliplier effect, kami mendorong bagaimana peningkatan produksi [susu] kita," ujar Sudaryono saat ditemui seusai konferensi pers RAPBN 2025 di Kantor Ditjen Pajak, Jumat (16/8/2024).

Dia membeberkan bahwa iklim tropis dan produktivitas susu yang rendah di Indonesia bukan menjadi alasan untuk mengandalkan impor.

Menurutnya, Kementan tengah berupaya menggaet Brasil untuk bekerja sama dalam impor sapi perah ke Indonesia. Brasil dipilih karena dianggap menjadi salah satu negara iklim tropis yang telah berhasil mengembangkan budi daya sapi perah hingga industri susu.

"Ada negara yang mirip kita dan berhasil namanya Brasil. Itu negara tropis sama kayak kita, jadi kalau kita impor sapinya dari Selandia Baru itu beda, kita harus mendatangkan sapi yang biasa hidup dengan alam tropis," jelasnya.

Sudaryono optimistis dengan mendatangkan bibit sapi perah dari Brasil dapat mengurangi ketergantungan impor susu nasional secara bertahap. "Kami sedang bahas intensif untuk susu, populasinya kecil, konsumsinya besar, selama ini dininabobokan dengan impor. Kami mau atur gimana supaya kami kurangi impor. Syukur-syukur bisa swasembada," katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman, membeberkan bahwa pihaknya telah dimintai untuk mendukung program susu gratis di pemerintahan selanjutnya itu dengan melakukan impor sapi.

BACA JUGA: Anggaran Makan Bergizi Gratis Sebesar Rp71 Triliun

Pasalnya, kata Adhi, produksi susu dalam negeri saat ini belum mumpuni untuk memenuhi kebutuhan program populis tersebut. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan susu di kalangan industri saat ini pun, sebanyak 80% juga masih dipasok dari luar negeri alias impor.

Kendati begitu, menurutnya impor sapi perah tidak bisa dilakukan secara serta-merta. Ada banyak faktor dan persiapan yang perlu dipertimbangkan. Menurutnya, kecocokan iklim dan lingkungan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengimpor sapi perah.

Indonesia yang merupakan wilayah tropis cenderung menghasilkan susu lebih sedikit dibandingkan negara subtropis seperti Eropa atau sebagian wilayah Australia.

Misalnya saja, Adhi menyebut rata-rata produktivitas sapi perah di Benua Biru bisa mencapai sekitar 40-50 liter per hari, sedangkan di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan susu sekitar 12-15 liter per hari. Bahkan, produsen susu skala besar di Indonesia seperti Greenfield saja, produktivitas sapinya hanya di kisaran 20 - 25 liter per hari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online