Mantan Siswa SMAN 8 Jogja Diundang ke Markas Google & Ingin Buat Tol Digital

Christopher Farrel Millenio Kusuma
16 Oktober 2018 13:25 WIB Holy Kartika Nurwigati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berawal dari keinginan memperkecil ukuran gim, Christopher Farrel Millenio Kusuma berhasil menemukan modern-craft data compressor saat masih duduk di bangku kelas II SMAN 8 Jogja. Remaja 18 tahun ini diundang ke markas Google dan bermimpi untuk membangun tol digital melalui kompresor data yang dilabelinya dengan nama Kecilin. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Holy Kartika N.S.

Farrel cenderung introvert. Sejak kecil, dia lebih senang menghabiskan waktu memainkan gim dan komputer di kala senggang dari tugas-tugas sekolah atau saat pakansi.

Dia pernah dibuat gemas karena tak bisa mengunduh gim dengan ukuran 16 gigabita. Kuota data internetnya sedikit dan perangkat keras penyimpan file miliknya hanya enam gigabita. Padahal, Farrel sangat ingin memainkan gim itu untuk mengisi libur panjang sekolah.

“Dari situ saya terpicu ingin membuat data compressor,” ujar Farrel saat ditemui di rumahnya di Perumahan Kaliurang Pratama, Ngaglik, Sleman, belum lama ini.

Memanfaatkan mesin pencari Google, Farrel sempat menemukan gim tersebut dalam versi RAR dan ZIP. Namun, ukuran yang sudah dikompres ke dalam file masih terlampau gede.

Alih-alih mencari software lain, Farrel justru menemukan info bahwa pengembangan terakhir dari software RAR dan ZIP hanya sampai 1999. Selama 17 tahun, tidak ada lagi pengembangan baru dari kedua bentuk data compressor tersebut. Algoritma software tersebut juga sudah mentok.

“Kebetulan saya belajar tentang machine learning. Dari situ kepikiran, bisa tidak machine learning yang saya pelajari ini mengembangkan teknologi kompresor data. Akhirnya selama percobaan pertama saya bisa memperkecil file sampai 20 persen, lalu dikembangkan lagi hingga bisa memperkecil file dari 16 giga menjadi 17 megabita,” ujar Farrel.

Sejak saat itu, Farrel makin serius memperkenalkan riset dari perangkat yang dikembangkannya. Dia ikut berbagai kompetisi dan gagal 11 kali. Dia tak menyerah. Data Compression Using Neural Network and Evolution Genetic for Lossless Data yang diunggahnya ke situs internet menarik perhatian Google.

Pada Februari 2017 lalu, Farrel diundang ke markas Google di California, Amerika Serikat.

“Di Google saya dapat masukan dari banyak ahli, yang akhirnya menjadi titik balik saya untuk mengembangkan teknologi kompresi. Beberapa ahli dari Google bahkan bilang, kompresi ini suatu temuan yang luar biasa, karena sekarang ini orang cenderung menyimpan file dalam bentuk digital, dari situ saya terpacu lagi untuk mengembangkannya.”

Akhirnya, pada awal 2018, dengan nama Kecilin, software itu kemudian diikutsertakan dalam sebuah kompetisi yang digelar perusahaan BUMN.

Tol Digital

Selepas lulus dari sekolah menengah atas, Farrel prihatin akan terbatasnya akses internet dan informasi di beberapa wilayah terpencil di Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah membangun akses dan infrastruktur di daerah terpencil.

“Ketika Presiden Joko Widodo gencar membangun infrastruktur jalan tol di daerah terpencil, saya ingin membangun tol digitalnya,” ujar anak tunggal pasangan Monovan Sakti Jaya Kusuma dan Hening Budi Prabawati ini.

Bahkan untuk mewujudkan impiannya, Farrel mundur kuliah, tak lama setelah diterima di salah satu fakultas di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sejalan dengan berkembangnya startup yang disokong perusahaan-perusahaan besar, Farrel terus memoles Kecilin.

Dia mengharapkan platform yang bergerak di bidang edukasi digital, e-commerce hingga platform digital lainnya bisa memanfaatkan teknologi Kecilin untuk memasarkan dan memperluas produknya. Farrel cukup optimistis karena setelah melalui berbagai riset, teknologi kompresor Kecilin mampu membuat gim ukuran 16 gigabita menjadi empat megabita saja.

“Misi saya lewat Kecilin, jika semua akses informasi tersebut bisa dikompresi menjadi lebih kecil, tanpa mengurangi resolusi asli dari file asli, hanya dengan jaringan sinyal 2G atau edge, mereka yang berada di daerah terpencil tetap bisa mengakses semua itu,” kata remaja kelahiran Jogja, 1 Januari 2000 itu.

Dia sedang mengurus hak paten dari alogaritma Kecilin. Teknologi yang dibuatnya tersebut tergolong sederhana, tetapi masih gres dan memberikan manfaat besar bagi dunia digital di masa yang akan datang.

Kini Farrel mengembangkan Kecilin di Jakarta sembari merancang inovasi teknologi kompresi back up data otomatis.

“Saya juga ingin mencoba mengembangkan daerah quantum machine learning. Teknologinya tidak dikembangkan menggunakan sistem komputasi biasa, tetapi komputasi kuantum. Nanti teknologi kompresinya akan lebih cepat dan lebih kecil sehingga saat mentransfer file tidak lagi perlu kuota,” ucap Farrel.