7 Kecamatan di Aceh Tenggara Kembali Dilanda Banjir, 203 Jiwa Terdampak
Banjir kembali merendam 13 desa di tujuh kecamatan Aceh Tenggara. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa terdampak.
Ormas sisir buku di Gramedia /[email protected]
Harianjogja.com, BALI - Mahasiswa harus dibebaskan membaca buku apapun, termasuk jika membaca buku tentang komunisme. Hal tersebut ditegaskan oleh Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu.
"Bagaimana mahasiswa tahu itu berbahaya atau tidak, kalau dia tidak pernah membaca. Bebaskan saja membaca apapun, biar dia mikir sendiri," kata Adian dalam diskusi bertajuk "Demokrasi Arus Bawah (Kisah Perlawanan Terhadap Rezim Otoriter)" yang digelar PDIP di sela Kongres V PDIP di Bali, Jumat (9/8/2019).
Pernyataan Adian menyikapi adanya razia buku-buku tentang komunisme yang dilakukan sejumlah oknum belakangan ini.
Dia mengatakan fakta yang terjadi saat ini, paham komunisme sudah kalah di mana-mana. Dia menegaskan saat ini tidak ada negara yang mengimplementasikan sistem komunisme secara murni.
"China saja komunismenya tidak murni. Mereka komunis di dalam, tapi watak kapitalismenya keluar menjalar ke mana-mana," kata anggota DPR RI dari Fraksi PDIP itu.
Dia mengatakan dalam sistem komunis semua sumber daya dikelola negara, sementara dalam sistem kapitalis semua boleh dikelola pribadi.
"Lalu dibuat jalan tengah \'the third way\'\', itulah sosialis yang cirinya sederhana, buruh pabrik boleh memiliki saham pabrik, jadi tidak dikuasai pemilik modal," kata dia.
Mantan aktivis 98 itu menegaskan bahwa perkembangan ideologi akan terus berkembang. Maka dia meminta semua pihak membiarkan mahasiswa atau kalangan muda membaca buku apapun.
Menurutnya, apabila mahasiswa tidak bisa berpikir atas apa yang dibaca olehnya, maka kegagalan ada dalam sistem pendidikan Tanah Air.
"Yang kasihan itu buku Franz Magnis Suseno, dirazia juga, karena di sampulnya ada gambar Karl Marx, padahal isi bukunya mengkritik komunisme," kata dia.
"Ini kan menjadi suatu tragedi, padahal orang bilang lawan buku dengan buku, lawan tulisan dengan tulisan, lawan kata dengan kata. Di zaman orba kata-kata dilawan dengan senjata," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Banjir kembali merendam 13 desa di tujuh kecamatan Aceh Tenggara. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa terdampak.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pemkab Sleman dan Klaten menyepakati pembagian PBJT Candi Prambanan untuk mengoptimalkan PAD dan pengembangan kawasan wisata.
Lomba menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo batal mendadak. Peserta kecewa karena sudah datang dan menyiapkan penampilan.
Biaya Haji 2027 berpotensi naik. Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf menyebut kenaikan harga avtur dan situasi geopolitik jadi pertimbangan.