Warga Jogja Dinilai Belum Siap Sambut Bandara Baru

Penumpang turun dari pesawat dan menuju bus apron. - Ist
11 Agustus 2018 11:37 WIB I Ketut Sawitra Mustika News Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Pemerintah daerah dan masyarakat dinilai belum siap menyambut kehadiran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Jika tidak segera dipersiapkan, bandara baru ditakutkan akan menghadirkan wilayah kumuh. Selain itu, masyarakat juga tidak bisa menerima manfaat secara maksimal.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Budi Wibowo mengaku selalu takut saat melihat Detail Engineering Design (DED) NYIA. Sebab, setelah bandara baru selesai dibangun, di sana juga akan didirikan aerocity, aerotropolis center, aerotropolis east dan lain-lain. Jika DED NYIA di perbesar, maka akan muncul daerah yang sangat metropolitan.

"Tetapi menjadi prihatin ketika melihat kesiapan kita, pemda dan masyarakat siap enggak untuk itu? Karena sampai hari ini saya enggak ngerti RDTR [rencana detail tata ruang Kulonprogo] sudah jadi belum? Kalau hingga saat ini belum jadi? karena rencananya 2019 sudah melayani penerbangan internasional, yang lokal di Adisucipto, itu akan terjadi wilayah kumuh," jelas Budi saat menjadi pembicara dalam seminar 'Peran DPD RI DIY Dalam Percepatan Pembangunan Daerah Sektor Pariwisata dan Infrastruktur', Kamis (9/7/2018).

Seperti diketahui, pada April 2019, NYIA rencananya sudah bisa beroperasi secara terbatas. Beberapa waktu lalu, Presiden Direktur PT. PP Lukman Hidayat memperkirakan, pada April runaway NYIA sudah selesai 90%. Sedangkan gedung terminal ditarget rampung 30%. Dengan demikian, pada bulan itu bandara baru sudah bisa didarati pesawat.

Selain masalah RDTR, Ia juga menyinggung mengenai peluang ekonomi yang belum disambut dengan gegap gempita. Ia menyatakan, hadirnya NYIA merupakan tantangan bagi Pemda DIY dan masyarakat, sebab dengan beroperasinya NYIA, pasar ekspor akan terbuka lebar. Tapi, sejauh ini langkah-langkah untuk menyambut peluang tersebut belum mulai muncul.

Karena itu, para birokrat, sambung Budi, mesti memberikan pelatihan implementatif kepada masyarakat agar produk yang dihasilkan bisa laku di pasar internasional. Ia menyebut quality control produk DIY harus bisa bersaing di pasar global.

"Sementara ini kan hanya koyo adate, ya enggak bisa. Jadi harus segera ini. yang kedua masyarakat juga harus bergerak, jangan sampai di DIY justru tidak responsif terhadap multiplier effect dari NYIA. Jangan-jangan nanti malah masyarakat luar yang responsif. Ini kan malah kita yang rugi, karena akhirnya masyarakat kita yang jadi penonton, bukan pelaku," tambah Budi.

Terkait hal itu, Budi mengatakan akan segera berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait agar lebih peduli terhadap perkembangan yang terus terjadi. "Jadi mari kita latih mereka, kita dekatkan dengan eksportir. Kalau ada kesulitan dana, kan ada danais [dana keistimewaan]."

Anggota Komisi D DPRD DIY Hamam Mutaqin juga menyatakan, Pemda DIY harus mengambil langkah-langkah persiapan untuk menyambut NYIA. Jika itu tidak dilakukan, ia khawatir masyarakat hanya akan jadi penonton. "Jangan sampai nanti ada kata enggak siap dan kurang terampil," ujarnya beberapa waktu lalu.