Wonogiri Putar Haluan Ekonomi, Pariwisata dan Ekraf Jadi Andalan Baru
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Surip, 71, warga Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, salah satu penggali tanah yang menemukan artefak emas kuno di lahan yang akan dilewati Tol Jogja Solo./JIBI-Solopos-Taufiq Sidik Prakoso
Harianjogja.com, KLATEN—Harta karun berupa emas pernah ditemukan di wilayah Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah. Lokasi penemuan harta karun kuno itu akan dilintasi Tol Jogja Solo.
Ada enam warga yang menemukan artefak-artefak kuno tersebut. Salah satu dari merea adalah Surip, 71. Perhiasan itu ditemukan di area persawahan milik warga Wonoboyo pada Oktober 1990.
Surip menceritakan artefak itu ditemukan saat dia bersama lima orang lainnya menggali tanah di salah satu sawah milik warga setempat bernama Cipto. Tanah yang digali kemudian digunakan untuk uruk.
Saat itu, penggalian dilakukan di bawah terik matahari saat tengah hari. Tiba-tiba, salah satu cangkul mengenai benda keras di galian sedalam 3 meter. Penggalian terus dilakukan dan ternyata benda itu berupa guci. Setelah dibuka, guci berisi perhiasan.
Temuan itu membikin gempar. Warga dari berbagai daerah berdatangan. Perhiasan yang ditemukan kemudian dikumpulkan di kantor desa sebelum dibawa ke Museum Nasional.
“Banyak yang datang. Suasananya sangat ramai. Seperti orang tamasya,” kata Surip saat ditemui di rumahnya, Rabu (2/11/2022).
Arkeolog berdatangan ke Wonoboyo meneliti kawasan sekitar penemuan artefak kuno. Tak hanya arkeolog, mendadak lahan milik Cipto ramai didatangi warga dari berbagai daerah yang ingin mencari peruntungan dengan berburu harta harta karun. Mereka membawa dupa.
“Mereka membawa dupa lidi yang dibakar itu. Setiap malam ramai orang. Ada yang masuk kubangan-kubangan. Tetapi tidak menemukan apa-apa,” kata Surip.
Selang beberapa bulan pada 1991, Surip bersama lima penemu artefak kuno lainnya asal Wonoboyo diundang Presiden Soeharto di Candi Prambanan. Keenam orang itu termasuk pemilik lahan mendapatkan tali asih dari Presiden Soeharto sebagai bentuk apresiasi atas penemuan harta karun kuno.
Seingatnya, pemilik lahan saat itu menerima uang sekitar Rp250 juta. Sementara, para penggali tanah uruk mendapatkan uang yang kemudian dibagi.
Sebagian digunakan menggelar pentas hiburan, salah satunya ketoprak. Surip yang hingga kini masih menjadi seniman ketoprak ikut tampil saat itu.
BACA JUGA: Daripada Beli Mobil, Penerima Ganti Rugi Tol Jogja Solo Pilih Naik Haji
Seingat Surip uang paling banyak yang diterima penggali tanah uruk itu sekitar Rp35 juta. Disinggung penggunaan uang yang dia terima, Surip memilih menggunakan sebagian uang membeli sawah.
Ditambah dengan hasil menjual sekitar enam sapi, Surip membeli sawah seluas setengah hektare yang hingga kini masih dia manfaatkan untuk bercocok tanam.
“Kalau rumah ini sudah lama. Sudah ada sejak sebelum ditemukan itu. Kondisinya sejak dulu ya seperti ini,” kata Surip sembari menunjukkan rumahnya yang berupa bangunan kuno dan berada di tengah perkampungan.
Sementara itu, lahan yang dulunya menjadi tempat penemuan harta karun hingga kini masih digunakan bercocok tanam. Lahan itu termasuk salah satu lahan yang bakal dilewati Tol Jogja Solo.
Pelaksana proyek memastikan kawasan situs Wonoboyo tak bakal diubah-ubah. Konstruksi jalan tol yang melewati kawasan situs bakal dibuat berupa jalan layang.
Kepala Desa (Kades) Wonoboyo, Supardiyono, menjelaskan jenis artefak perhiasan kuno yang ditemukan di situs Wonoboyo beragam dan saat ini disimpan di Museum Nasional. Supardiyono yang pernah mendatangi Museum Nasional menceritakan saking banyaknya, salah satu lantai museum seluruhnya berisi temuan Wonoboyo.
“Paling berat itu temuan mata uang emas yang jumlahnya ada 17.600 keping. Total beratnya sekitar 17 kilogram,” ungkap dia.
BACA JUGA: Ini Penyebab Jalan Tol Jogja Solo di Wonoboyo, Klaten Akan Dibuat Melayang
Jumlah total berat perhiasan kuno yang ditemukan di situs Wonoboyo diperkirakan mencapai 30 kilogram. Hal itu berdasarkan kumpulan makalah berjudul Temu Evaluasi Penelitian Wonoboyo oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Balai Arkeologi Yogyakarta bekerja sama dengan Pemkab Klaten pada 1992.
Timbul Haryono dalam tulisannya menjelaskan temuan sekitar 30 kilogram itu tak hanya menakjubkan dari sisi jumlah barang. Dari temuan itu juga terungkap informasi baru terkait beberapa aspek budaya masyarakat Jawa kuno, yakni aspek teknologi dan aspek sosiologi dalam pengertian khusus.
Dalam tulisan itu, artefak yang ditemukan dalam tiga klasifikasi yakni benda-benda wadah, perhiasan, dan mata uang. Barang-barang emas Wonoboyo diperkirakan berasal dari abad IX atau awal abad X.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa konfirmasi batal berangkat haji 2026 bersama keluarga. Tegaskan bukan karena perintah Presiden Prabowo.
Timnas Kongo batalkan TC di Kinshasa jelang Piala Dunia 2026 akibat wabah virus Ebola jenis Bundibugyo. Skuad Desabre langsung dialihkan ke Eropa.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Tiga proyektor SD Negeri 1 Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul hilang dicuri. Polisi masih selidiki kasus dengan kerugian mencapai Rp10 juta.
petugas mengamankan seorang pria berinisial MAR, warga Magelang, yang diduga berperan sebagai pengedar narkotika.