Dugaan Pes di Rusia, 200 Orang Dipantau Usai Pekerja Lab Meninggal

Jumali
Jumali Senin, 05 Oktober 2026 16:37 WIB
Dugaan Pes di Rusia, 200 Orang Dipantau Usai Pekerja Lab Meninggal

Ilustrasi /JIBI

Harianjogja.com, JOGJA— Kabar dugaan pes di Rusia memicu perhatian setelah seorang teknisi laboratorium anti-wabah di wilayah Irkutsk, Siberia, meninggal dunia setelah mengalami pneumonia berat.

Perempuan berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova tersebut meninggal pada 2 Oktober 2026 setelah sempat menjalani perawatan menggunakan ventilator di rumah sakit distrik Shelekhov.

Kabar tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa Shipilova terinfeksi pes pneumonik setelah disebut mengalami insiden di laboratorium. Namun, hingga Senin (5/10/2026), otoritas kesehatan Rusia belum mengonfirmasi bahwa pes menjadi penyebab kematiannya.

Rospotrebnadzor menyebut diagnosis Shipilova sebagai pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Lembaga tersebut juga menyatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, termasuk Irkutsk dan Shelekhov, masih stabil.

Hampir 200 Orang Dipantau

Kekhawatiran muncul setelah laporan mengenai insiden di tempat kerja Shipilova. Ia disebut bekerja sebagai teknisi di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk.

Menurut laporan yang beredar, Shipilova secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bahan biologis hidup pada 25 September. Beberapa laporan menyebut bahan tersebut berkaitan dengan bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit pes.

Namun, informasi mengenai insiden tersebut belum menjadi konfirmasi bahwa Shipilova terinfeksi bakteri tersebut. Rospotrebnadzor menyatakan pemeriksaan lanjutan terhadap sampel pasien tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas profesionalnya di institut anti-wabah.

Sebagai langkah pencegahan, sekitar 200 orang yang dianggap memiliki kontak dengan Shipilova ditempatkan dalam pengawasan medis. Sejumlah laporan juga menyebut adanya pembatasan atau karantina di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah tersebut.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev sebelumnya mengatakan orang-orang yang telah teridentifikasi sebagai kontak erat berada dalam pengawasan. Mereka dilaporkan belum menunjukkan gejala dan hasil pemeriksaan awal negatif.

Langkah antisipasi juga dilakukan di sejumlah lokasi. Pabrik Aluminium Irkutsk di Shelekhov, misalnya, menerapkan penggunaan masker bagi pekerja sebagai tindakan pencegahan di tengah kekhawatiran masyarakat.

Rusia Belum Konfirmasi Wabah Pes

Meski rumor mengenai pes menyebar luas, kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai wabah pes yang terkonfirmasi.

Rospotrebnadzor menegaskan situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk masih stabil. Lembaga tersebut juga menyatakan tidak ada insiden yang melibatkan mikroorganisme patogen yang tercatat di institut tersebut.

Menurut laporan Euronews, otoritas Rusia juga menyebut tidak ada staf institut yang mencari pertolongan medis karena penyakit infeksi dalam 10 hari terakhir.

Perbedaan antara laporan mengenai dugaan paparan bakteri dan keterangan resmi tersebut menjadi alasan penting bagi publik untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa kematian Shipilova disebabkan pes.

Apalagi, penyakit pes memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keberadaan Yersinia pestis. WHO menyebut pemeriksaan dapat dilakukan melalui sampel seperti darah, dahak, atau cairan dari pembengkakan kelenjar getah bening.

Apa Itu Penyakit Pes?

Pes atau plague merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya.

Menurut WHO, manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu yang membawa bakteri, kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh yang terinfeksi, maupun menghirup partikel pernapasan dari penderita pes pneumonik.

Pes memiliki tiga bentuk klinis utama, yakni pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik.

Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum. Infeksi biasanya terjadi setelah gigitan kutu yang terinfeksi dan menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri. Pembengkakan tersebut dikenal sebagai bubo.

Pes septikemik terjadi ketika bakteri berkembang di dalam aliran darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan, gangguan organ, hingga perdarahan.

Sementara itu, pes pneumonik menyerang paru-paru. Bentuk ini merupakan jenis pes yang paling berbahaya dan dapat menular dari orang ke orang melalui partikel pernapasan.

Gejala Pes

Gejala pes dapat berbeda berdasarkan bentuk penyakitnya. Secara umum, penderita dapat mengalami demam, menggigil, sakit kepala, nyeri tubuh, lemas, mual, dan muntah.

Pada pes bubonik, tanda khasnya berupa pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri.

Pes septikemik dapat menyebabkan sakit perut, syok, serta perdarahan dan kerusakan jaringan. Sementara pes pneumonik dapat berkembang menjadi pneumonia dengan gejala sesak napas, nyeri dada, batuk, serta lendir yang dapat bercampur darah.

WHO menyebut masa inkubasi pes umumnya berkisar satu hingga tujuh hari. Pada pes pneumonik, gejala bahkan dapat muncul dalam waktu sangat singkat setelah infeksi.

Pes Bisa Diobati dengan Antibiotik

Pes merupakan penyakit serius, tetapi bukan berarti selalu berakhir fatal. Pengobatan menggunakan antibiotik efektif apabila penyakit dikenali dan ditangani sedini mungkin.

WHO menekankan diagnosis dan pengobatan awal sangat penting, terutama pada pes pneumonik yang dapat berkembang cepat. Tanpa penanganan, bentuk ini dapat berakibat fatal dalam waktu singkat.

Upaya pencegahan antara lain menghindari gigitan kutu, tidak menyentuh bangkai hewan yang diduga terinfeksi, serta menghindari kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh penderita.

Untuk pes pneumonik, pencegahan penularan juga membutuhkan perlindungan terhadap paparan partikel pernapasan dari penderita. Kontak erat dengan pasien perlu mendapatkan penanganan sesuai protokol kesehatan.

Sementara itu, situasi di Irkutsk masih dalam pemantauan otoritas Rusia. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi bahwa kematian Shipilova disebabkan pes atau bahwa telah terjadi wabah pes di wilayah tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online