Kebakaran KMP Putri Yasmin, 172 Orang Selamat, 1 Meninggal
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Tim SAR mengevakuasi 173 orang, terdiri atas 172 korban selamat dan 1 meninggal dunia.
Ilustrasi Hacker/Sputniknews
Harianjogja.com, SOLO—Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), Muhammad Andri Perdana, menyebut murahnya data pribadi masyarakat Indonesia membuat marak terjadi penipuan social engineering (soceng).
Menurut dia, perlindungan data pribadi penduduk Indonesia masih sangat kurang, sehingga membuat banyak peretas bisa dengan mudah mendapatkannya.
“Hal ini memudahkan pelaku social engineering mencari dan menghubungi mangsa mereka. Kita lihat sudah terbilang sangat banyak data breach terhadap penduduk kita, mulai dari BPJS, Tokopedia, KPU, sampai Kominfo. Data-data masyarakat dijual bebas oleh peretas,” ujar Andri dikutip dari Solopos.com-jaringan Harianjogja.com Sabtu (18/3/2023).
Andri menambahkan lemahnya perlindungan data pribadi masyarakat Indonesia sampai membuat banyak perusahaan bisa mendapatkan data pribadi lewat berbagai sumber yang digunakan untuk tujuan perusahaan.
Menanggapi modus penipuan soceng terbaru dengan surat tilang ataupun tagihan kesehatan, Andri menjelaskan pelaku memanipulasi perasaan calon korban sampai merasa panik.
Baca juga: Tega! Rombongan Klitih Bawa Celurit Kejar Warga yang Tengah Berjaga di Rumah Duka
Tujuan pelaku adalah mengurangi rasionalitas calon korban. Menurut Andri, modus ini akan sangat berhasil ketika calon korban adalah masyarakat yang belum memahami modus penipuan social engineering.
“Masih memerlukan waktu untuk menjadi kesadaran umum di masyarakat, sehingga tingkat keberhasilannya masih tinggi,” jelas Andri.
Andri juga menuturkan bahwa pelaku social engineering semakin banyak karena melihat mudahnya penipuan ini dilakukan dan keuntungan yang mereka dapatkan.
Menurutnya, pemerintah dan aparat keamanan harus bergerak lebih proaktif dalam melakukan tindakan preventif dan menindak pelaku social engineering.
Senada dengan yang diucapkan Andri, pegiat keamanan siber Dwi Hartanto mengatakan penipuan social engineering masih sering ditemui karena masih banyak orang yang tidak berhati-hati menjaga informasi pribadi mereka dan mudah dimanipulasi.
Teknis Psikologis
Dwi mengatakan modus tagihan kesehatan dan surat tilang bertujuan memberi rasa panik kepada calon korban, karena pelaku social engineering menggunakan teknik psikologis dan emosional untuk mengelabui korban dan memanipulasi mereka untuk menuruti permintaan pelaku.
“Jika ada apapun yang aneh, jangan panik dan selalu periksa verifikasi informasi. Yang paling penting juga jaga kerahasiaan informasi pribadi karena hal itulah penyebab seseorang bisa menjadi target penipuan social engineering.
Pantauan Solopos.com, dugaan kebocoran data Tokopedia terjadi pada tahun 2020 dengan total 91 juta akun Tokopedia bocor dan dijual, sementara data BPJS diduga bocor pada pertengahan 2021.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Tim SAR mengevakuasi 173 orang, terdiri atas 172 korban selamat dan 1 meninggal dunia.
India resmi mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 demi hadapi Brasil. Timnas Indonesia kehilangan lawan di Grup A. India terancam denda Rp439 juta dan cari dua laga u
PSG mengalahkan Aston Villa 2-1 dan menjadi klub ketiga dalam sejarah yang menjuarai Piala Super Eropa dua musim beruntun
Rekomendasi 8 HP flagship bekas terbaik 2026 dengan harga turun drastis. Dari Samsung Galaxy S23 Rp6 jutaan hingga iPhone 13 Pro Rp9,5 jutaan. Cek tips membelin
Xavi Hernandez resmi jadi pelatih Timnas Belanda dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030. Ia sebut dirinya "anak sepak bola Belanda" dan ingin bawa filosofi meny
Klaim asuransi mobil tidak cukup hanya melapor kecelakaan atau kehilangan kendaraan. Simak dokumen, prosedur, hingga penyebab klaim ditolak agar proses berjalan