Buku Homepower Tekankan Pentingnya Ruang Nyaman bagi Anak
Rumah semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, bukan ruang yang membuat anak merasa tertekan.
Ketua Umum Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Tuntas Subagyo, menyambangi rumah singgah Yayasan Lentera Solo untuk memberikan bantuan, Selasa (9/11/2021)./Ist
Harianjogja.com, SOLO—Hari Aids Sedunia yang diperingati 1 Desember menjadi momentum untuk mengingat kembali bagaimana nasib anak-anak dengan HIV/AIDS. Di Solo, anak-anak dengan HIV/AIDS bisa dijumpai di Yayasan Lentera Solo.
Di rumah singgah yayasan tersebut yang berada di kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti Jebres, Solo, puluhan anak-anak berjuang hidup normal dengan HIV/AIDS.
Sebulan sekali anak-anak tersebut harus menjalani perawatan dan mengambil obat di RSUD dr Moewardi. Selebihnya mereka hidup layaknya anak-anak lainnya yang senang bermain dan belajar. Kebutuhan hidup anak-anak dengan HIV/AIDS di Yayasan Lentera Solo membutuhkan dukungan dari para dermawan.
Melihat kondisi tersebut Ketua Umum Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Tuntas Subagyo, menyambangi rumah singgah yayasan tersebut, Selasa (9/11/2021). Sebagai informasi, PKR adalah partai baru yang lahir dari sebuah gerakan masyarakat bernama Tikus Pithi.
Bagi yang belum tahu, gerakan ini tampil menjadi penantang Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, saat pemilihan Wali Kota Solo 2020. Tikus Pithi sukses mengusung calon wali kota dan wakil wali kota di bursa pemilihan orang nomor 1 di Solo, namun gagal membawa calon mereka menang melawan Gibran.
Kedatangan Ketua PKR Tuntas di selter yang penampungan bagi anak-anak dengan HIV/AIDS tersebut disambut gembira anak-anak penghuninya. Apalagi tim Tuntas datang dengan pembawa peralatan rumah tangga, makanan, serta satu unit televisi 50 inci untuk penghuni rumah singgah Yayasan Lentera Solo. Senyum ceria terkembang di wajah anak-anak itu.
Tuntas yang merupakan warga Tempel, Purbayan, Baki, Sukoharjo, juga memberikan santunan uang tunai yang diterima pengurus Lentera, Puger Mulyono. Sumbangan itu akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.
“Kami terima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT atas kunjungan Mas Tuntas Subagyo yang merelakan waktunya mengunjungi anak-anak kami. Apalagi dengan membawa banyak berkah, oleh-oleh kebutuhan dapur,” ujar Puger, Selasa (16/11/2021).
Dia menjelaskan saat ini ada 37 anak dengan HIV/AIDS yang tinggal di Selter Lentera. Sebagian besar dari mereka sudah bersekolah. Menurut Puger, anak-anak tersebut berasal dari berbagai daerah di Tanah Air, seperti dari Kalimantan. Ada juga yang dari Papua, Sulawesi, Sumatra, DKI Jakarta, dan daerah lainnya.
Selama di Selter Lentera Solo mereka beraktivitas seperti kebanyakan anak-anak, bermain dan belajar. Namun, setidaknya sebulan sekali mereka harus ke RS. “Setiap bulan harus ke RS untuk kontrol dan pengambilan obat. Bila ada yang kondisinya ngedrop ya kami opname-kan,” urai dia. Puger berharap akan selalu ada orang dermawan yang datang ke Lentera untuk membantu mereka.
Tidak hanya bantuan fisik, tapi anak-anak juga membutuhkan sentuhan psikis agar mereka terus ceria menjalani hidup. Penuturan senada disampaikan Widi Prehati, istri Tuntas Subagyo, yang mengaku tersentuh kondisi anak-anak.
Dia berharap bantuan yang diberikan siang itu bisa sedikit meringankan beban anak-anak Selter Lentera. Dia berencana kembali menjenguk anak-anak Yayasan Lentera di lain waktu. “Semoga sedikit bantuan kami bisa membantu,” ujar dia.
Sedangkan. Ketua PKR Tuntas menyatakan akan membicarakan masalah anak-anak Lentera dengan pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKR. Meski partai baru dideklarasikan di Solo 28 Oktober 2021, Tuntas menyebut PKR sudah memiliki kepengurusan di tingkat pusat.
Kepengurusan PKR
Kepengurusan PKR juga sudah berdiri di puluhan provinsi di Indonesia dan tersebar pula di ratusan kabupaten/kota. Lewat jajaran pengurus PKR, Tuntas ingin membuat program yang arahnya bagaimana anak-anak dengan HIV/AIDS di seluruh Indonesia bisa mendapatkan perhatian yang cukup untuk tumbuh kembang psikologis mereka.
Yayasan Lentera Solo berawal pada 2021 ketika Puger yang seorang mantan preman, mengikuti pelatihan pendampingan untuk orang dengan HIV/AIDS bersama Yayasan Mitra Alam. Pada 2012, dia yang bekerja sebagai juru parkir merawat salah seorang anak dengan HIV/AIDS yang ditelantarkan di satu rumah sakit di Solo.
Awalnya, anak tersebut ditampung di sebuah kamar indekos. Makin lama, jumlah anak dengan HIV/AIDS yang ditampung Puger bertambah. Dibantu kawannya, Yunus Prasetyo, mereka menjual sepeda motor untuk menyewa kontrakan sebagai rumah singgah. Bersama rekan lainnya, mereka mendirikan Yayasan Lentera Solo. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumah semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, bukan ruang yang membuat anak merasa tertekan.
DP3 Sleman keluarkan edaran waspada wereng batang coklat. Petani diminta perkuat PHT dan deteksi dini untuk cegah gagal panen.
Pemkab Kulonprogo perkuat iklim investasi melalui layanan perizinan terintegrasi OSS-RBA dan penyediaan data potensi daerah.
Sri Sultan HB X menyebut Sragen sebagai saudara tua DIY karena jejak sejarah Mataram. Hubungan budaya ini diminta terus dijaga.
KPK menduga rumah milik Jampidsus Febrie Adriansyah di Sentul menggunakan nama orang lain sehingga tidak tercatat dalam LHKPN.
Seorang pria 61 tahun ditemukan meninggal di Sungai Bedog, Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan, korban diduga punya riwayat epilepsi.