B50 Serap Sawit Domestik, Malaysia Lihat Peluang Perluas Ekspor CPO
Mandatori B50 diperkirakan memangkas ekspor sawit Indonesia. Malaysia melihat peluang memperluas pasar global di tengah kenaikan konsumsi domestik.
Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA – Happy hypoxia menjadi silent killer atau pembunuh senyak di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Bagaimana menangani pasien yang terkena gejala ini?
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit (RS) Persahabatan Erlina Burhan mengatakan masyarakat sebetulnya tidak perlu panik akan happy hypoxia selama mengenali dan memahami betul seperti apa gejalanya.
“Happy hypoxia ini tidak ditemukan di orang sehat, atau pasien Covid-19 yang tanpa gejala. Selama ini hanya ditemukan di pasien bergejala, karena gejalanya batuk menetap dan kondisi pasien yang berangsur melemah tanpa sesak napas,” jelasnya, Rabu (16/9/2020).
Apabila mengalami gejala tersebut, pasien Covid-19 bisa melakukan penanganan awal dengan cara mengukur kadar oksigen dalam darah menggunakan alat pulse oximeter.
Harganya hanya Rp100.000 – Rp150.000 dan bisa ditemukan di apotek atau e-commerce.
Dengan alat tersebut, bisa dipantau kadar oksigen, yang pada orang normal berkisar antara 95-100 persen.
Apabila kurang dari itu, penderita Covid-19 bisa melaporkan langsung ke rumah sakit dan meminta perawatan.
“Tapi buat yang sehat tidak usah beli! Jangan beli, ini hanya untuk yang bergejala saja,” tegasnya.
Kemudian, di rumah sakit, penderita happy hypoxia bisa meminta untuk diterapi oksigen untuk menambah kadar oksigen dalam darah, sehingga tidak sampai terjadi kerusakan organ dalam tubuh.
Sebagai langkah untuk menghindari terkena happy hypoxia, yang pertama adalah jangan sampai terkena Covid-19 dengan patuh melaksanakan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) sesering mungkin.
“Pakai masker itu, kalau ada dua orang dan salah satunya sakit, kalau berdua tidak pakai masker kemungkinan menular 100 persen. Kalau yang sehat pakai masker 70 persen penularannya,” ujarnya.
“Kalau yang sakit yang pakai masker, penularan jadi 5 persen. Tapi kalau yang sehat dan sakit pakai masker risikonya 2 persen, jaga jarak tinggal 0 persen,” jelasnya.
Kemudian, untuk mempertahankan agar penularan tetap 0 persen, tinggal rajin cuci tangan setelah melakukan kegiatan apa pun.
Sementara itu, bagi pasien Covid-19 yang tidak bergejala agar tetap menjaga imun tubuh tetap dalam kondisi baik.
Caranya dengan makan makanan bergizi, minum banyak air putih, mengkonsumsi suplemen dan vitamin, olahraga dan istirahat teratur serta jangan stres.
“Karena kalau stres imun tubuh akan runtuh, penyakit apa pun akan mudah masuk. Usahakan tetap berpikiran positif dan bahagia,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Mandatori B50 diperkirakan memangkas ekspor sawit Indonesia. Malaysia melihat peluang memperluas pasar global di tengah kenaikan konsumsi domestik.
Harga pangan nasional Jumat 21 Agustus 2026 mencatat cabai rawit merah Rp69.200 per kg dan telur ayam ras Rp29.250 per kg
OTT KPK terhadap Rektor Unsoed menambah daftar pimpinan kampus yang terseret korupsi. Simak deretan kasus rektor yang pernah berhadapan dengan hukum.
Toyota batasi pasokan GR GT 200-250 unit di AS. Strategi cegah spekulan. Harga mulai Rp3,4 miliar, mesin V8 hybrid 641 hp.
Meta paling rakus data pengguna dengan 25 jenis data. Google kedua dengan 17 jenis. Riset Surfshark ungkap rahasia Big Tech.
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe gagal ke semifinal Cincinnati Open 2026. Kalah 5-7, 5-7 dari Bouzkova/Noskova di perempat final.