Luar Biasa! RI Kantongi Pajak Digital dari Google Cs Sebesar Rp23 Triliun Lebih
Hingga 31 Maret 2024, DJP Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak dari sektor usaha ekonomi digital mencapai Rp23,04 triliun.
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). /Antara Foto-Nova Wahyudi
Harianjogja.com, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari hingga Agustus 2022 mencatatkan surplus sebesar US$34,92 miliar atau Rp521,39 triliun.
Capaian tersebut melonjak sebesar 68,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada periode Januari hingga Agustus 2021, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$20,71 miliar.
Surplus pada periode Januari—Agustus 2022 ini pun mendekati capaian surplus keseluruhan tahun 2021 yang sebesar US$35,33 miliar, terutama disebabkan oleh lonjakan harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global.
“Neraca perdagangan secara kumulatif mencatat surplus US$34,92 miliar atau tumbuh 68,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers, Kamis (15/9/2022).
Secara kumulatif, BPS mencatat neraca perdagangan nonmigas surplus sebesar US$51,67 miliar, sementara neraca perdagangan migas mencatatkan defisit US$16,76 miliar.
BACA JUGA: Sindiran Pedas AHY ke Jokowi Soal BLT: Dulu Dihina, Sekarang?
Nilai ekspor pada Januari hingga Agustus 2022 mencapai US$194,60 miliar, meningkat 35,42 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Sejalan dengan itu, impor pada periode yang sama tercatat mencapai US$159,68 miliar, meningkat 29,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Adapun, pada Agustus 2022, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$5,67 miliar.
Total nilai ekspor pada periode tersebut mencapai US$27,91 miliar, sementara total nilai impor sebesar US$22,15 miliar.
Neraca perdagangan nonmigas pada Agustus 2022 mencatatkan surplus sebesar US$7,74 miliar, dengan komoditas penyumbang utama yaitu bahan bakar mineral (HS 27), besi dan baja (HS 72), lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15).
Sementara itu, neraca perdagangan migas mencatatkan defisit sebesar US$1,98 miliar, dengan komoditas penyumbang utama, yaitu minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Hingga 31 Maret 2024, DJP Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak dari sektor usaha ekonomi digital mencapai Rp23,04 triliun.
DPR mendesak Kemenlu bergerak cepat menyelamatkan WNI yang ditangkap Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla ke Gaza.
Menkomdigi Meutya Hafid mengecam Israel usai menahan jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Penembakan di Islamic Center San Diego menewaskan lima orang. KJRI San Francisco memastikan tidak ada WNI menjadi korban.
TBY menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi di Jogja dengan menghadirkan tiga koreografer dari generasi berbeda.