OJK Catat Pembiayaan Investasi Multifinance Rp167,89 Triliun
OJK mencatat pembiayaan investasi multifinance turun 5,33% menjadi Rp167,89 triliun pada semester I/2026.
Ilustrasi - Virus Corona makro dan varian MU (VOI),B.1.621,B.1.617.1,C.37.Covid-19 Delta plus, varian MU. Virus SARS-CoV-2 bermutasi./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA – Sudah banyak varian Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga saat ini. Sebut saja varian Alfa, Beta, Gamma, Delta hingga yang terbaru, Omicron.
Kemudian muncul pertanyaan, dengan munculnya varian-varian baru, apakah lantas varian yang lain sudah menghilang?
Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 BNPB Hery Trianto mengatakan, sejak pertama kali virus SARS-CoV-2 masuk di Indonesia, setidaknya sudah ada ratusan varian.
Namun, apakah semuanya adalah varian baru Omicron, dia mengaku belum mengetahui hal tersebut. Sebab untuk mengetahuinya, perlu melalui prosedur kesehatan yang disebut Whole Genome Sequencing (WGS).
“Ada prosedur kesehatan yang harus dilalui namanya adalah Whole Genome Sequencing untuk mengetahui varian-varian apa saja yang ada di sana. Cuman pelaksanaan di Indonesia baru bisa dilakukan di 12 laboratorium. Jadi memang sangat terbatas,” kata Hery dalam diskusi ‘Pandemi Covid-19: Update Perkembangan dan Penanganan untuk PTM yang Aman’ yang diselenggarakan oleh Yayasan Tarakanita secara daring pada Jumat (21/1/2022).
Baca juga: PTM 100% di Jogja Digelar Akhir Januari
Dikarenakan WGS membutuhkan biaya yang tidak sedikit, maka digunakanlah metode yang lebih murah, SGTF (S-gene target failure) untuk bisa mengetahui apakah varian tersebut probable Omicron atau bukan.
“Kira-kira dengan metode SGTF yang lebih murah itu akan ketahuan apakah itu probable Omicron atau tidak. Baru kemudian dibawa ke laboratorium untuk dipilah lagi, apakah dia Omicron atau bukan. Nah itu masalahnya mahal sekali WGS itu,” ujar Hery.
Hery juga mengungkapkan, di Indonesia setidaknya sudah ditemukan lebih dari 150 varian. Dan virus-virus ini dikategorikan dalam dua jenis varian, yaitu variant of concerns (VOC) dan variant of interest (VOI).
“VOC jika memang variannya itu seperti Omicron ini, jadi memberikan impact kesehatan yang tinggi. Kalau yang tidak, ada varian-varian yang abortif, jadi varian-varian yang memang tumbuh, tapi ternyata ketika dia melakukan mutasi dia gagal, sehingga dia punah dengan sendirinya. Sehingga varian-varian yang bisa bertahan ini bisa bertahan hidup,” tuturnya.
Di sisi lain, dirinya menjelaskan mengapa Omicron bisa 10 kali lebih cepat untuk melakukan replikasi. Ini karena, saat Omicron sudah ada di tenggorokan, kemampuan tubuh manusia untuk melawan virus itu lebih rendah.
Akan tetapi, ketika Omicron turun ke paru-paru misalnya, kemampuannya bisa ditanggulangi sehingga tingkat keparahannya menjadi tidak terlalu tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
OJK mencatat pembiayaan investasi multifinance turun 5,33% menjadi Rp167,89 triliun pada semester I/2026.
Porsche Taycan dikabarkan bakal dihentikan produksinya pada 2030. Laporan media Jerman menyebut manajemen dan dewan pekerja telah sepakat. CEO Michael Leiters b
Slipknot resmi mengumumkan perpisahan dengan Sid Wilson setelah hampir tiga dekade bersama. Alasan keluarnya sang DJ masih menjadi misteri.
Kemkomdigi meminta Google dan Apple menghapus aplikasi Hornet dari Play Store dan App Store di Indonesia karena persoalan kepatuhan aturan PSE dan aduan masyara
Google menghadirkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menghapus watermark pada gambar, video, dan musik hasil kreasi AI Gemini.
Korban gempa M7,7 di Nagekeo, NTT bertambah menjadi 38 jiwa. Ribuan warga mengungsi, bandara, pelabuhan, dan fasilitas kesehatan terdampak.